"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak" (Ar-Rahman: 37)





















Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi Muhammad ibn Abd Allah Salla Allahu ’alayhi wa alihi wa sallam
(2) Abu Bakr as-Siddiq radiya-l-Lahu ’anh
(3) Salman al-Farsi radiya-l-Lahu ’anh
(4) Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr qaddasa-l-Lahu sirrah
(5) Ja’far as-Sadiq alayhi-s-salam
(6) Tayfur Abu Yazid al-Bistami radiya-l-Lahu ’anh
(7) Abul Hassan ’Ali al-Kharqani qaddasa-l-Lahu sirrah
(8) Abu ’Ali al-Farmadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(9) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani qaddasa-l-Lahu sirrah
(10) Abul Abbas al-Khidr alayhi-s-salam
(11) Abdul Khaliq al-Ghujdawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(12) ’Arif ar-Riwakri qaddasa-l-Lahu sirrah
(13) Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(14) ’Ali ar-Ramitani qaddasa-l-Lahu sirrah
(15) Muhammad Baba as-Samasi qaddasa-l-Lahu sirrah
(16) as-Sayyid Amir Kulal qaddasa-l-Lahu sirrah
(17) Muhammad Bahaa’uddin Shah Naqshband qaddasa-l-Lahu sirrah
(18) ‘Ala’uddin al-Bukhari al-Attar qaddasa-l-Lahu sirrah
(19) Ya’quub al-Charkhi qaddasa-l-Lahu sirrah
(20) Ubaydullah al-Ahrar qaddasa-l-Lahu sirrah
(21) Muhammad az-Zahid qaddasa-l-Lahu sirrah
(22) Darwish Muhammad qaddasa-l-Lahu sirrah
(23) Muhammad Khwaja al-Amkanaki qaddasa-l-Lahu sirrah
(24) Muhammad al-Baqi bi-l-Lah qaddasa-l-Lahu sirrah
(25) Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qaddasa-l-Lahu sirrah
(26) Muhammad al-Ma’sum qaddasa-l-Lahu sirrah
(27) Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi qaddasa-l-Lahu sirrah
(28) as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(29) Shamsuddin Habib Allah qaddasa-l-Lahu sirrah
(30) ‘Abdullah ad-Dahlawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(31) Syekh Khalid al-Baghdadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(32) Syekh Ismaa’il Muhammad ash-Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(33) Khas Muhammad Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraghi qaddasa-l-Lahu sirrah
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni qaddasa-l-Lahu sirrah
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri qaddasa-l-Lahu sirrah
(37) Abuu Muhammad al-Madanii qaddasa-l-Lahu sirrah
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani qaddasa-l-Lahu sirrah

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman Sayyidanaa Mahdi Alaihis Salaam 
wa yaa Shahibal `Unshur Sayyidanaa Khidr Alaihis Salaam

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, ahsa nahdha bi-fadhlillah .
Al-Faatihah













































Mawlana Shaykh Qabbani

www.nurmuhammad.com |

 As-Sayed Nurjan MirAhmadi

 

 

 
NEW info Kunjungan Syekh Hisyam Kabbani ke Indonesia

More Mawlana's Visitting











Durood / Salawat Shareef Collection

More...
Attach...
Audio...
Info...
Academy...
أفضل الصلوات على سيد السادات للنبهاني.doc.rar (Download Afdhal Al Shalawat ala Sayyid Al Saadah)
كنوز الاسرار فى الصلاة على النبي المختار وعلى آله الأبرار.rar (Download Kunuz Al Asror)
كيفية الوصول لرؤية سيدنا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم (Download Kaifiyyah Al Wushul li ru'yah Al Rasul)
Download Dalail Khayrat in pdf





















C E R M I N * R A H S A * E L I N G * W A S P A D A

Jumat, 26 September 2008

Martabat Tujuh

Source :
http://gus7.wordpress.com/2008/04/29/
martabat-tujuh-dalam-suluk-sujinah-dan-serat-wirid-hidayat-jati/#more-51

http://gus7.wordpress.com/2008/04/29/
martabat-tujuh-dalam-suluk-sujinah-dan-serat-wirid-hidayat-jati-2/


MARTABAT TUJUH DALAM SULUK SUJINAH DAN SERAT WIRID HIDAYAT JATI

L.S. AHMAD
Dalam mencari ridhoNya, para sufi menggunakan jalan yang bermacam-macam. Baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan melalui kearifan, kecintaan dan tapa brata.

Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal. Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi,seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan keinsankamilan. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.

Dr. Simuh dalam Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati menyatakan; “Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjalinya Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber dari Al Qur’an. Sebab dalam Islam tak dikenal konsep bertajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluknya dengan Alijad Minal Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.”

Selanjutnya, konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan kerajaan Demak Bintara yang menguasai Pulau Jawa. Sedangkan awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh — terutama yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (…-1630) dan Abdul Rauf (1617-1690).

Lebih lanjut ditambahkan; “Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf kelihatan besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam Kejawen. Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di tanah Priangan. Ajaran tarekat Syatariyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.”

Sedangkan Buya Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak dibedakan atau dipisahkan antara asyik dengan masyuknya. Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Allah.

Dr. Simuh pun kembali menambahkan, dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam dua wujud. Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. “Tiga aspek batin terdiri dari Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak), Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan Martabat Wahadiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu). Sedangkan aspek lahir terdiri Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak), Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal), Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya) dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).

Menanggapi hal ini, Buya Hamka mengutip dari karya Ibnu Arabi yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiya fi Marifa Asrar al-Malakiya (589 H atau 1201 M), bahwa tajjalinya Allah Ta’ala yang pertama adalah dalam alam Uluhiyah. kemudian dari alam Uluhiyah mengalir alam Jabarut, Malakut, Mitsal, Ajsam, Arwah dan Insan Kamil — di mana yang dimaksud dengan alam Uluhiyah adalah alam yang terjadi dengan perintah Allah tanpa perantara.

Martabat Pertama, Ahadiyah

Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui). Disebut juga Al-Tanazzulat li ‘l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang), al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat), al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan), al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak), Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya zat), Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala zat), Majhul al N’at (zat yang tak dapat disifati), Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib), Wujud al-Mahad (wujud yang mutlak).

Dan berikut adalah nukilan dari terjemahan tingkat pertama yang disebut Martabat Ahadiyah dalam Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati.

Suluk Sujinah

Ada pengetahuan perihal tingkatan dalam kehidupan manusia, yang diceritakan dengan ajalollah dan dikenal dengan sebutan martabat tujuh, diawali dengan kegaiban. Zat yang membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, dan tanpa membeberkan tentang kenyataan (fisik), Keadaannya kosong namun dasarnya ada. Tapi dalam martabat ini belum berkehendak. Martabat Akadiyah disebut juga dengan Sarikul Adham. Awal dari segala awal.

Dalam alam ahadiyah dimulai dengan aksara La dan bersemayam ila. Itulah kekosongan pertama dari empat bentuk kekosongan. Kedua bernama Maslub. Ketiga adalah Tahlil, dan keempat Tasbeh. Maslub bermakna belum adanya bentuk atau wujud roh atau jiwa. Tak berbentuk badan atau wujud lainnya.

Tahlil berarti tak bermula dan tak berakhir. Sedangkan Tasbeh bermakna Tuhan Maha Suci dan Tunggal. Tuhan tak mendua atau bertiga. Tak ada Pangeran lain kecuali Allah yang disembah dan dipuja, yang asih pada makhluknya.

Serat Wiirid Hidayat Jati

Sajaratul Yakin tumbuh dalam alam adam makdum yang sunyi senyap azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa yang sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatu pun, adalah hakikat Zat Mutlak yang qadim. Zat yang pasti terdahulu, yaitu zat atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyah.

Di dalam Suluk Sujinah, tingkat pertama disebut dengan alam Ahadiyah, yaitu alam tentang tingkat keesaan-Nya. Keesaan-Nya agung, dan bukan obyek dari pengetahuan khusus mana pun dan karena itu tidak dapat dicapai oleh makhluk apa pun. Hanya Allah yang mengetahui diri-Nya dan keesaan-Nya.

Dalam keesaan-Nya tak ada sesuatu pun yang menguasai dan mengetahui kecuali diri-Nya. Firmannya adalah diri-Nya sendiri, begitu pun malaikat-Nya dan nabi-Nya. Allah dalam tingkatan ini berada pada kondisi al-Kamal, yaitu, dalam kesempurnaan-Nya.

Hakikat-Nya, keesaan-Nya adalah tempat berkumpulnya seluruh keragaman dan tenggelam atau lenyap dalam kesatuan-Nya. Dalam alam Ahadiyah keragaman dan kejamakan tersebut tidak dapat dipertentangkan dengan gagasan metafisis tentang tahapan atau tingkatan eksistensi.

Dalam tingkatan ini, Allah berada dalam kondisi Ghayb al-Ghuyub, yaitu, keberadaan-Nya yang gaib. Tuhan tak dapat diindrawi. Sebab Allah tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisik. Allah dalam keadaan yang tak berujud, yang tak dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab Ia masih dalam kesendirian-Nya. Allah belum menguraikan atau menciptakan sesuatu. Di dalam derajat ini, semua sifat umum kumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.

Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Allah adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhluk-makhluk lainnya yang mendahului. Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu yang bersifat agung. Zat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya yang tak dapat dipahami. Dalam sifat adam-Nya, hakikat-Nya tak dapat dipahami. Sebab awalnya adalah Ada dalam ketiadaan. Dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Hakikatnya di luar segala perumpamaan dan citraan yang memungkinkan.

Selanjutnya, alam Ahadiyah terbagi dalam empat tingkatan. Tahap pertama dikenal dengan kata La yang bersemayam di dalam kata illa. La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas-realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Allah. La dan illa menunjukan pada asal segala sesuatu yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada. Sedangkan pengertian illa juga menunjukan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian.

Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada Ilahi dan para makhluknya. Dengan demikian, Ad-Nya pertama menjadi tabu bagi adanya yang kedua. Pengetian La dan illa dalam masyarakat sufi memiliki tiga makna. Pertama, adalah tiada Tuhan melainkan Allah. Kedua adalah tiada Ma’bud melainkan Allah dan ketiga tiada maujud melainkan Allah. Pengertian pertama mengacu pada keberadaan pada kekuasaan-Nya. Yaitu penegasan tiada Tuhan yang pantas menjadi penguasa selain Allah yang Esa. Pengertian kedua, Allah adalah Zat yang wajib disembah sebab Allah bersifat disembah. Tiada penguasa yang wajib disembah selain Allah, Zat yang Maha Suci. Sedangkan pengertian ketiga, Allah adalah awal segala yang berwujud. Sebab Zat-Nya adalah wujud yang pertama dan tak berakhir.

Ketiga pengertian tersebut di atas adalah suatu kesatuan yang tak dapat dikaji secara terpisah. Sebab, segala bentuk yang maujud ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah Allah. Jadi, kalau yang ada ini semuanya dikatakan ada, artinya ada dalam Allah. Inilah konsep dasar dari Widhatul al-Wujud. Sementara, tingkatan kedua dari alam Ahadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu, tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Allah tak dapat digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun. Allah dalam keadaan Al-Ama, yaitu, tingkatan yang tak dapat diketahui. Allah dalam tingkatan ini hanya mempunyai hubungan murni dalam hakikat dan tanpa bentuk. Sedang tingkatan yang ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil. Pengertian Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa illaha. Tahlil pun bermakna suatu kondisi pemujaan Allah dengan pengucapan syahadat tentang persaksian akan keberadaan-Nya.

Dalam kalimah Syahadah yang diucapkan dengan niat bulat dan mengakui bahwa Allah berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan dari siapa pun, ia suci dan kaya. Kalimah Syahadah adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Allah yang menjadi pemimpin kehidupan, di samping itu, adanya pengakuan rasul Allah. Yaitu Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Selanjutnya, tingkat empat adalah Ahadiyah Tasbih, yang bermakna kemahaluasan Allah. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhhanallah, artinya, maha suci Allah dan mengingatkan serta menunjukan seluruh keyakinan untuk selalu mempersucikan-Nya.

Sedang pada Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajaratul Yakin. Yaitu sebagai lambang pohon kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Kajeng Sejati dan memiki makna pengertian tentang kehidupan atau hayyu.

Hayyu berarti atma, jiwa atau ruh. Dalam Sajaratul Yakin Allah adalah Wujud al-Sirf, kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati, namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat ke-ilahi-an). Ia merupakan hakikat zat mutlak dan qadim, yaitu, asal zat dari segala zat yang bersifat abadi. Zat-Nya tak ada dalam penguraian. Segala penguraian-Nya adalah bersifat negatif. Sebab Allah bersifat Makiyyah al Makiyyah, yaitu, inti dari segala zat yang ada di kemudian hari. Atmanya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan.

Zat ruh-Nya sesungguhnya adalah zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan Yang Mahasuci. Ruh-Nya adalah subyek absolut, di mana benda yang termasuk subyek individu hanyalah obyektivisasi-obyektivisasi ilusi. Sebab Allah adalah Kunh al-Dhat, asalnya zat terbentuk.

Di dalam kitabnya Daqiqul Akbar, Imam Abdurahman menuliskan, pada awal permulaan Allah menciptakan sebatang pohon kayu bercabang empat. Pohon kayu tersebut dikenal dengan Syajaratul Yakin. Dan Syajaratul Yakin tercipta dalam alam kesunyian yang bersifat qadim dan azali. Pengertian sunyi di sini bukan bermakna tak adanya sesuatu. Namun bermakna belum terciptanya alam, kecuali tajjali-Nya yang pertama dalam bentuk Syajaratul Yakin. Sedangkan pengertian qadim dan azali adalah wujud dari sifat-Nya yang terawal dan tak berakhir. Zat-Nya adalah terdahulu, tak ada sesuatu pun yang mendahului dan tak ada akhir karena masa.

Syajaratul yakin afdalah awal sifat-Nya. Dalam pohon kehidupan sifat-Nya yang menonjol adalah tentang hidup — hidup (al-Hayat) adalah sifat wajib yang ada pada Diri-Nya. Sebab sifat al-Hayat adalah qadim dan azali. Al-Hayat dalam segala martabat-Nya menjadi pangkal bagi segala macam kenyataan yang lahir dan kekal. karena hidup atau hayyu atau atma adalah subyek yang absolut, maka, hakikat atma atau hidup adalah mutlak yang qadim. Dan Allah adalah zat pertama dan sumber dari hidup itu sendiri. Diri-Nya adalah kekal bersamaan dengan kekalnya zat kehidupan.

Keduanya adalah ada dalam kemanunggalan. Zat-Nya yang al-Hayat adalah sumber munculnya perkara-perkara sifat wajib-Nya. Yaitu, ilmu, iradat, kalam dan baqa. Artinya, karena adanya ruh atau hayyu (al-Hayat), maka, muncul ilmu (pengetahuan). Timbulnya pengetahuan (al-ilm) menciptakan atau mengalirnya kehendak (iradat), dan firman-Nya. Dan ketiga sifat-Nya adalah kekal, baqa.

Sumber: Majalah Misteri, edisi 411, 5 Januari 2007


MARTABAT TUJUH DALAM SULUK SUJINAH DAN SERAT WIRID HIDAYAT JATI (2)
L.S. AHMAD

Martabat Ke dua, Martabat Wahdah

Martabat kedua, dari martabat tujuh adalah al-Wahdah, yaitu al-Ta’ayyun Awal. Tingkat perbedaan pertama, atau awal ada dalam tingkatan ini. Tegasnya mulai adanya batas perbedaan. Tetapi, walau ada tingkat perbedaan awal, namun Zat-Nya masih dalam keadaan universal yang masih menyatu dalam alam ketuhanan-Nya, yang disebut al-Martabah Ilahiyyah.

Hal tersebut di atas diiraikan dalam nukilan terjemahan Suluk Sujinah;

Dan martabat kedua adalah Wahdah. Nama-nama sifat yang awal diuraikan. Awalnya ruh yang akan menguraikan nama-nama roh yang wujudnya masih dalam bentuk hak. Dan Cahaya-Nya dinamakan Nur Muhammadiyah. Wujud ilmu dari nur adalah ibadah pengetahuan yang sejati. Pada tingkatan ini belum dapat diuraikan. Pengetahuan sejatinya adalah dalam tingkatan Wahdat. Namun, Pangeran, Allah dalam wujud yang jamak, namun diri-Nya adalah kehampaan. Tak ada Pangeran selain Allah, ia hanya Allah yang tunggal. Tunggal wujud-Nya. Dia yang memberikan penghidupan. Dia yang menjadikan sesuatu.

Sementara, menurut nukilan terjemahan Serat Wiirid Hidayat Jati;

Nur Muhammad yaitu cahaya yang terpuji. Diceritakan di dalam Hadist; rupanya seperti burung merak yang berada di dalam permata putih, dan berada dalam arah Syajaratul Yakin. Itulah hakikat cahaya yang diakui sebagai tajjalinya zat, berada dalam nukat gaib, merupakan sifat atma yang menjadi tempatnya alam Wahdah.

Sejatinya, ruh adalah pralambang pertama yang mendahului segala penciptaan-Nya. Ruh dalam tingkatan ini bersifat al-Ruh, yaitu ruh yang universal, atau ruh dalam kejamakan-Nya. Tuhan menciptakan hakikat Muhammadiyah ibarat penciptaan-Nya terhadap pena yang Agung, yaitu, al Qalam al-Ala. Dan menurut hadist, pertama kali wujud yang diciptakan Allah adalah ruh.

Di dalam tingkatan ini belum ada penguraian atau pembedaan zat. Zat-Nya adalah sifat kejamakan-Nya. Bahkan dalam ta-Ayyun awal-Nya, dikenal dengan empat hal yang tak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya, yaitu, ilmu, wujud, syuhud dan nur. Keempat hal tersebut merupakan satu kesatuan atau manunggal — karena dari ilmu-Nya, maka, alim dan mak’lum menjadi nyata. Karena wujud, maka, yang mengadakan dan yang diadakan menjadi nyata, dan syuhud, menjadikan yang melihat dan yang dilihat menjadi nyata. Sementara, karena cahaya-Nya, maka, yang menerangkan dan yang diterangkan menjadi nyata.

Dan keempat hal tersebut di atas adalah suatu perkembangan Allah dari hakikat yang tidak terinci lewat hakikat yang mempunyai sifat-sifat, dan pengetahuan-Nya disebut menuju perkembangan pengetahuan tentang berbagai rincian dari Ada-Nya Allah dalam karya-Nya yang disebut kenyataan ada-Nya Nur Muhammad.

Konsep adanya Nur Muhammad sebagai kenyataan karya Allah dalam tajjali-Nya yang pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Husin bin Mansur Al-Hallaj, kelahiran Parsi, yang kemudian menjadi tokoh sentral dalam pengembangan Wadhatul al-Wujud. Menurut Al-Hallaj, adanya alam pada mulanya ialah dari adanya hakikat Muhammadiyah atau Nur Muhammad. Nur Muhammad adalah asalnya zat yang Hadrah al-’Ama’iyyah yaitu hadrah yang tidak diketahui. Allah ada dalam kenisbian-Nya, atau, ada-Nya dalam ketiadaan.

Pada perkembangan selanjutnya, para sufi pun percaya bila nabi Muhammad memiliki dua rupa. Rupa pertama disebut dengan qadim dan yang kedua adalah ajali. Rupa qadim adalah ujud yang terawal dari adanya segala zat, ia tak terikat atau terpengaruh oleh masa. Dia telah terjadi sebelum terjadinya semua yang ada. Rupanya yang qadim itulah sumber terciptanya segala nabi-nabi, rasul-rasul dan aulia. Cahayanya menyinari segala kehidupan dan tak ada cahaya yang lebih terang dari pada Nur Muhammad.

Rupa kedua adalah bersifat Azali. Adalah rupa dari Muhammad yang berujud sebagai manusia yang terikat oleh masa dan mengalami pemunahan. Ia juga mengalami suka duka, kecewa dan bercita-cita serta bergaul dengan manusia lainnya.

Sementara, di dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Nur Muhammad adalah tajjali Allah yang kedua. Setelah Allah bertajjali dalam alam Ahadiyah, kemudian dijadikan Nur Muhammad. Nur tersebut terbuat dari permata putih yang bening dan berasal dari alam Jabarut. Adapun wujud dari nur tersebut bagaikan burung Merak. Setelah Tuhan menciptakan Nur Muhammad yang wujudnya bagaikan burung Merak, maka, diletakkan Merak tersebut di dahan pohon kehidupan yang disebut Syajaratul Yakin.

Nur Muhammad itu adalah bakal wajib dari segala kehidupan yang sifatnya masih gaib, pengertian gaib di sini adalah, belum dapat dilihat dengan indra sebab sifatnya dalam keadaan batin. Di samping itu, zat Nur Muhammad, masih dalam kesatuan yang manunggal dengan zat-Nya.

Dengan kata lain, Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad merupakan tajjali dari Hayyu — sebab sifat-sifat kehidupannya disinari dan berasal dari Hayyu (Syajaratul Yakin). Syajaratul atau pohon kehidupan (Hayyu), adalah sumber mengalirnya sifat-sifat hidup. Hayyu disebut juga dengan kuasa atma. Maka, Hayyu dijadikan sandaran hidup Nur Muhammad. Namun, keduanya saling mempengaruhi pada kehidupan, hal itu ditamsilkan dengan pohon tunjung dan air. Artinya, di mana ada tunjung tumbuh dan berkembang, maka, di situ pasti ada sumber air.

Dalam alam ini, sifat atmanya dalam bentuk kejamakan. Karena jamak, maka, di sini belum ada batas-batas pemisahan meski sudah adanya kenyataan-kenyataan yang awal yang disebut dengan ta’yun awal.

Martabat Ke tiga, Martabat Wahadiyah

Martabat ketiga di dalam Martabat tujuh adalah Wahadiyah yang biasa diungkapkan dengan kata-kata A’yan Thabitah (realitas-realitas terpendam). Dan alam ini juga disebut sebagai Hakikat Adam. Ma’lumat Ilahiyah (ketentuan yang bersifat ketuhanan), al-Ta’ayyun al-Thani (tingkatan perbedaan kedua), al-Ta’ayyunat al-Kuliyyah (realitas-realitas yang universal), al-Barzakh al-Sughra (batas antara kecil dan besar), al-Falakiyyah al-Uluwiyyah (kehidupan yang tertinggi), Zakir al-Wujud (zakir segala yang wujud), Hadrah al-Wujud (hadrah yang wujud), dan Zakir Ilm (ilmu zakir).

Pada martabat ini, Zat-Nya bertajjali lewat nama-nama-Nya yang dikenal dengan Asma ul’Husna di mana Tuhan mulai muncul dalam al-A’yan Thabitah atau realitas-realitas yang terpendam yang sudah tidak mengandung kejamakan. Dalam tahap ini, segala sesuatu yang terpendam sudah dibedakan dengan tegas dan terperinci, meskipun Zat-Nya belum muncul dalam wujud kenyataan.

Di dalam terjemahan Suluk Sujinah tersurat;

Tiada Tuhan selain Allah yang dikatakan sejati, tingkatannya berada dalam Wahadiyah, wujudnya mutlak, meski dalam kondisi kekosongan akan Diri-Nya. Allah dalam alam Wahadiyah mulai memperkenalkan nama-namanya. Kalimat yang luhur ditandai dengan kalimat sahadat, yaitu kalimah pengetahuan tentang Diri-Nya, di mana pengertian kalimatnya dibagi dua. Kalimat pertama adalah pengetahuan tentang hakikat Allah yang mencipta jagat raya. Sedangkan pengetahuan yang kedua adalah tentang Muhammad. Muhammad adalah panutan manusia. Muhammad sangat dicintai Allah. Dan keduanya telah menyatu dalam rasa yang tunggal.

Sementara Serat Wirid Hidayat Jati menyuratkan;

Miratul Haya’i, artinya kaca wara’i. Diceritakan di dalam Hadist, bila alam tersebut terdapat di depan Nur Muhammad. Itulah hakikat pramana, yang disebut rahsa zat, sebagai asmanya atma dan menjadi tempatnya alam wahadiyah.

Di dalam alam Wahadiyah, Allah dalam kesejatiannya yang dikenal dengan ucapan “tiada Tuhan selain Allah”. Persaksian keeksistensian-Nya adalah hal yang berada dalam kedudukan yang tertinggi. Wujud Tuhan masih dalam kekosongan yang mutlak, meski Allah sudah mulai memberikan pengetahuan lewat nama-namanya satu persatu.

Dalam kalimat persaksian tersebut, keluhuran-Nya terbagi dalam dua pengetahuan. Persaksian yang pertama mengandung Syahadah Tauhid, sedang yang kedua adalah syahadat Rasul. Pengertian syahadat Tauhid berbunyi; “Ashadu an la illaha illallah”, yang bermakna saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dan kalimat ini biasa juga disebut dengan kalimat Taqwa. Allah adalah al-Falakiyyah al-Huliyyah, yaitu, keeksistensiannya berada dalam tahap tertinggi. Ia adalah kehidupan yang tertinggi.

Sementara, menurut Serat Wirid Hidayat Jati, tajjali Allah yang ketiga adalah Mir’atul Haya’i yang tercipta dari alam Nur Muhammad. Maka, dalam alam Mir’atul Haya’i yang dipersamakan dengan pramana atau sir atau rahsa disebut juga sebagai tajjalinya dari alam Nur Muhammad.

Pengertian pramana atau sir adalah suatu zat yang berada dalam tubuh manusia. Zat tersebut tiada turut rasa sedih, susah, dan juga tidak turut makan dan minum atau segala kegiatan yang berwujud fisik. Makanan dan minuman utama pramana adalah dzikir, atau menciptakan rasa ingat kepada Allah dengan melakukan do’a-do’a atau hal-hal yang bersifat religius.

Sejatinya, fungsi utama pramana di dalam tunbuh adalah untuk menegakkan jasmani. Jadi, apabila pramana berpisah dengan tubuh, maka, tubuh akan menjadi lemah dan lemas, tiada berdaya apa-apa. Hal itu disebabkan karena pramana adalah rahsa zat, dan pramana mendapat hidup dari Nur Muhammad yang dijadikan sebagai perantaranya Hayyu.

Martabat Ke empat, Alam Arwah

Martabat yang ke empat dari Martabat tujuh adalah alam al-Arwah (alam ruh) yang hampa bagi manusia yang juga dinamakan sebagai alam al-Malakut al-adna (alam yang terdiri dari akal dan jiwa yang rendah), Awwal al-tanazzulat li’l-Dhat al-Mujarrad al-Basit (alam peninggalan terhadap kehampaan yang menengah), al-Martabat al-Imkaniyyah (martabat kekuatan). Dan alam ini juga biasa disebut sebagai alam al-Af’al (alam perbuatan Allah), al-Ta-thirat (alam kenyataan), alam Ghayb (alam gaib), alam al-Amr (alam yang diciptakan Allah tanpa perantara), al-Ashya al-Kawiyyah (segala sesuatu di alam semesta).

Hal tersebut di atas, tersurat dengan apik di dalam Suluk Sujinah;

Hakiki alam arwah dimulai dengan wujud nurani yang disebut af’al, yang sifatnya kudrat kuasa. Zat Nur Muhammad yang agung mendahului nama dan penciptaan arwah. Nur Muhammad juga dinamakan rasa. Hakikatnya adalah Rasul Allah, yang sudah menyatu, tunggal.

Yang mana hakiki Muhammad. Ketahuilah oleh kamu dengan jelas, bahwa nama Muhammad adalah ada dalam kesatuan atau ketunggulan dengan Allah.

Itulah hakikat yang sesungguhnya, dan kemudian bernama Nabi Muhammad. Mengenai kejadian terbentuknya Nur Muhammad hendaknya dimengerti yang ujud, khayal dan hak. Jangan sembrono.

Sedang Serat Wirid Hidayat Jati menyuratkan;

Ruh Idlafi; artinya nyawa yang jernih. Diceritakan dalam Hadist berasal dari Nur Muhammad. Itulah hakikat suksma yang dakui keadaan Zat, yang merupakan af’al atma, menjadi tempatnya alam Arwah.

Dalam martabat ini ditandai dengan keberadaan al-Arwah dalam bentuk jamak. Sejatinya, semua ruh dibentuk dan berasal dari alam al-Arwah. Alam al-Arwah yang berujud nurani adalah alam yang diciptakan oleh Allah tanpa perantara. Allah menciptakan melalui perbuatan-Nya sendiri yang disebut dengan Af’al — Allah menciptakan al-Arwah dari uap pilihan yang bersumber dari Jauhar. Di samping itu al-Arwah dibentuk oleh nur, sifat kebakaan, hayat, ilmu, dan dari alam Uluwwi.

Tentang alam al-Arwah, tak ada sesuatu yang mengetahui keberadaannya. Kerahasiaan dan keberadaan alam al-Arwah hanya Tuhan yang bisa menyingkap tabirnya. Sebab jika tidak dirahasiakan, maka, sujudlah semua kafir kepada-Nya, karena semua makhluk hidup yang ada berasal dari alam Uluwwi yang hakikatnya adalah murni. Dengan kata lain, al-Arwah berasal dari Zat Hakk Ta’ala.

Tegasnya, pengertian alam ruh al-Arwah karena semua arwah terjadi dari padanya di mana wujudnya masih dalam bentuk kejamakan. Dalam alam ini belum ada individuasi kehidupan bagi makhluk. Oleh karena itu, segala bentuk kehidupan, baik malaikat, manusia, hewan dan tumbuhan berasal dari alam al-Arwah.

Di dalam sifat al-Arwah yang digolongkan dalam empat kelompok, yakni, Namiya, Mutaharrika, Natika dan Ruh Kudus. Ruh Namiya adalah membentuk kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pekerjaannya memelihara dan menumbuhkan, sedang Ruh Mutaharrika yang kelak bersemayam dalam diri manusia dan hewan. Sedang Ruh Mutaharikka juga disebut sebagai ruh hewani, sebab semua hewan bergerak karenanya. Sementara, Ruh Natika yang disebut juga sebagai ruh insani adalah pencipta dan penggerak kehidupan manusia — Ruh Natika berasal dari alam Amr, tempat asalnya ruh dan nafsu yang merupakan pralambang dari Adam dan Hawa.

Sedang yang disebut dengan Ruh Kudus yaitu Faid nur zat Allah. Ruh di mana merupakan penggerakl bagi semua nabi dan rasul yang bersifat mu’jizat dan keramat; mereka faham akan semua ma’ani dan batin. Dan kesemuanya ini dari la’thir ruh Kudus. Disebut fa’id nur zat Allah karena ruh tersebut terbuat dari cahaya pilihan, maka manusia-manusia tersebut faham dan mengetahui berbagai hal yang tersembunyi, yang bersifat batin sebab jiwanya tak terpengaruh atau terbebas dari hal-hal yang bersifat batil.

Alam al-Arwah terbentuk dari Tajjali dan penyinaran dari Nur Muhammad dari zat ilahi. Dalam alam kabir tersebut, alam besar, Nur Muhammad menenrangi segala alam dan nur tersebut semua makhluk Allah hidup dan bergerak. Nur tersebut meliputi alam, tiada satu daerah pun yang tidak dilingkarinya. Ia yang memelihara alam dan melingkarinya. Nur Muhammad yang juga hakikat rasa, adalah wali Allah, dan keduanya tak dapat dipisahkan. Keduanya dalam bentuk nama yang berbeda, namun, hakikatnya adalah kesatuan-Nya. Keduanya ada dalam kesatuan.

Alam al-Arwah adalah Haakk Taala dengan sifat-sifatnya. Sekalian alam itu A’rad (kejadian-kejadian atau penciptaan-penciptaan), yang terhimpun pada Zatnya yang Esa. Oleh sebab itu, al-Arwah mempunyai sifat-sifat Allah, seperti mendengar, melihat, mengerti, berkehendak dan baka.

Alam al-Arwah disebut juga alam kejiwaan, yaitu, tempatnya jiwa dan nyawa berkumpul dalam wujud kesatuan sebelum manusia menjelma ke dunia. Dalam alam al-Arwah itulah kita mengikat janji dengan Allah dan mengakui bahwa Dia-lah Allah yang disembah. Tiada yang lainnya! Sedang pengertian majaji, adalah pralambang dari sifat yang metaforis. Dengan kata lain, majaji dipakai untuk menunjukkan ada-Nya yang Ada yaitu ada-Nya yang ilahi. Atau, sebagai simbol adanya makhluk sudah menunjukkan adanya Khalik sebagai pencipta — sebab, makhluk muncul dari adanya yang mengalir, yaitu Zat-Nya yang Ada sebelum zat yang lain ada.

Oleh karena itu, pengertian umum dari konsep majaji bermakna dua. Pertama, adalah penunjukkan pada sang pencipta, sebagai bukti Allah menciptakan alam Arwah sebagai petunjuk akan keberadaan-Nya. Sedangkan pengertian kedua adalah hal-hal yang diciptakan-Nya, yaitu, makhluk-makhluk-Nya yang merupakan lambang atau simbol dari kekuasaan-Nya.

Di dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Ruh Idlafi adalah tajjali Allah yang keempat. Setelah bertajjali dalam alam Mir’atul Haya’i, kemudian bertajjali dalam bentuk Ruh Idlafi. Ruh Idlafi disebut juga tajjali dari pramana atau sir. Hal itu disebabkan Ruh Idlafi mendapatkan sinar dari kuasa rahsa atau pramana — sedang letaknya di luar lingkaran pramana. Dalam martabat tujuh, Ruh Idlafi dipersamakan dengan alam al-Arwah, wujud kejamakan ruh. Di mana hakikat Ruh Idlafi atau al-Arwah tiada satu pun makhluk yang mentetahui, kecuali Allah yang Khalik. Oleh karena itu, Ruh Idlafi juga disebut sebagai nyawa atau suksma — dan disebut Ruh Idlafi karena ia berhadapan dengan Hak Taa’ala. Ruh Idlafi juga sama dengan ruh utusan, ruh yang pancarannya bagaikan mutiara dan menyinari segala hidup dan kehidupan di dunia. Ruh Idlafi merajai segala sesuatu yang nampak dan sinar-sinarnya menerangi semesta alam, dan bidang-bidang kenisbian.

Martabat Ke lima, Alam Mitsal

Martabat ke lima dari martabat tujuh adalah alam al-Mithal (alam bentuk), yang diungkapkan sebagai awal Misal begi bentuk zat yang disucikan dengan makna al-Surah al-Thaniyyah (gambaran kedua) dari al-Tanazzulat li’l Dhat (peninggalan bagi zat), Surah Jami al-ashya al-Kawaniyyah (gambaran segala sesuatu di alam semesta), Surah al-Rahman (bentuk Rahman), Surah al-Haq (bentuk hak), Surah al-Illah (bentuk Ilahi), Surah al-Wujud al Ilahi (bentuk wujud Ilahi), Surah al-Shu’un (bentuk keadaan), Surah al Ula al Zahirah al-Asma (bentuk utama zahir nama-nama).

Di dalam terjemahan Suluk Sujinah, ajaran martabat tujuh tersebut dapat dilihat pada berikut ini:

Tersebutlah alam bertingkat Mitsal, wujud adam terjadinya alam jagad raya yang bersifat kalam, meski pengucap dan pencium, pendengaran dan penglihatan belum terbentuk semuanya. Calon terbentuknya, cerminan mulut, wujud mata, rasa kuping, dan penciuman yang berada dalam hidung.

Sementara, dalam Serat Wirid Hidayat Jati disuratkan:

Kandil: artinya lampu tanpa api, diceritakan dalam Hadist berupa permata yang cahayanya berkilauan, tergantung tanpa kaitan, itulah keadaan Nur Muhammad, dan tempatnya semua ruh. Adalah hakikat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Zat, yang menjadi bingkai atma dan menkjadi tempatnya alam Mitsal.

Alam Mitsal adalah alam perencanaan tentang perkembangan manusia, di mana tiap diri insan ada di dalam ilmu Allah. Alam ini adalah alam ide dan merupakan perbatasan antara alam Arwah dan alam jisim. Dan alam Mitsal adalah sebagai awal wujud fisik manusia dan makhluk lainnya. Walau keadaannya sudah mempunyai sifat, bentuk dan warna, tetapi belum bisa dikenali baik secara batin maupun lahir.

Pada Serat Wirid Hidayat Jati, Kandil, adalah tajjali Allah yang ke lima. Setelah Allah bertajjali dalam alam Ruh Idlafi, kemudian bertajjali dalam alam Kandil yang dalam kata bahasa mempunyai arti lampu. Uraian di atas, angan-angan diibaratkan sebagai Kandil atau lampu yang tergantung tanpa kaitan. Yang bila dipersamakan dengan aajaran martabat tujuh, Kandil digambarkan sebagai alam Mitsal — nafsu atau kandil merupakan tajjalinya ruh karena menerima sinar dari suksma atau Ruh Idlafi.

Kandil juga digambarkan sebagai api yang berkobar di tengah lautan, artinya, suatu keajaiban bila api dapat menyala di tengah-tengah lautan. Oleh karena itu, dalam martabat ini disebut Ayan Mukawiyah, karena telah benar hidup keadaannya. Dan Nafsu atau Kandil bermakna angkara yang terletak di luar suksma.

Martabat Ke enam, Alam Ajsam

Martabat ke enam adalah Alam Ajsam, atau alam jasmani. Alam ini juga disebut sebagai bagian dari al-Tanazzulat li’l-Dhat (peninggalan bagi zat), Alam al-Mahsus (alam rasa), Akhir al-Tanazzulat li’l Dhat (akhir peninggalan bagi zat), yaitu, Alam al-Sufliyyah (alam dunia), al-Anam (manusia), al-Ajsam (jasmani), al-Shahadah (nyata), al-khalq (manusia), al-Zahir (lahir), al-Kashit (alam terbuka), al-Ajram (tubuh), al-Majsum (terkungkung), al-Mahsusat (alam rasa).

Di dalam terjemahan Suluk Sujinah ajaran martabat tujuh yang ke enam dapat dilihat pada nukilan di bawah ini:

Alam Acesan wujudnya itu dipenuhi badan halus semuanya. Tidak ada batasnya. Itu dasar sifatnya. Memang begitu kenyataannya yang disebut jisim nama wujud. Alam ini masih dalam keadaan gaib. Belum lahir wujudnya. Dan setelah lahir disebut dengan Insan Kamil. Itulah namanya Rasul Allah.

Sementara, terjemahan Serat Wirid Hidayat Jati menyuratkan;

Dharah artinya permata. Tersebut dalam Hadist punya sinar beraneka warna, kesemuanya ditempati malaikat. Itulah hakikat budi, yang diakui sebagai perhiasan Zat. Dan merupakan pintu atma. Dharah menjadi tempatnya alam Ajsam.

Pada Suluk Sujinah, alam Acesan adalah tajjali Allah yang ke enam, yang di dalam martabat tujuh alam Acesan dipersamakan dengan ajaran alam Ajsam. Alam ini adalah tajjalinya dari alam Mitsal. Wujud alam Acesan berbentuk segi empat yang dihuni oleh jasmani dalam bentuk halus — alam tersebut teramat luas, sehingga tak diketahui di mana batas-batasnya. Dan yang mengetahui luas serta batas-batasnya hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui.

Meski wujudnya dalam keadaan gaib, tetapi, alam ini sudah menampakkan bentuk lahir yang ke tiga, yaitu, wujud yang sudah dapat diindra. Sebab, dasar sifatnya adalah jisim, atau, tubuh dalam bentuk wadag.

Sedang Serat Suluk Hidayat Jati menyebutkan bahwa tajjali Allah yang ke enam disebut dengan Dharah yang memiliki pengertian atau arti permata. Diceritakan, bahwa permata tersebut mengeluarkan cahaya atau sinar yang beraneka warna, di mana, setiap warnanya ditempati oleh malaikat yang menjaga pancaran dari sinar tersebut. Dan disebutkan juga bahwasanya bila hakikat dari Dharah adalah budi, di mana budi dijadikan sebagai perhiasan zat.

Martabat Ke tujuh, Alam Insan Kamil

Martabat ke tujuh adalah Alam Insan Kamil, alam manusia dalam kesempurnaannya. Alam ini disebut juga sebagai Akhir al-Tanazzulat (akhir peninggalan), Khatim al-Mawjudat (puncak dari segala yang ada) atau gabungan lahir dan batin, al-Khamsah al-Muhit, yaitu, terbentuknya alam, segala yang bersifat rohani, jasmani dan benda tak bernyawa. Di dalam alam ini, Insan Kamil adalah wakil Allah di bumi guna mengelola alam beserta dengan segala isinya. Ia juga bergelar sebagai khalifah di bumi.

Ajaran Insan Kami di dalam martabat tujuh ini bisa disimak di dalam terjemahan Suluk Sujinah di bawah ini:

Sifat yang terlihat berujud manusia. Wujudnya juga yang bernama mukinat (makanah), yaitu dalam wujud yang berada di martabat ini. Selesailah penjelasan tentang martabat, dan jumlahnya adalah itu (tujuh). Semua orang wajib mengerti dan mengetahui. Jika tak mengerti, maka orang itu tergolong kafir, dan belum mengerti sahadat.

Sedang terjemahan Serat Wirid Hidayat Jati menyuratkan:

Hijab: disebut dinding jalal, artinya, tabir yang agung, Diceritakan dalam Hadist timbul dari permata yang beraneka warna, pada waktu gerak menimbulkan buih asap, dan air. Itulah hakikat jasad, merupakan tempat atma, menjadi tempatnya alam Insan Kamil.

Dalam Insan kamil, Allah menemukan manifestasi-Nya yang definitif dan sempurna, sebaliknya, dalam Insan Kamil itu dunia yang ke luar dari Allah menurut garis emanasi yang menurun, dan naik kembali ke Allah. Insan Kamil (manusia sempurna) adalah merupakan pusat semesta alam serta titik pertemuan antara Allah dan dunia sebagaimana contoh yang diperagakan dalam garis lurus berikut ini;

Allah

!

!

Ahadiyah

!

!

Wahdah

!

!

Wahadiyah

!

!

Alam Arwah

!

!

Alam Mitsal

!

!

Alam Ajsam

!

!

Alam Insan Kamil

Berdasarkan uraian di atas, maka, manusia yang sempurna merupakan ulangan atau perkalian numerik mengenai Akal Awal — karena akal itupun merupakan akibat dari materi Awal yang diterangi oleh cahaya Allah. Tak pelak, oleh Ibn Arabi, Akal Awal itu dinamakan sebagai manusia Universal Agung. Yaitu, wujud yang telah mencapai kesempurnaan dengan melalui tujuh tingkatan.

Demikian sekelumit sajian Martabat Tujuh yang diangkat dari Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati. Sudah barang tentu, semuanya tak luput dari kekurangan, maka, akan terasa lebih sempurna bila ada tulisan-tulisan lain yang akan mampu menambah khasanah perbendaharaan ilmu kita dengan tujuan mencari ridho Allah semata. Semoga.

Sumber: Majalah Misteri, edisi 412, 20 Januari 2007



Source :
http://soulidaritas.wordpress.com/2008/01/19/bratasena-bertemu-sukma/

Bratasena Bertemu Sukma

Januari 19, 2008

Lautan itu diam, tenang. Duduk termangu Bratasena putra Pandu di tepinya. Sentuhan halus sang bayu menerpa wajahnya, Ia rasakan belaian suara dentum ombak, perciknya membuat separuh tubuhnya basah. Masih teringat jelas perintah gurunya Drona untuk mencari Tirtapawitra. Begitulah murid, ibarat kitab suci dan pembacanya. Murid diwajibkan menanamkan bakti, walau terkadang sangat sulit menjalankannya.

Begitu tegas terlintas di alam pikir Bratasena, bagaimana ia memporak-porandakan hutan Candradimuka. Dibongkarnya gunung kesadaran, dicabutnya pohon-pohon, angin besar bergemuruh menerbangkan bongkah-bongkah batu terpecah, mungkin menakutkan bagi orang yang ada disana. Tapi tak ia temukan juga yang namanya Tirtaparwita.

Dalam lamunan, tanpa disadari oleh Bratasena. Nun jauh disana sang Marbyudyengrat memandangnya dengan penuh iba. Beliau tahu betul tirta pawitra memang tak pernah ada, dan mustahil bisa ditemukan oleh manusia, dan makhluk lain dari jenis apapun. Dihampirinya Bratesena dan berkata-tanya,”Hai Bratasena, apa yang kau cari di tempat sesunyi dan sekosong ini?”
Terhenyak-kejut Bratesena, ia palingkan wajah kekiri-kanan, depan-belakang, tiba-tiba saja makhluk sekecil ibu jarinya ada di depan mata. “Siapakah kau ini?” ia tak menjawab dan balik bertanya.
“Ketahuilah Bratasena, akulah yang disebut Dewaruci, yang tahu segalanya tentang dirimu, yang keturunan hyang Guru dari hyang Brahma, kehadiranmu di sini atas perintah gurumu dahyang Dronauntuk mencari Tirtapawitra yang tak pernah ada”.

“Oh, dewa jagad batara, ampunilah hamba, manusia lancang tiada etika, tunjukkanlah cahaya utama di kegelapan bimbang dan ragu hamba, akupun tak tahu apa yang sedang ku cari karena wujudnya pun tak pernah tahu, bahkan aku pun sampai lupa siapa sebenarnya diriku kini”, memelas Bratasena dihadapan Dewaruci.
“Hanya ketiadaan di sini, sebuah keniscayaan mengharap wahyu suci nan tama [luhur], hanya kesia-sianlah mencari tanpa tahu tujuan, tanpa dasar, bakti membuta bisa menyesatkan” lanjut Dewaruci. “Oh dewa jagad batara, tahu hamba di mana salah, berbuat tanpa mengetahui sangkan paran”, hanya pada Mu lah aku berserah raga”.

“Jika demikian ucap katamu wujudkan kesungguhan mu, bersatulah dengan ku, masuklah ke dalam diriku !”, sang Dewaruci memberikan perintah. Bratasena terdiam seribu bahasa, tertegun dan seakan tak percaya. Dia berpikir bagaimana mungkin tubuhnya yang sebesar gunung Semeru, bisa masuk ke tubuh sekecil ibu jarinya.

Melihat Bratasena berkecamuk dalam kebimbangan, sang Dewaruci melanjutkan perkataannya,“Bratasena, jangan biarkan pikiran menguasai dirimu, Karena pikiran akan menjadikan penghalang, lepaskan dalam kasunyatan. Aku beri penjelasan, kamu tak ubahnya satu titik dalam semesta. Dan akulah semesta, semua alam yang ada bisa masuk dalam diriku”.

Mendengar ucapan sang Dewaruci, Bratasena tersentak dalam lamunan pikirannya. Saat itu juga hilanglah segala keraguan yang menguasai jiwa. “Wahai paduka, maafkan hamba manusia bodoh penuh nestapa, yang masih perlu petunjuk untuk menempuh jalan. Lewat manakah hamba harus memasuki tubuh paduka?”

“Masuklah kamu lewat kuping kiriku, dan ingat, katakanlah segala apa yang kamu lihat setelah masuk ke dalam tubuhku!” Sang Dewaruci memberi petunjuk. Secepat kilat Bratasena meloncat memasuki kuping kiri Dewaruci. Seakan masuk dalam sebuah pintu yang begitu lebar, baru beberapa tapak langkah ia saksikan samudera luas tanpa batas, tak tahu lagi arah, mana selatan, timur,barat dan utara. Dalam kebingungannya Bratasena mendengar suara, “ Jangan kamu takut, dan cemas, yakinlah dalam kebimbangan kamu akan temukan pertolongan dewata”. Suara itu seakan membimbingnya, suara itulah guru sejati yang tetap ada di saat seorang murid membutuhkan.

Tak lama kemudian, suara itu hilang, sang Dewaruci menampakkan diri. Bratasena melihatnya, karena hati dan tekadnya mantap pada sang guru sejati. Keyakinan hatinyalah, mengantarkan Bratasena menemukan arah, setelah itu tampak sinar terang memancar menerangi tubuhnya, disusul cahaya warna putih, hitam, kuning, dan merah. Semakin jauh Bratasena masuk dalam lingkaran cahaya, dia merasa terkejut tiba-tiba saja cahaya itu lenyap dan kini muncullah sorot cahaya delapan warna, ada ratna bercahaya, maya, terang menyala. Dan seperti sebelumnya cahaya itu kemudian menghilang. Rasa bingung sempat menghinggapi Bratasena, tapi ditekannya dalam-dalam. Kini tampaklah cahaya berwarna gading terang menyala berputar-putar dan lambat laun berbentuk boneka gading. Ada penasaran yang cukup besar dalam hatinya, karena ketidak mengertian segala apa yang telah dialami dan dilihatnya.

“Duh, dewa jagad batara, paduka katakan pada hamba untuk menceritakan segala apa yang aku lihat, dan apa arti dari semua cahaya itu, berikanlah segala kemurahan untuk menjelaskan pada hamba Mu yang bodoh ini!”

“Ketahuilah Bratasena, cahaya yang pertama kamu lihat itulah yang disebut sebagai Pancamaya, pembimbing manusia untuk mempunyai sifat mulia, cahaya itu terdiri dari lima warna seperti yang kau saksikan. Karena tempatnya yang ada di lubuk ‘hati’ [: makna rohani] maka Pancamaya adalah gambaran dari segala isi hati pembungkus dari wadag [badan],melambangkan lima indera [mata,hidung,kuping,lidah dan kulit]yang bisa memunculkan keinginan “baik dan buruk”. Sedangkan cahaya yang terdiri dari empat warna disebut warna hati, itulah nafsu yang selalu menyertai manusia.

Bratesena mendengar dengan seksama setiap wejangan kwaruh begja yang diberikan padanya. Melihat kesungguhan manusia di depannya, Sang Dewaruci melanjutkan bertutur, ”Bratasena anakku, setiap cahaya memiliki arti tersendiri, warna hitam adalah cahaya yang bisa membangkitkan rasa amarah, warna merah mendorong munculnya emosi pada manusia, warna kuning bisa mengakibatkan manusia memiliki rasa keinginan, dan warnah putih adalah warna yang bisa mengantarkan manusia menuju budi-nya. Kuasailah dan menangkanlah cahaya berwarna putih ini, dan apabila bisa kau kuasai, menjadikan mu waskita, menembus ruang-batas semesta. Tapi tentunya semua tidaklah mudah, Kamu harus mengalahkan ketiga warna cahaya, merah,hitam,dan kuning, karena cahaya itulah warana:[bhs jw: penghalang]”.

“Duh sanghyang kang murbeng dumadi, sedikit terceralah hamba, tapi apa maksud dari cahaya delapan warna, yang hamba lihat?” hilangkan haus – dahaga hamba !” Terlihat mimik Bratasena menghiba. Sejenak sang Dewaruci terdiam, perlahan bibir nya bergerak, dan melanjutkan wejangannya.

“Baiklah akan aku selesaikan penjelasanku pada mu, cahaya delapan warna itu tak lain dan tak bukan adalah kesejatian yang tunggal, keseluruhan dari isi semesta, ada dalam dirimu dan makhluk ciptaan lainnya. Tak adalah kemudian beda antara jagad cilik dan jagad gedhe [buana alit-buana agung]. Dan, cahaya terang berputar berwarna gading, berbentuk boneka menyerupai mu tak lain adalah sang pramana atau sang suksma,rasa sejati yang menghidupkan, dan merawat raga manusia, ia lepas dari rasa lapar dan kenyang, susah dan senang”.

Kepala Bratasena manggut-manggut, tapi dibalik itu, terlihat raut mukanya yang masih menyimpan rasa ingin tahu begitu dalam. Terlanjur basah, dia berpikir untuk mendapatkan pengetahuan selengkap-lengkapnya, ibaratkan mebaca buku dia harus bisa dapatkan epilognya. Sekali lagi, pertanyaan pun terlontar dari bagian tubuh yang bernama mulut.

“Jelaslah kini hamba, tapi apa yang dimaksud dengan rasa sejati? Bagaimanakah wujudnya? Maafkan atas kelancangan dan kebodohan hamba?” Sang Dewaruci tertegun mendengar pertanyaan Bratasena, tapi beliau memberikan apresiasi yang begitu dalam akan kesungguhan Bratasena untuk menemukan rasa sejati. Dan memang hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh mencarilah yang akan menemukan rasa sejati [jumbuhing kawula gusti}, seperti apa yang terungkap dalam Q.S, Al Isyiqaaq : 6,

…Hai manusia sesungguhnya kamu selalu bekerja keras menuju Tuhan mu, maka kamu akan menemuinya…

“Baiklah Bratasena, akan aku jelaskan padamu. zat sejati yang kamu cari itu tidak berbentuk, tidak terlihat,namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini. Zat sejati akan kamu temukan, setelah memahami segala sebab kegagalan dari laku – tirakat dan mampu untuk bertahan dari segala durgama [godaan]. Di saat itulah dengan sendirinya sang suksma akan datang menemui mu. Dan selanjutnya kamu akan hidup dengan sang sukma sejati. Tapi sekali lagi ingatlah Bratasena! Pengetahuan ini tidak untuk hanya sekedar tahu, ibarat mata memandang keindahan tanpa tahu kebesaran dan keagungan dibaliknya. Jalankan! Lakukan! Dan berbuatlah! Dan jangan di bicarakan saja, layaknya orang berebut kebenaran atas dasar akalnya”.

Wejangan pengetahuan Sang Dewaruci membuat Bratasena semakin kesengsem, tak ingin rasanya keluar dari suasana yang serba nikmat,damai tiada sedih,takut,sengsara, tak bisa lagi diungkapkan oleh kata-kata. “ Duh dewa, biarkan hamba tinggal ditempat ini, rasanya hamba tak ingin lagi keluar ke alam asal hamba” memelaslah Bratasena penuh harap.

“Wahai Bratasena, itu tidak boleh terjadi, iku tan kena, yen ora lan antaka: [bhs jawa: itu tak boleh terjadi, sebelum meninggal dunia]”, Dewaruci mengingatkan Bratasena, lebih lanjut beliau memberikan wedharan pengetahuan, sebelum akhirnya menyudahinya. Dipeluknya tubuh Bratasena, beliau bisikan rahasia dari segala rahsa. Laiknya bunga matahari merekah, harum bagai campaka, terpancarlah sinar terang di wajah Bratasena, tak ada keindahan dunia yang bisa dibandingkan dengan pancaran wajahnya. Dan tiba-tiba Secepat kilat menyambar, Bratasena sudah keluar dari tubuh Marbyudyengrat, sepi ditepi lautan. Sendiri dimana kali pertama ia berada, hanya nyanyian ombak, setianya sang bayu membelai wajah dan tubuhnya yang basah oleh rintik air lautan, Bratasena sudah di alam nyata. Ia langkahkan kaki menyusuri belantara kehidupan sebelum nantinya menuju jumbuhing kawula gusti [bersatunya manusia dengan Tuhannya], seperti pengetahuan yang telah di wedharkan [diajarkan]padanya.

Read more >>>>

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

NGUPADI HENINGE RATRI ANGGAYUH WENINGE ATI

Source :
http://sabdasudadi.wordpress.com/kejawen/

NGUPADI HENINGE RATRI ANGGAYUH WENINGE ATI

Dening: Sudadi*)



Wengi ditegesi beda-beda antarane wong siji lan sijine. Ana kang nganggep yen wengi iku padha karo peteng kang nyalawadi. Ing kamangka kahanan peteng rapet sesambungan karo laku durjana lan kadurakan. Ana sesebutan golongan peteng, laku peteng, lan uga lembu peteng. Jin setan priprayangan padha guyu latah-latah nggegodha janma uga jumedhul ing madyaning ratri kang wingit. Tan mokal yen akeh pawongan kang wedi metu ing wanci bengi.

Saperangan bebrayan ana kang negesi yen lakune wengi bakal jumujug ing kahanan sepi. Jare kandha sajrone wengi anane mung lali. Lali mring kasunyatan kang kita sumurupi ing alam padhang. Wengi nyata bakal nggawa kita urip ing alam impen kanggo nglelipur driya amrih bisa nglalekake sesanggan abote urip. Muhung aneng sajrone impen kuwi kita bisa njawab pitakonan-pitakonan kang ginembol medhosol ing sajrone ati. Iku ngono makna wengi tumrap wong-wong sing uripe isih sinangsaya mring kahanan. Beda karo wong-wong mulya sing nganggep yen wengi iku kudu dinikmati. Wengi iku kayadene alam kaswargan kang endah.

Njumenengi Ratri amrih Caket mring Gusti

Kang tinulis ing dhuwur iku nggambarake pinemune sebageyan wong ngenani wengi lan peteng. Mesthi wae ana maneh pinemu kang beda. Kabukten akeh uga kang menehi makna positif ngenani tekane wengi. Para ahli agama lan para warga bebrayan kang dhemen marsudi olah kridhane batin nganggep yen wengi iki kudu dijumenengi kanggo marga amrih caket mring Gusti sesembahane tumitah. Mugiya kawuningan yen tembung ‘ratri’ sing tegese ‘bengi’ iku asal muasale kanggo nyebut jenenge Dewi Ratri yaiku dewi kang nguwasani alam wengi manut kapercayan lan mitologi Hindhu.

Nadyan kanthi cara lan ritual sing beda-beda, para ahli agama lan kebatinan yakin yen wengi iku sa’at mirunggan kanggo ngadani laku amrih bisa cedhak ing ngarsa-Ne Gusti kang Maha Agung. Laku tirakatan ing candhi lan pura kita sumurupi ing tanah Bali nalika teka wanci purnama siddi. Kaya kang daksumurupi ing wulan Juli kepungkur nalika aku sanja ana papane mitraku ing Singaraja, dheweke semaya anggone ketemu aku muhung kepengin tirakatan ing candhi kang mapan adoh saka kutha Singaraja. Kajaba wengi purnama siddi kang kanggo tirakatan, uga ana wengi peteng ndhedhet kang sinebut Syiwaratri yaiku wengine Hyang Syiwa kanggo ngadani ritual manembah marang Dewa Syiwa.

Ing crita rakyat saka Blora kita tepung karo paraga kang aran Jati Kusuma lan Jati Swara (data disertasine Dr. Setya Yuwana Sudikan saka Unnesa, Surabaya). Pangeran Jati Kusuma lan Jati Swara iku asring disebut minangka cikal bakal desa Janjang, Jiken, Blora. Paraga loro kang kondhang sekti iki anggone laku prihatin kanthi cara kang wewalikan. Jati Kusuma tansah nyegah dhahar nanging kena nendra, suwalike Jati Swara kena nedha nanging ora kena sare. Gegambaran laku iku nuduhake lamun pangan iku lambang kanikmatane awan dene turu iku mujudake kanikmatan ing wanci wengi.

Nora beda karo kang wus sinebutake ing dhuwur, sajrone wulan Romadlon ummat Islam dilatih supaya bisa ngendhaleni dhiri marang nguja kanikmatan kang wujud mangan lan ngombe ing wanci awan uga ngurangi nendra ing wayah bengi saperlu bisa nindakake ibadah sunnah. Ana prastawa tekane lailatul qodar kang kita kabeh wus sumurup yen wengi iku regane sakemper karo sewu sasi. Ing wengi iku nyata caket banget Gusti Allah mring titah. Eman yen wengi-wengi iku ora bisa dimanfangatake kanggo nikelale ibadah. Wengi-wengi kang pungkasan iku bisa kanggo nggayuh kasampurnane iman anggayuh derajad taqwa sing luhur.

Neng Ning Nung Nang

Saka andharan ing dhuwur kita bisa kandha lamun wengi saktemene dudu wanci kang medeni lan nggegirisi kaya dedongenan wong-wong kuna sing ndhelik ing guwa nalika teka grahana rembulan ngira lamun rembulane ilang ditadhah kalamangsa dening Hyang Bathara Kala. Tumrap pawongan kang dhemen ngasah landhepe batin lan mersudi waskithane pangesthi, wengi iku bisa dadi sarana kanggo tumuju kemenangan urip kanthi dalan neng ning nung lan nang. Neng ning nung nang iku sekawit mujudake swara dhasar gamelan (Muhammad Zuhri 1996). Rumusan iki uga mujudake piwulange Ki Hajar Dewantara. Mung wae, kita bisa ngetrapake bab iki ing sajrone laku sing beda.

Neng. Tembung ‘neng’ asale saka tembung jumeneng. Wengi iku kudu dijumenengi utawa diedegake. Kayadene wisma, supaya wewangunan wisma bisa ngadeg mesthi mbutuhake cagak. Cagake awak iku sikil nanging cagake sirah dudu gulu. Cagake mustaka iku jebul netra. Coba dibayangake kayangapa kekuwatan gulune Mike Tyson, Si Leher Beton lamun mripate wus ngantuk kelakon ambruk nglumpruk tanpa daya. Ya saka pangerten iki mula ana istilah cagak melek. Ing kampung-kampung yen ana adicara jagong sepasaran bayen (ing tlatah Yogya lan Surakarta) utawa muyi (ing tlatah Wonosobo), melek sajrone pupak puser (ing tlatah Tegal), mula padha tirakatan. Kanggo cagak melek mula terus padha kidungan, main kertu, lsp.

Njumenengi wengi mesthine diprayogakake kanthi dalan sing bener yaiku nindakake ngibadah lan nikelake anggone eling mring panguwasa-Ne Gusti kang Maha Rumeksa. Ing piwulang Islam disebutake yen saprotelone wengi sing pungkasan iku klebu wektu sing ijabah, mula disunnahake padha ngakeh-akehi nindakake ngibadah. Adate donga lan panyuwunan kang diunjukake marang Gusti ing wanci iki uga gampang kasembadan nadyan tembung ‘kasembadan’ iku bisa ditegesi werna-werna. Tumrap sing njumenengi wengi kanthi mendem utawa ngunjuk ciu lan main gaple mesthine beda entuk-entukake karo sing tekun ngibadah.

Ning. Tembung ‘ning’ teges hening lan uga wening. Kanthi njumenengi wengi mula bakal bisa ngrasakake swasana kang hening. Ratri kang terus tumapak bisa dirasakake. Ing kahanan kang banget nyeyet kita bisa ngrasakake keteke jantung, melar mingkuse nafas, prasasat tumiyupe samirana, obahe gegodhongan, pirembugane kutu-kutu walang ataga bisa rinasa kanthi cetha malela. Apamaneh lamun kita bisa ngrasakake gantine dina ing madyane ratri, ana rasa sing ora bisa ginambarake kanthi reroncene tembung lan dawane andharan. Kanthi nglatih ngrasakake heninge ratri kita bisa nglatih konsentrasi tumuju ati kang wening. Weninge ati bisa menehi pituduh dalan bebener lan bisa uga nyumurupi dalan luput.

Nung. Tembung ‘nung’ teges kasinungan. Kasinungan iku padha wae ateges kapanggonan. Kasinungan ing kene nuduhake kapanggonan daya. Lamun bisa duwe ati kang wening mula nyumurupi dalan bebener lan luput wus mesthi titah iku bakal kasinungan daya kaluwihan kang maneka warna. Ana kang ditambah kawaskithane, ngelmu mimpin, daya linuwih, kapinteran, kesabaran, lan maneka warna kanugrahan liyane. Wong kang kasinungan iku bisa diarani entuk wahyu (hanung) kang bakal murakabi kanggo dhiri pribadi, kulawarga, lan bebrayan agung. Hanung iku nuduhake sih kanugrahan lan kawelasane Gusti kang Maha Kawasa marang kabeh para titah.

Nang. Tembung ‘nang’ bisa ditegesi menang utawa wenang. Pawongan kang wus kasinungan utawa entuk hanung bisa diarani wong kang menang. Menang sajrone urip tegese bisa nguwasani urip. Menang karo sapa? Dudu menang sajrone perang lan nguwasani sepadha-padha nanging menang lumawan hawa nafsu. Wong sing bisa ngalahake nafsune dhewe teges entuk kewenangan ngrasakake kamardikan lair batin. Ing kamangka ing jaman iki ora ana maneh perang sing luwih gedhe kajaba perang lumawan hawa nafsu. Wong sing uripe kalah yaiku wong sing dadi budhak hawa nafsu lan kepenginan kadonyan. Yen kaya mangkono nyata urip iku muspra tanpa piguna awit jantrane uripe tumuju dalan sing agawe keblinger.

*)Penulis: Dosen FKIP, Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP)

Read more >>>>

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

Wahyu

Source :
http://www.tembi.org

Wahyu

Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa wahyu adalah wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang. Sehingga orang yang mendapat wahyu atau kewahyon, dapat dikatakan hidupnya berhasil secara lahir dan batin. Dengan demikian wahyu dimaknai sebagai tanda perubahan seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan dan kemasyhuran yang berguna bagi kesejahteraan banyak orang. Perubahan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari sebuah keprihatinan yang dibarengi laku batin. Pada umumnya laku batin adalah; bertapa, berpuasa, berpantang, mengurangi tidur, pergi kesuatu tempat yang dianggap sakral dan laku yang lain. Itu semua merupakan wujud kesungguhan dari usaha manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan.

Namun tidak semua orang yang menjalani laku batin tersebut ke jatuhan wahyu. Mengingat bahwa wahyu adalah anugerah dari Tuhan kepada manusia, maka tentu saja wahyu tidak dapat dikejar, apalagi dipaksa untuk jatuh dan tinggal pada orang tertentu. Karena jika yang terjadi demikian akan bertentangan dengan karakteristik wahyu, yaitu sebuah tanda perubahan yang mengarah pada hal-hal kebaikan.

Menurut kitab Widya Kirana, secara phisik wahyu berujud cahaya yang turun dari langit, besarnya hampir sama dengan bulan. Cahaya wahyu terjadi dari campuran sinar manik-manik emas dan salaka (logam putih), sehingga menimbulkan cahaya putih ke hijau-hijauan. Bagi masyarakat, terutama yang masih berpegang pada tradisi turun-temurun, jatuhnya sebuah wahyu yang sesungguhnya pada suatu tempat, merupakan tanda bahwa dari tempat tersebut nantinya akan muncul seorang yang sukses besar, baik dalam bidang derajat kepangkatan maupun kelimpahan harta benda, yang dapat dirasakan masyarakat luas. Biasanya Wahyu turun pada jam-jam keramat, yaitu berkisar pada pukul 03.00 dini hari.

Selain Wahyu, ada empat macam cahaya yang jatuh dari langit, masing-masing mempunyai nama dan karakteristik berbeda, yaitu:

* Andaru; berujud sinar berwarna kuning kemilau yang pinggirnya kemerah-merahan, terjadi dari campuran sinar manik-manik emas, tembaga dan timah. Seseorang yang kejatuhan Andaru, akan menjadi kaya, dengan mendapatkan kelimpahan harta benda, yang dapat menyenangkan banyak orang. Dengan demikian orang yang mendapatkan Andaru akan di sujudi orang banyak. Andaru berkarakter kebendaan, sehingga ia akan memilih seseorang yang menjalani laku batin karena keprihatinannya akan kemiskinan hidupnya.
* Pulung; cahaya yang jatuh dari langit dengan warna biru ke hijau-hijauan. cahaya tersebut terjadi dari sinar manik-manik emas dan tembaga. Seseorang yang kejatuhan Pulung hidupnya akan dipenuhi oleh belas kasihan kepada sesama, sehingga ia akan di segani dan dihormati banyak orang. Pulung berkarakter cinta kasih, sehingga jatuhnya Pulung akan memilih orang yang menjalani upaya lahir batin atas keprihatinannya mengamalkan cintakasih kepada sesama, dalam mewujudkan keindahan, ketentraman dan kedamaian dunia, Amemayu Hayuning Bawana.
* Guntur; Cahaya berwarna ungu, pinggirnya berwarna merah muda, yang terjadi dari campuran tiga sinar, yaitu tembaga, garam dan belerang. Bagi orang yang kejatuhan Guntur, hidupnya akan menjadi besar karena kebengisan dan ketamakannya. Sepak terjangnya membuat banyak orang takut dan tercekam. Guntur berkarakter angkaramurka, dan cocok bagi orang yang sedang menjalani laku dengan tujuan menjadi orang besar dan mampu memerintah dan menguasai orang banyak.
* Teluhbraja; wujudnya sinar yang jatuh dari langit dengan warna merah, pinggirnya berwarna biru. Terjadi dari campuran tiga sinar, yaitu timah, tembaga dan belerang. Seseorang yang berwatak iri hati, licik dan senang mencelakai orang lain, jika mempunyai keingingan menjadi besar dengan dibarengi laku batin, maka yang akan jatuh dan memberi tambahan daya kekuatan dalam hidupnya adalah Teluhbraja. Karena karakter Teluhbraja cocok dengan karakter orang tersebut, yaitu menimbulkan banyak orang celaka dan susah. Dipercaya, jika disuatu tempat jatuh sebuah sinar yang berwarna merah kebiru-biruan, itu namanya Teluhbraja, dan akibatnya di daerah tersebut akan timbul bencana yang menyengsarakan orang banyak.

Dari pemaparan tersebut, dapat dimaknai bahwa keprihatinan, usaha dan gerakan lahir batin seseorang, atau putaran jagad cilik (micro cosmos), berpengaruh langsung dengan kehidupan alam semesta dan manusia diluar dirinya (macrocosmos).

Ketika batin seseorang bergerak dengan dibarengi laku, maka akan menimbulkan energi berkekuatan magnit yang dapat menarik energi alam semesta. Semakin berat laku batin seseorang, semakin cepat putaran yang digerakan dan akan semakin kuat daya magnetisnya dalam menyedot energi alam semesta.

Jika yang digerakan mengandung energi kebaikan dan keluhuran, maka yang masuk dinamakan Wahyu. Jika yang digerakan berupa energi cinta dan belas kasihan, maka energi yang masuk dinamakan Pulung. Demikian pula jika yang digerakan adalah energi derajat dan pangkat, maka yang singgah dan masuk didalamnya dinamakan Andaru. Sedangkan Teluhbraja dan Guntur akan memberi energi kepada orang yang menggerakan energi angkaramurka dan ketamakan.

Saat bersatunya energi seseorang dengan energi alam semesta itulah yang ditandai dengan jatuhnya sebuah sinar. Dengan mengenali ciri-cirinya dari masing-masing sinar yang jatuh disuatu tempat pada dini hari, apakah itu sinar Wahyu, Andaru, Pulung, Teluhbraja dan Guntur, paling tidak orang akan mampu menangkap pertanda alam untuk meprediksi apa yang akan terjadi. Dan itu merupakan awal dari sebuah peringatan bagi orang yang berada disekitarnya, agar siap dan waspada menghadapi perubahan seseorang entah baik atau buruk, yang akan berdampak langsung secara luas.

(herjaka)



Semar dan Wahyu

Di dalam tulisan sebelumnya yang berjudul "Batara Semar," telah dipaparkan bahwa Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.

Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.

Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri.

Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.

Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.

Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.

Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana phisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat.

Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga. Dari ke dua sudut pandang itulah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga.

Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksannan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi sepiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya.

Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga

(herjaka)





Semar, Gareng, Petruk, Bagong

Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).

Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).

Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.

Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.

(herjaka)



Batara Semar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.

Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

(herjaka)

Read more >>>>

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

Selasa, 23 September 2008

Penyembuhan Spiritual

Source :
http://mevlanasufi.blogspot.com/2004_03_01_archive.html

Penyembuhan Spiritual
Syaikh Muhammad Hisham Kabbani
disampaikan dalam seminar SPIRITUALITY AND HEALING IN MEDICINE II
Harvard Medical School 1997


Minat yang diperbaharui dalam metode penyembuhan spiritual hanya akan membantu lebih jauh pengobatan moderen karena kita juga menarik manfaat dari pengalaman dan pengetahuan dari para pendahulu di bidang penyembuhan yang mulia ini. Sayangnya, masalah ini telah terlalu sering diabaikan dan dikesampingkan oleh banyak dokter pada masa kini, sekalipun penyembuhan seperti ini telah berhasil diterapkan selama ribuan tahun.

Sebuah pikiran ilmiah yang tidak dibayangi oleh praduga dapat membedakan validitas dan manfaat suatu pendekatan yang komprehensif terhadap kesehatan yang meliputi penyembuhan spiritual. Profesor John Taylor dari King’s College, London menyatakan, “Sebuah penelitian ilmiah hanya dapat menyelidiki sesuatu yang sifatnya fisik saja. Masalah-masalah yang bersifat non-fisik, kemungkinannya adalah mental, spiritual, ghaib, keabadian, atau yang lainnya sejauh ini tetap tak tersentuh analisis ilmiah.”

“Tentu saja ada jalan untuk mendapatkan pengetahuan tentang pengalaman aspek non-fisik tersebut yang memberikan pandangan berguna dari sifat-sifatnya, namun hasil-hasil yang diperoleh begitu sulitnya untuk diterangkan dan dihubungkan dengan kelompok ilmu pada umumnya. Memang, belakangan ini seorang ilmuwan harus amat berhati-hati untuk menghindari bias, di sisi lain dia menjadi terlalu skeptis. Dia bahkan terang-terangan menolak mempercayai apa yang nampak di hadapannya sebab tak dapat masuk ke dalam pandangan kebendaannya akan dunia…. Ilmu pengetahuan telah demikian berevolusinya sejak seabad silam. Seharusnya ia dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Bila tidak, metode ilmiah sungguh akan tersingkirkan dan tak akan pernah bangkit lagi.” (John Taylor, Superminds hal. 55-56)

Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhan Spiritual

Para ahli penyembuhan spiritual itu, sebenarnya merupakan ilmuwan sejati dan mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa di balik setiap penciptaan—baik itu sebuah atom, sel, atau pun semesta—pastilah ada Sang Maha Pencipta. Karenanya, mereka menyatakan bahwa pasien mereka dapat disembuhkan dengan cara berpaling pada Sang Maha Pencipta itu melalui do’a, dzikir dan mengingat Asma’-Nya.

Banyak ilmuwan modern menyadari bahwa bila suatu ilmu pengetahuan tidak mendidik, menginspirasikan ataupun menuju pada kesimpulan serta kesadaran, bahwa awal dan akhir, luar dan dalam dari keseluruhan, apapun yang berada di antara langit dan bumi berdenyut dengan enerji yang memberi kehidupan dari Sang Maha Pencipta, maka ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat dikualifikasikan sebagai sesuatu yang normal.

Dr. Robert G. White, seorang ahli bedah syaraf yang terkemuka, adalah satu dari banyak ilmuwan dan dokter yang melalui penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa manusia bukan saja datang secara bersamaan, namun juga adalah ciptaan Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui.

Beliau menulis, “Saya yakin bahwasanya otak adalah tempat tersimpannya jiwa manusia, roh… , bagi saya, praktek pengobatan, keimanan dan keagamaan saling terjalin dengan erat. Saya banyak berdo’a, terutama sebelum dan sesudah pembedahan. Saya menyadari bahwa do’a tersebut memuaskan. Saya merasakan adanya sumber kekuatan yang dahsyat di belakang yang mendukung saya, sumber yang saya perlukan dan inginkan…”

“Namun demikian, pendapat yang menyatakan bahwa hidup manusia tak lebih dari sekedar kesempatan dari sekumpulan biologi mulekular kompleks dan aktivitas elektrik, menghantam saya sebagai suatu yang menyimpang dari logika…. saya harus mempercayai bahwa semua ini memiliki awal yang cerdas, bahwa Sesuatu telah membuatnya terjadi. Saya tak dapat menerima pendapat bahwa, pada suatu titik waktu acak tertentu, material-material nyata, seperti kecerdasan, kepribadian, ingatan, dan jasad manusia terpilih secara bersamaan.

“Saya juga menemukan bahwa sesungguhnya tidak beralasan untuk menduga pada kematian otak, material-material yang nyata keberadaannya dan sangat kuat dari kecerdasan, kepribadian, dan ingatan, hilang begitu saja. Yang jauh lebih masuk akal adalah mempercayai bahwa inti dari kita adalah membebaskan diri dari suatu wadah, yaitu otak, yang tak mampu lagi untuk menopang kita dan menemukan topangan lain dalam dimensi yang baru.”

“Karena apa yang menjadi inti dari kita adalah pada kematian otak. Saya tak dapat mengira atau bahkan berspekulasi. Saya hanya dapat berkata bahwa logika tak dapat dipungkiri lagi, menuntun saya pada keimanan-keimanan bahwa keunikan, individualitas dari manusia hidup dalam konsep yang kita sebut dengan roh.” (R.G. White, M.D. Thought of a Brain Surgeon, Readers Digest Oktober, 1978)

Sisi Ilmiah dari Penyembuhan Spiritual

Secara tradisional, aspek ilmiah dari penyembuhan spiritual telah diajarkan dan disampaikan dari satu penyembuh kepada yang lainnya dengan instruksi pribadi secara perorangan. Teknik-teknik ini telah digunakan selama berabad-abad oleh para filsuf yang arif dan para penyembuh dari berbagai penjuru dunia termasuk Jepang, Cina, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Sub Benua India. Mereka adalah para pelopor dari penyembuhan spiritual yang menemukan dan mempraktekkan teknik-teknik yang tak disadari olah banyak ilmuwan, hingga saat ini. Pada paruh terakhir dari abad ke-20, pengetahuan spiritual ini mulai menyebar dan diajarkan secara bersamaan kepada mereka yang tertarik menggunakan teknik-teknik penyembuhan spiritual untuk mengurangi sakit serta menyembuhkan penyakit.

Proses penyembuhan spiritual meremajakan kembali gaya hidup dari tubuh dan memperkuatnya melalui beberapa titik tertentu di sekujur tubuh. Teknik spiritual tersebut menghasilkan efek neuro-fisiologis yang akan menuju pada sistem syaraf pusat untuk kemudian menghasilkan respon endokrin yang terkomposisi, yang akan mengurangi rasa sakit, menyembuhkan penyakit dari daerah yang terserang, dan lalu memberikan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan Berhubungan dengan Kebugaran Fisik dan Aktivitas.

Tubuh manusia memerlukan makanan dan minuman, namun tak semua dapat dicerna dan mereka tak semuanya menjadi bagian dari tubuh manusia. Zat gizi yang tak tercerna mengendap dan mungkin tinggal sebagai endapan dan karena tubuh tak dapat membuangnya secara alami, seiring dengan waktu, akumulasinya dapat menyebabkan berbagai penyakit. Pada mulanya, akumulasi tersebut mungkin berupa akumulasi yang terlokalisasi sebelum mereka mempengaruhi darah dan diedarkan melalui pembuluh darah ke bagian-bagian tubuh yang dapat dialiri.

Kendati pada mulanya kondisi seseorang mungkin berupa gejala masalah intestinal, seiring dengan waktu, endapan yang tertumpuk lebih banyak menjadi semakin berbahaya dan menjelma menjadi penyakit yang terlokalisasi yang mungkin saja menyebar dalam tubuh pada stadium berikutnya. Oleh karena itu penelitian mengenai patologi penyakit dan sejarah perkembangannya menjadi sangat penting.

Menyadari bahwa penyakit yang menyerang fisik menyebabkan problem intestinal, seseorang mungkin menyesuaikan dirinya dengan pemurnian yang kuat yang mengakibatkan terjadi komplikasi lebih lanjut. Sebenarnya, kebanyakan obat adalah racun dan dapat mempengaruhi dengan jalan menghilangkan bagian yang baik maupun yang rusak. Ketergantungan pada obat-obatan dapat merumitkan lebih parah lagi kondisi seseorang, Karena mereka sebenarnya panas dan bersifat interaktif. Selain itu mereka dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan kondisi pasien dan menimbulkan gejala ‘arrythmias’ (penyakit jantung berdebar), mempengaruhi ginjal dan menyebabkan berkembangnya berbagai kegagalan fungsi organ dan defisiensi. Olahraga yang cukup diperlukan untuk menyegarkan organ-organ tubuh, memudahkan aliran makanan dan zat gizi, memperlancar pencernaan, dan mencegah penimbunan-penimbunan senyawa tertentu.

Lebih jauh, pengendalian alamiah yang berdasarkan metode dari pergerakan dan kegiatan otot akan meringankan jiwa, menyegarkan pikiran, meremajakan organ-organ tubuh (rejuvenate), meningkatkan kepribadian, menguatkan otot, mencegah kakunya persendian, menguatkan tendon dan ligamen otot, mengurangi kemungkinan kesalahan fungsi sel-sel tubuh (somatic cell), dan melenyapkan hampir seluruh penyakit. Hal ini juga tergantung pada tingkat latihan fisik, keseimbangannya, kekuatan atau intensitasnya.

Pada umumnya, rutinitas yang ditujukan pada bagian tertentu akan menguatkannya, seperti halnya memfokuskan pikiran seseorang pada suatu subjek, akan menguatkan ingatannya. Oleh karena itu setiap bagian dari tubuh kita membutuhkan rutinitas tertentu. Paru-paru memerlukan latihan membaca dan levelnya dimulai dari membaca dalam hati, lalu meningkat secara perlahan-lahan dalam intensitas dan kekerasannya. Latihan mendengarkan memerlukan perhatian responsif yang teliti dengan merangsang syaraf pendengaran dan telinga, dan hal ini berkembang pada satu takaran, apakah bunyi tersebut meningkat volumenya atau menurun karena jarak atau pun intensitas dari panjang gelombang seseorang. Latihan berbicara meningkatkan kemampuan oral, disamping itu membantu pengenalan dengan pandangan fisik dan mental. Latihan mata mempertajam pandangan seseorang, memperkuat otot-otot okuler dan dalam beberapa kasus dapat memperbaiki rabun jauh dan rabun dekat. Jadi, hiking, berenang, latihan jalan cepat, berkuda, panahan, dan olah raga semacamnya adalah yang yang paling menyehatkan bagi seluruh tubuh. Melaksanakan program olahraga semacam ini bahkan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kronis di antaranya, seperti: anemia, penyakit-penyakit infeksi, peradangan, dan kolik.

Asal Mula dari Penyembuhan Spiritual Islami

Para penyembuh spiritual mewariskan metode yang dipergunakan oleh para utusan Allah, dan dari generasi ke generasi telah mempraktekkan metode ini hingga kini. Dalam tradisi Islam, para penyembuh memberdayakan keduanya baik pemulihan dengan obat maupun jalan spiritual. Teknik-teknik spiritual mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang memberdayakan enerji laten si pasien dan kekuatan yang terkandung dalam dzikir dan do’a serta itikaf-nya para Nabi, Rasul dan Awliya Allah.

Nabi Muhammad pernah menyembuhkan orang-orang melalui metode spiritual ketika beliau ditanya apakah penyembuhan itu bersumber dari obat-obatan. Beliau bersabda, ”Ya, kalian harus mencari penyembuhan dari obat, karena pada setiap penyakit yang Allah ciptakan di muka bumi ini, Dia juga telah menciptakan penyembuhnya. Namun ada satu penyakit yang Dia tidak ciptakan obatnya, yaitu usia lanjut.”

Masing-masing dan setiap ayat Al-Qur’an yang telah diresepkan memiliki daya penyembuhan yang unik yang berbeda dengan ayat-ayat lainnya. Berikut ini adalah beberapa contoh dari ayat-ayat yang digunakan dalam penyembuhan spiritual.

Enam Ayat Penyembuhan: “Ayat As-Syifa”

“Dan (Allah) akan melegakan hati orang-orang yang beriman” (At-Taubah 9: 14)“Hai Manusia, sesunguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Yunus 10: 57

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl 16: 69). “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Bani Israil (Al-Israa) 17: 82. “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan .” Do’a Nabi Ibrahim Asy-Syu’raa’ 26:80. “Dan katakanlah (wahai Muhammad) bahwa (Qur’an) itu adalah petunjuk dan menyembuhkan bagi orang-orang yang beriman.”

Seputar Enerji dan Bagaimana Penyembuhan Spiritual Bekerja

Penyembuhan spiritual bukanlah merupakan proses yang misterius sama sekali, melainkan sangat lugas dan terbuka, walaupun seringkali cukup kompleks. Teknik-teknik penyembuhan spiritual melibatkan medan enerji yang terdapat di sekitar kita masing-masing. Setiap orang memiliki suatu medan enerji atau suatu aura yang mengitari dan menembusi tubuh fisik. Medan ini sangat erat berhubungan dengan kesehatan manusia.

Dalam budaya yang berbeda, enerji dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Kata ‘enerji’ mengacu kepada :Ki dalam kebudayaan Jepang. Chi dalam kebudayaan Cina, Prana dalam kebudayaan Hindu, Qudra dalam kebudayaan Arab

Enerji adalah nafas kehidupan yang dipancarkan kepada kita dari Yang Wujud, Yang Maha Perkasa dan Baqa, yang memelihara seluruh manusia beserta seluruh ciptaan-Nya. Enerji yang mengatur pola pikir dan emosi kita adalah sumber dari kekuatan hidup kita dan merupakan faktor yang menggerakkan dalam seluruh mahkluk hidup. Ia berputar melalui tubuh kita dan dapat pula digunakan sebagai kekuatan untuk penyembuhan. Itulah yang merupakan sumber dari seluruh pergerakan di dunia ini. Bila tubuh manusia kehilangan nafas kehidupan ini, maka enerji asal (atau kekuatan hidup) akan meninggalkannya, membiarkan tubuhnya untuk membusuk. Tubuhnya kembali ke asalnya yang bersifat bumi, dan rohnya kembali ke asal dari enerji rohaniah yang bersifat malaikat. Enerji ini tak pernah hilang dan tetap ada, tanpa rahasia dari sifat alamiahnya dimengerti oleh ilmu pengetahuan dan pengobatan moderen.

Enerji rohaniah yang tak diketahui ini berada di belakang kehidupan setiap tetes darah dari mahkluk yang bergerak, pergerakan di balik setiap sel hidup, dan kekuatan penggerak dari gugusan-gugusan bintang dan galaksi-galaksi. Ia membawa kekuatan yang lengkap dan sempurna yang nyata, aktif dan berkesinambungan. Gerakan dari kekuatan ini adalah asli karena tak sesuatupun dapat tumbuh atau hidup di seluruh dunia ini tanpa luput dari pengaruhnya.

Hal ini terutama dapat diterapkan di bumi, di-tempat2 yang tidak ada pepohonan, rumput, vegetasi dan benar-benar tak ada kehidupan yang dapat terwujud tanpa intervensi dari enerji yang tak nampak dan tak diketahui ini. Dengan enerji inilah sebuah tanaman kecil, dapat menyeruak di tengah gurun pasir yang demikian luasnya. Kekuatan hidup rohaniah yang energetik ini memegang organ-organ pembuluh darah, dan seluruh bagian tubuh berada di tempatnya. Bila daya hidup tubuh menghilang, maka hubungan antar organ tubuh menjadi berubah dan terganggu, yang akan mengarah kepada kesakitan, disfungsi organ dan gangguan kesehatan secara menyeluruh.

Kekuatan hidup yang bersifat enerji rohaniah tersebut menciptakan medan enerji di sekitarnya seperti magnet yang di-charger (diberi muatan) dengan kuat atau elektroda. Kekuatan ini merefleksikan enerjinya melalui sekujur tubuh manusia dan menjadi kekuatan penggerak hidup di belakang seluruh aktivitas dan prosesnya. Kekuatan hidup tersebut tidak hanya memberikan enerji kepada tubuh namun juga memberinya identitas. Seperti sebuah atom yang diberi ciri oleh susunan elektron-elektron, proton dan neutronnya—yang sekaligus merupakan komponen enerjinya - demikian pula kekuatan hidup rohaniah memberikan enerji dan identitas pada jasadnya.

Enerji penyembuhan spiritual beranalogi dengan air terjun. Bila sebuah air terjun disalurkan dengan cara yang tepat, maka kekuatannya dapat digunakan untuk menghasilkan enerji dan memberikan penerangan. Demikian pula, bila aliran darah disalurkan dengan tepat melalui sistem yang seimbang maka kekuatan penggerak dari enerji tersebut akan menguatkan enerji dari organ-organ yang lemah.

Dalam organ-organ yang kekuatan hidupnya telah melemah dan berkurang, penyembuhan spiritual akan menambah dan mengaktifkan kekuatan-kekuatan vital ini. Teknik penyembuhan spiritual memungkinkan enerji hidup untuk menyebar dengan cepat untuk mengaktifkan anggota yang sakit dan menyembuhkannya.

Fenomena yang sama juga terlihat dalam reaksi atom, di mana kekuatan yang dahsyat dibebaskan dari enerji internal atom tersebut. Enerji yang dihasilkan secara geometris meningkat, sejalan dengan atom yang diaktivasi dan berenerji menyebarkan enerjinya ke sekitarnya, membangun reaksi berantai dari pembebasan enerji.

Prinsip yang sama dari reaksi atom tersebut digunakan oleh para penyembuh spiritual untuk memusatkan dan mengaktivasi kekuatan hidup yang terdapat dalam diri si pasien. Mirip dengan cara yang digunakan ahli pengobatan kontemporer yang mengarahkan laser untuk menyembuhkan bagian tubuh yang terserang, para penyembuh spiritual mengakses reaksi berantai serupa dari enerji yang terdapat di dalam tubuh, menyalurkannya ke bagian yang terserang untuk menyembuhkan sakit dan penderitaan. Bila satu organ mulai sembuh, yang lainnya mengunakan enerji yang dibebaskan untuk mengaktivasi dan membebaskan enerji dalamnya, yang pada gilirannya akan membangun keseimbangan fisiologis dan bebas dari rasa sakit.

Tiga Fase Penyembuhan Spiritual

Gaya Universal--atau enerji kosmik--meliputi enerji-enerji dari planet-planet, bintang-bintang, serta galaksi-galaksi, dan apapun yang berada di sekitar kita yang membangkitkan medan enerji. Gaya yang menyebar ke seluruh bagian yang sangat luas ini memelihara jiwa kita, roh dan enerji dalam dari masing-masing individu dan dalam setiap makhluk hidup. Melalui proses perenungan dari penyembuhan spiritual, seseorang dapat mengakses enerji penggerak yang terdapat dalam setiap sel di dalam tubuh.

Enerji tersebut disalurkan ke korteks otak, yang merupakan pusat proses dari pikiran kita. Dari sana akan difokuskan dan disalurkan secara intens di dalam inti batang otak, yang diaktivasi dan dirangsang dengan kekuatan hidup yang sudah terfokus . Pada gilirannya, impuls dikirimkan ke sistem syaraf otonom, mengatur fungsi tubuh, memeliharanya dalam keseimbangan, dan bebas dari rasa sakit. Konsentrasi enerji di dalam otak menyusun fase pertama dari penyembuhan spiritual.

Proses ini pada gilirannya nanti akan merangsang syaraf vagus untuk mengirimkan impuls listrik ke sistem konduksi jantung ke simpul sinoatrial, melalui saluran antar simpul, melalui simpul atrioventrikular, menuruni Bundles of His, lalu keluar dari serat Purkinje, lalu ke dalam dinding miokardial untuk memulai sistol. Perpindahan enerji yang mengisi jantung ini adalah fase kedua dari penyembuhan Spiritual. Kondisi-kondisi seperti sakit dada karena kurangnya suplai darah ke jantung, gagal jantung congestive, cardiomiopathy dan tekanan darah tinggi, sebagai tambahan dari banyak penyakit jantung yang berhubungan, disembuhkan dan pasien kemudian dapat sehat kembali dan terbebas dari rasa sakit.

Enerjinya kemudian dipompakan bersamaan dengan darah keluar dari jantung melalui sistem vascular dan dikirimkan ke seluruh tubuh dalam fase ketiga dari penyembuhan spiritual Fokus utama dari fase ketiga ini adalah aorta, yang merupakan saluran bagi gelombang enerji yang penyembuh yang dibawa oleh darah.

Seiring dengan mengalirnya darah dari jantung, mula-mula dia dialirkan balik ke jantung melalui pembuluh-pembuluh arteri koroner dalam suatu reaksi rantai yang berkesinambungan dan meningkatkan enerji di dalam jantung itu sendiri, dengan cara yang mirip dengan matahari meningkatkan cahayanya melalui reaksi intinya sendiri. Siklus ini menghasilkan enerji lebih dan lebih banyak lagi, yang dituangkan keluar sistem vaskular dengan titik-titik fokus pada arteri-arteri utama, mensuplai otak melalui arteri karotid. Ia juga berjalan melewati arteri-arteri subclavian menuju ujung-ujung bagian atas, sirkulasi splanchnic menuju perut, melewati arteri-arteri renal menuju ginjal, dan melalui pembuluh-pembuluh panggul menuju ke ujung-ujung bagian bawah.

Volume tetesan darah yang besar bagaikan air terjun yang terjadi dari sungai yang amat besar menuruni sisi jurang dari sebuah gunung yang tinggi. Seluruh tumbuhan dan binatang di sekitar daerah aliran airnya menjadi terawat dan terhidupi dengan baik, dan setiap sel di dalam tubuh tersembuhkan ketika gelombang enerji rohaniah vital mencapainya.

Sebuah jantung yang sehat akan menopang tubuh yang lemah, namun bila jantungnya lemah dan berpenyakit--walaupun dalam tubuh orang yang masih muda--tubuh tak akan sehat dan berusia panjang. Karenanya, memelihara jantung menjadi prioritas pertama bagi para penyembuh spiritual. Lebih jauh lagi, memelihara otak juga merupakan prioritas penting lainnya untuk menjaga aliran pesan berfungsi dengan semestinya.

Praktisi Medis Kontemporer dan Para Para Penyembuh Spiritual

Para dokter dan ilmuwan semuanya mengenal kekuatan hidup yang tak terbilang ini, namun mereka tak dapat berinteraksi dengannya secara langsung, kecuali melalui perantaranya, yaitu jasad fisik. Untuk alasan tersebut, maka para ilmuwan melihat dengan intensif pada jasad luar dan menemukan prosedur-prosedur dan teknik-teknik untuk memelihara tubuh agar berada dalam homeostatis, mengupayakan agar kekuatan hidup vital berada dalam tubuh sebanyak mungkin dan untuk menjaga tubuh agar terbebas dari rasa sakit.

Para praktisi medis kontemporer lebih mengutamakan jasad fisik dan aspek-aspek fisiologi dari keberadaan manusia. Terapi-terapi penyakit secara garis besarnya bersifat fisik baik dalam bentuk pengobatan, perantaraan operasi, atau sebaliknya.

Para penyembuh spiritual, adalah kebalikannya, menggunakan pendekatan dari dalam terhadap penyembuhan dengan menerapkan teknik-teknik spiritual dan metode yang untuk memberdayakan enerji tubuh itu sendiri. Perbedaan antara para penyembuh spiritual dari para dokter adalah bahwa para penyembuh spiritual menyembuhkan dari dalam ke luar sedangkan para dokter dari luar ke dalam. Masing-masing mengerjakan yang baik bagi pasiennya dan keduanya bertemu di atas dasar yang sama bagi penyembuhan penyakit dan mengurangi rasa sakit dan penderitaan.

Persepsi Penginderaan Tinggi (High Sense Perception) sebagai Suatu Alat Diagnostik

Para dokter menggunakan teknik Gambaran Resonansi Magnetik (Magnetic Resonance Imaging=MRI) yang menggunakan enerji dan rangka dari atom-atom tubuh untuk menghasilkan gambaran dan informasi tentang kondisi tubuh dan proses penyakit yang potensial. Para penyembuh spiritual juga telah maju dalam model -model diagnostiknya. Satu yang terpenting adalah HSP, High Sense Perception (Persepsi Penginderaan Tinggi).

HSP adalah suatu jalan untuk mempersepsi hal-hal di luar jangkauan batas normal panca indera. Dengannya, seseorang dapat melihat, mendengar, mencium, mengecap dan menyentuh benda-benda yang secara normal tak dapat dicapai oleh indera manusia.

HSP, kadang-kadang disebut sebagai cenayang, bukanlah imajinasi belaka namun merupakan suatu jenis penglihatan di mana anda dapat meng-indera sebuah gambaran di benak anda tanpa menggunakan penglihatan normal. HSP mempertunjukkan kedinamisan dunia fluida, menginteraksikan medan enerji spiritual yang mengitari dan menembus seluruh mahkluk hidup. Enerji ini menopang kita, memelihara kita, dan memberi kita kehidupan. Kita merasakan satu sama lain dengan enerji ini, karena kita merupakan bagian daripadanya, dan ia merupakan bagian dari kita.

Dengan HSP, maka patofisiologi dari rasa sakit dan proses-proses penyakit terletak tepat di depan matanya. HSP menunjukkan bagaimana kebanyakan penyakit dimulai di medan enerji tersebut. Gangguan pada medan enerji ini disebabkan oleh waktu dan kebiasaan hidup yang tidak sehat yang lalu diteruskan ke tubuh, menjadikannya suatu penyakit yang serius. Seringkali sumber atau asal-muasal penyebab proses ini dihubungkan dengan trauma fisiologi dan/atau fisik.

Karena HSP memperlihatkan bagaimana suatu penyakit terbentuk, ia juga memperlihatkan bagaimana untuk membalik proses penyakit tersebut. Enerji-enerji spiritual dan aura-aura membantu para penyembuh spiritual dalam memformulasikan diagnosis mereka. Untuk mengembangkan HSP, amatlah penting untuk memasuki suatu tingkat kepekaan yang terasah. Ada banyak cara untuk mencapainya, namun meditasi spiritual merupakan satu cara yang cepat dikenal.

Nasma dan Meditasi

Dalam terminologi spiritual, tubuh yang non-fisik dinamakan nasma. Nasma terdapat di dalam setiap jasad fisik sebagai suatu aliran gas yang halus atau hembusan enerji yang tercipta dengan output kimiawi dari jasad fisik. Nasma tersebut hadir dalam manusia bagaikan air mawar hadir di dalam mawar atau bagaikan api dalam arang yang membara. Menjadi utama karena hubungannya dengan sumber enerji Ilahi, ia mampu mengecap tanpa menggunakan lidah, mampu melihat tanpa mata, dan mampu mendengar tanpa telinga.

Dengan menggunakan nasma, HSP dibuat tersedia bagi penyembuh spiritual. Nasma mendapatkan perawatan dari enerji esoterik yang dibebaskan bilamana kita bertindak, berfikir, atau membentuk kepercayaan atau niat. Nasma dalam manusia mampu meninggalkan jasad fisik kapan saja melalui kekuatan kemudi universal.

Bila aliran enerji spiritual terganggu atau tak cukup, maka kesehatan si pasien akan terpengaruh dengan jelek, menuju kepada rasa sakit, penyakit, tekanan, dan selanjutnya. Itulah pertanda bahwa kita perlu untuk menyeimbangkan kembali enerji kita. Suatu aliran enerji positif merawat nasma dan memelihara struktur dan pondasinya, menyeimbangkan sistem manusia tersebut. Keseimbangan ini mengarah pada meningkatnya kewaspadaan penginderaan tubuh yang pada gilirannya akan menuju pada kehidupan yang baik, mengikuti pola makan yang semestinya, dan kesenangan berolah raga. Nasma kemudian menyokong dan memelihara jasad fisik yang sehat, yang di dalamnya sistem-sistem fisika dan kimiawi tetap seimbang dan berfungsi dengan normal, sehingga menjadikan kesehatan fisik yang berlangsung selamanya.

Dalam sistem yang sehat, enerji-enerji dalam masing-masing tubuh bukan saja tetap berada dalam keseimbangan, namun juga menyokong dan mempengaruhi keseimbangan enerji dalam tubuh orang lain. Nasma mampu mempengaruhi orang lain sebagaimana sebuah magnet mempengaruhi logam yang berada di dekatnya. Enerji dari sistem yang sehat jadinya dapat menyembuhkan diri dan menumbuhkan sendiri dalam hal ia memelihara kesehatan individu sementara menguatkan kesehatan mereka dalam auranya. Jadi, kesehatan yang baik menarik dan mengembangkan lebih banyak kesehatan yang baik.

Nasma tak hanya mampu mempengaruhi jasad fisik, namun juga mampu dipengaruhi oleh badan yang sakit dan menjadi lemah karena lemahnya organ-organ. Sebagai contoh, dalam tubuh yang lemah nasma memperlihatkan gejalanya dalam aspek-aspek mental dan fisik dari seseorang. Dalam hal mental, satu dari yang berikut ini akan muncul: neurosis, depresi, histeris, psikotis, epilepsi, mimpi buruk, dan insomnia. Bila keadaan buruk ini dibiarkan berlanjut tanpa pengobatan, nasma-nya menjadi demikian lemahnya sehingga ia menjadi tak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dalam tubuh yang lemah tersebut. Pasien pada tahap ini biasanya menderita epilepsi, perilaku psikotik, atau perilaku yang agresif. Penyembuh spiritual dapat menguatkan organ-organ si pasien dan dengannya, nasma melalui kekuatan kemudi universal, menciptakan keadaan enerji tinggi di mana gejala-gejala penyakit menghilang.

Meditasi dan Titik Fokus Perlakuan

Dalam dunia spiritual, kesehatan yang baik memerlukan perjuangan yang intensif dari si pasien dan perubahan pribadi. Perubahan pribadi akan mengembangkan kesabaran, kepasrahan, rasa syukur, keceriaan, kesenangan, cinta kasih, berbagi, keberanian, perbuatan baik, pengenalan perbuatan baik, tradisi dan sopan santun akan meningkatkan rohani kita dan aliran enerjinya.

Kelebihan aktivitas bahkan dalam hal ini dan kurangnya pengawasan yang semestinya dan kasih sayang dari orang tua, atau dedikasi dari guru yang baik juga mungkin akan menyebabkan adanya beban yang amat berat pada pengertian seseorang. Atau, suatu kemacetan dalam kemajuan spiritual, mungkin akan menghambat pertumbuhan spiritual, dan hanya pembimbing yang memenuhi syaratlah yang dapat memecahkan rintangan seperti ini. Latihan semacam itu harus terus berlanjut hingga ia bisa mengembangkan sifat asli, perilaku positif dan aliran enerji yang sehat.

Tanpa perubahan pribadi dalam aliran enerji tubuh, seseorang kemudian menciptakan persoalan lain yang mengarah balik pada sumber penyebab penyakit awalnya. Jadi, menangani sumber penyakit merupakan titik fokus perlakuan. Pencarian ini merangsang bagian yang lebih dalam dari diri kita yang kadang-kadang dinamakan ‘diri yang lebih tinggi’ atau ‘Cahaya Ilahi’ di dalam diri kita. Keilahian yang terdapat dalam diri kita ini, bagian yang lebih dalam dari diri kita mengirimkan informasi kepada kita tentang jenis penyakit apa yang perlu diperlakukan dan jenis titik sentuh yang mana yang perlu di sentuh melalui meditasi kita. Meditasi merupakan alat yang dapat memberikan relaksasi yang mendalam, dan untuk menenangkan pikiran. Ini akan membantu untuk mengangkat stress dan karenanya menyebabkan sistem kimiawi dan hormonal dalam tubuh untuk dapat meraih kembali keseimbangannya.

Uji-uji medis telah menunjukkan bahwa terdapat perubahan-perubahan yang dapat terukur nyata dalam benda-benda yang sedang bermeditasi. Otak sendiri mengalami perubahan dalam bentuk gelombang elektrik yang terbentuk. Dengan menggunakan EEG, terdapat peningkatan pembangkitan gelombang alfa (a) dan kadang-kadang juga dalam jumlah gelombang tetta (q). Hal ini mengindikasikan suatu perubahan dalam kesadaran kedalam suatu keadaan tenang tak terganggu dalam kesadaran yang sedikit berbeda dengan tenang pada saat tidur. Keadaan seperti ini memiliki pengaruh menyembuhkan dan sangat menenangkan walau si pasien sepenuhnya sadar dan berfungsi.

Tubuh menunjukkan pengaruh-pengaruh meditasi dalam berbagai cara. Pola pernapasan melambat, begitu juga detak jantung, dan terdapat penurunan nyata dalam tingkat konsumsi oksigen dan eliminasi karbondioksida. Namun demikian, efek fisik dari meditasi berlangsung lebih lama dari pada lamanya meditasi itu sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa para penderita tekanan darah tinggi dan banyak penyakit lain, lewat meditasi saja telah membuat kemajuan klinis yang terukur di mana mereka telah mampu untuk menghentikan pengobatan. Hal ini dicatat dengan baik dalam buku-buku dan manuskrip-manuskrip penyembuhan spiritual.

Bagaimana Enerji Berhubungan dengan Penyakit

Para penyembuh spiritual melambangkan aliran kekuatan kemudi kehidupan dalam tubuh dan di alam semesta sebagai pusaran (vorteks) enerji yang terbuat dari sejumlah kerucut-kerucut spiral enerji yang berukuran lebih kecil. Dalam terminologi Islam, ini dikenal sebagai ‘lata’if’, yang berarti bentukan halus atau lapisan-lapisan. Lata’if (tunggal: latifa) adalah titik-titik masukan enerji maksimum dan merupakan titik-titik fokus keseimbangan yang amat penting di dalam sistem enerji. Penyakit muncul bila suatu latifa tak seimbang.

Lata’if dalam orang dewasa memiliki lapisan pelindung di atasnya. Dalam suatu sistem yang sehat, lata’if ini berputar dalam irama yang disesuaikan dengan yang lainnya, membuat enerji dari medan enerji universal ke dalam pusatnya untuk digunakan oleh tubuh. Masing-masing dari mereka distel ke suatu frekuensi khusus yang akan membantu tubuh agar tetap sehat. Namun, dalam sistem yang sakit, bundelan ini tak sesuai (sinkron). Enerji lata’if yang membangun bundelan-bundelan ini bisa cepat atau lambat, tiba-tiba atau tak seimbang di kedua sisinya. Adakalanya kerusakan dalam keseluruhan pola enerji dapat diamati di mana latifa kemungkinan berhenti atau terganggu baik sebagian maupun seluruhnya. Gangguan semacam ini berhubungan dengan kesalahan fungsi atau patologi jasad fisik di wilayah itu.

Menyembuhkan Melalui Meditasi dan Titik-Titik Fokus Lata’if

Rasa sakit dapat sepenuhnya disembuhkan dengan meditasi di mana dalam enerji yang tidur dari suatu tubuh yang sakit diaktifkan dengan sulutan spiritual yang dihasilkan oleh proses meditasi. Proses spiritual ini menggunakan tujuh titik fokus berbeda dalam tujuh lapisan, yakni lata’if.

Terdapat tujuh titik fokus dari lata’if. Mereka terletak di atas dan di bawah jantung, di atas dan di bawah payudara kiri, di atas dan di bawah payudara kanan, dan satu di kening. Setiap latifa memiliki warna enerji yang berbeda, dan setiap enerji memiliki efek yang berbeda pada suatu penyakit tertentu. Kedua titik fokus yang terletak di atas dan di bawah jantung berwarna hijau. Titik-titik di atas dan di bawah payudara kiri berwarna kuning, yang terletak di atas dan di bawah payudara kanan berwarna hitam, dan yang terletak di kening berwarna putih.

Melalui meditasi ketujuh titik fokus lata’if ini membangkitkan enerji. Kemudian, sebagaimana magnet, titik-titik fokus yang telah diaktifkan ini menarik enerji yang lebih banyak dari sumber enerji kosmik semesta dalam bentuk bola-bola cahaya kecil yang mengapung. Ukuran bola-bola tersebut tergantung pada latifa yang mana yang teraktifkan, karena terdapat perbedaan ukuran bola bagi setiap warna latifa yang berbeda. Tergantung pada penyakitnya, penyembuh mengaktifkan latifa yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Pada gilirannya, latifa itu akan menghasilkan lebih banyak warna enerji-nya yang dengan sendirinya menarik dari sumber enerji semesta lebih banyak dari warna yang sama. Hasil dari rantai umpan balik positif ini adalah berupa tumpahan bongkahan-bongkahan cahaya yang berkilau yang turun dari sumber enerji kosmik ke atas orang penyembuh tersebut.

Melalui luapan bola-bola enerji berwarna ini, penyembuh tersebut memiliki enerji hingga pada titik di mana dia memancarkan panas dari tubuhnya melalui tangannya dan memproyeksikan cahaya dari keningnya. Sebagaimana seorang ilmuwan menembakkan sinar laser, penyembuh spiritual itu mengeluarkan cahaya dan enerji yang dia terima dari kekuatan semesta. Penyembuh itu memijit daerah yang terserang dan kombinasi panas dari tangan dan cahaya dari kening ini dengan segera memulai proses penyembuhan.

Penyembuh itu juga mengharuskan agar si pasien duduk sendirian saja untuk beberapa jam setiap harinya dalam keadaan rileks total, mengulang beberapa ribu kali asma Allah dalam format khusus selama penyembuhan. Asma-asma suci ini bagaikan percikan enerji yang menyulut aliran lebih banyak dari sumber enerji semesta. Penyulutan ini juga mengaktifkan titik-titik fokus lata’if dan menyebabkan terbangkitnya panas dalam tubuh si pasien. Panas ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kekuatan yang luar biasa yang dipancarkan oleh penyembuhnya, namun cukup untuk menyebabkan si pasien berkeringat.

Pada saat ini, si pasien pergi kepada penyembuhnya yang memancarkan enerji yang lebih banyak seperti sebelumnya, melanjutkan penyembuhan si pasien. Sebagaimana bulan merefleksikan cahaya matahari ke bumi, begitu pulalah penyembuh itu merefleksikan enerji semesta melalui tubuhnya kepada si pasien. Hal ini menghasilkan keadaan panas yang luar biasa dan interaksi spiritual antara penyembuh itu dengan si pasien. Proses ini diulang selama beberapa hari atau bahkan minggu hingga si pasien sembuh.

Begitu dia sembuh, si pasien mulai mengalami efek psikologi dari interaksi sinergetis dinamis antara dirinya dengan si penyembuh. Dampak psikologis dari penyembuhan dan penghilangan rasa sakit ini menginduksi kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon-hormon yang menyeimbangkan keseluruhan sistem dan mulai menyembuhkan organ-organ yang sakit, mengangkat si pasien ke tingkat kesehatan dan spiritualitas yang lebih tinggi dari pada yang mungkin terjadi dalam kondisi berpenyakit, dan penuh rasa sakit yang terdahulu.
Sebagaimana pasien operasi dibius, demikian pula pasien spiritual mengalami keadaan mati rasa dimana si penyembuh spiritualnya dapat bekerja dengan leluasa menemukan cara yang sesuai untuk si pasien.

Kesimpulan

Penyakit pada tempat medan enerji manapun akan mengekspresikan dirinya dalam tingkat kesadaran khusus. Masing-masing ekspresi penyakit terwujud sebagai beberapa bentuk sakit, baik itu fisik, emosional, mental, atau spiritual. Amatlah penting bagi kita untuk menggali makna yang lebih dalam dari penyakit kita. Kita perlu bertanya, “Apakah makna penyakit dan rasa sakit ini bagi kita? Apa yang dapat kita pelajari darinya?”

Rasa sakit merupakan sabuk pengaman dalam tubuh sendiri yang merupakan mekanisme pertahanan diri yang menperingatkan kita pada situasi yang sesungguhnya. Rasa sakit itu bagai lonceng peringatan dalam sistem kita yang membawa perhatian kita kepada kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dan memaksa kita untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Rasa sakit itu berbicara, “Kamu tidak mendengarkan dirimu sendiri.” Rasa sakit mengajari kita untuk memita pertolongan dan penyembuhan, dan karenanya merupakan kunci pendidikan jiwa dan fungsi rohani dan enerji tubuh.

Sebuah pendekatan komprehensif terhadap penghilangan rasa sakit dan kesehatan pada umumnya yang termasuk di dalamnya penyembuhan spiritual akan sangat membantu kemajuan pengobatan moderen. Sementara beberapa volume dapat dan telah ditulis tentang penyembuhan spiritual Islam, diharapkan pengenalan singkat ini akan membantu mengangkat masalah ini menjadi perhatian masyarakat medis dan merangsang tumbuhnya apresiasi dan pengertian yang lebih baik akan tradisi dan ilmu yang kaya ini.

posted by mevlanasufi at 10:43 AM
Tuesday, March 09, 2004
Meditasi Sufi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Dewasa ini banyak guru yang mengajarkan metode meditasi kepada kalian. Tetapi biasanya mereka tidak berdasarkan pada agama Kristen, Yahudi atau Islam, banyak orang yang berpikir bahwa meditasi merupakan metode yang diturunkan dari agama lain. Tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Meditasi adalah suatu metode yang telah diberikan kepada manusia pertama, dengan wahyu pertama, kepada Rasul pertama. Apa manfaat dari meditasi dan bagaimana kita mencapai keadaan yang diinginkan? Dalam semua kitab suci, baik Taurat, Injil maupun al-Qur’an disebutkan bahwa meditasi adalah suatu metode untuk mencapai Hadirat Ilahi. Ketika kita sampai berhadapan dengan Sang Pencipta, kita akan meninggalkan segalanya. Tidak ada yang tersisa kecuali jiwa kalian. Jika Saya mencoba untuk mendatangi dan memukul kalian dengan sebilah pedang, kalian tidak akan terluka. Dalam keadaan itu, tidak ada yang dapat menyentuh kalian secara fisik, karena tubuh akan memasuki jiwa kalian. Dalam keadaan normal yang terjadi adalah kebalikannya, jiwa kita terperangkap dalam tubuh. Dalam keadaan meditasi yang sempurna, jiwa kalian menutupi tubuh dan kalian menjadi ruh. Suatu ketika ada seorang Grandsyaikh, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani k. Ketika beliau bermeditasi, beliau terus mengucapkan, “Ana al-Haqq! (Akulah Kebenaran!)” Orang-orang di sekitarnya merasa tersengat dengan pernyataan ini sehingga mereka mulai menyerangnya dengan pedang, tetapi tidak terjadi apa-apa padanya. Mereka tidak dapat menyentuhnya.

Ketika Maulana Rumi sedang berada dalam meditasi yang sesungguhnya, beliau akan berputar dan tubuhnya terangkat ke udara. Beliau mempunyai hubungan penuh dengan Hadirat Ilahi. Menurut pengetahuan tradisional kita, meditasi mempunyai beberapa tahapan sebelum mencapai posisi puncak. Jika kalian menjaga aturan tersebut, meditasi yang sejati dapat kalian alami setiap saat. Setiap orang harus berusaha untuk tetap melaksanakan segala aturan yang berlaku dalam agamanya, yang pertama adalah memuji Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul kepada kita. Kemudian kita dapat duduk di tempat yang tenang, lebih baik lagi jika ruangan itu gelap, lalu tutupi dan tarik diri dari segala yang berada di sekitar kita. Kita sepatutnya tidak mendengar atau merasakan sesuatu, melainkan hanya berpikir bahwa kita sedang berada dalam satu kesatuan dengan Wujud Allah dalam Hadirat-Nya. Walaupun hanya berlangsung selama 5 menit, meditasi akan memberikan kekuatan kepada kita. Hal ini nantinya akan meningkat dan menciptakan elang perdamaian di luar merpati perdamaian. Bahkan jika seorang teroris melihat kalian, dia akan tersungkur. Dengan meditasi kalian dapat memperoleh kekuatan yang luar biasa. Jangan berpikir ini adalah sesuatu yang mudah. Ini adalah kekuatan yang paling penting yang telah dianugerahkan kepada ummat manusia.

bihurmati habib, fatihah

posted by mevlanasufi at 8:53 AM
Sunday, March 07, 2004
Kebenaran Tentang Ba’iyat
Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Suhbat, 07-07-2003, Jakarta, Indonesia


Audhu billâh min ash-shaytân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîm
Nawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytul
riyâda, nawaytus salûk, nawaytul `uzla fî hâdha al-masjid.
"`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum" – "Hai orang beriman! Ta’ati Allâh, dan ta’ati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu." [ QS 4:59]. Dan ta’at kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) adalah ta’at kepada Allâh swt. Dia bersabda : man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh. "Dia yang ta’at kepada Rasul, ta’at kepada Allâh" [QS 4:80]. ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn. Dia bersabda “Barangsiapa ta’at kepada Nabi sungguh ta’at kepada Allâh. Itu artinya Dia menaruh Nabi (s.a.w.) mewakili Diri Nya di Tempat Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat keta’atan kepada Allâh tanpa keta’atan kepada Nabi (s.a.w.). Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh tanpa pintu kepada Nabi (s.a.w.). Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi (s.a.w.). Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan Muhammadu Rasûlullâh. Meskipun sekiranya engkau mengatakan lâ ilâha ill-Allâh jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut Muhammadun Rasûlullâh.

Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad (s.a.w.). Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi dari asma ‘ul-husna Allâh, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putera, yang juga seorang putera mahkota, apa yang diperbuatnya untuk anaknya itu ? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari ?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi dia akan mendadani-nya dengan busana yang diberi dekorasi (tanda kebesaran) dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putera Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow, semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Puter Mahkota.

Ini adalah (yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan berakhir. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh Al Hayyu, berikan kepada Nabi (s.a.w.) tidak akan mati (hilang ?). Apa yang Allâh swt berikan kepada Sayyidina Muhammad (s.a.w.) adalah tetap hidup (abadi). Dia bersabda, inna alladhîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh – "Lo! Mereka yang berba’iyat kepadamu (Muhammad), berba’iyat kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka." [QS 48:10].

Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia bersabda, "Barangsiapa memberimu ba’iyat ya Muhammad, (berarti) membuat ba’iyat kepada Ku." Itu artinya ketika para Sahabat membuat ba’iyat kepada Nabi Muhammad (s.a.w.), berarti Nabi (s.a.w.) hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh yang berada di situ. Indamâ qâla inna alladhîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berkata, "Barangsiapa memberimu ba’iyat…"] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap) : seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh. fa Hûa yaqûl, inna alladhîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu ba’iyat mereka memberikannya kepada Allâh. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi (s.a.w.), mereka berada dalam Hadirat Ilahi, dia membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadarat al-ilahiyya. Mereka berada di sana.

Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al- hadarat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh. Di dunia, jika kamu berada dihadapan seorang raja, engkau tidak lagi melihat dirimu. Wow, kamu bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia dibawah raja itu. Apa kamu ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu ? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kamu pikir ketika kamu berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja ? Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana langsung mereka mencapai maqam al-fana'.

Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, salla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh swt melalui mata Nabi (s.a.w.). Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi (s.a.w.) adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi (s.a.w.) 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi (s.a.w.) untuk ba’iyat, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta merta) beradar dalam Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi ba’iyat kepada seorang wali, serta merta ketika kita menyentuh tasngannya, dia meletakkan kita di Hadirat Nabi (s.a.w.). Itulah sebabnya ketika kita memberi ba’iyat kita katakan Allâhu Allâhu Allâhu Haqq. Walî itu meletakkan kamu di hadirat Nabi (s.a.w.) dan Nabi (s.a.w.) meletakkan kamu di Hadirat Allah, meletakkan kamu di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kamu, untuk membakar habis ego mu, sehingga kamu tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh atas dirimu.

Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâs, kita katakan qul Hû Allâhu âhad. [katakan :] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladhee lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti: yaitu Allâh. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh. Jadi ketika kita mengatakan Allâhû, kita mengatakan itu dalam cara yang bertentangan (berlawanan), kita katakan Allâh Hû. Dalam Sûrat al- Ikhlâs kita katakan Hû Allâh. Yang Satu yang tak dapat dilihat adalah Allâh. Kita tahu Allâh tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh tahu Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû pada awalnya (dalam Surat Al Ikhlash). Dia meletakkan Hû didepan Allâh. Hû mewakili Dhâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Disitu ada Sang Pencipta yang tidak diketahui siapapun, satu yang disebut oleh Allâh sebagai Hû. Ketika kita melakukan ba’iyat, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.

Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawamu kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kamu megatakan Haqq, itu artinya kamu meng-konfirmasi bahwa sesungguhnya ruh kamu dapat melihat, namun diri kamu tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kamu lihat hanyalah Busana (attributes) Allâh swt, Dia mendadani kamu, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satupun dapat mengetahui Sang Pencipta. Dan itu semua dilakukan, melalui Inna-Allâhdeena yuba`yunaka innama yuba`yunAllâh. Janganlah berpikir terdapat jalan untuk mencapai Allâh swt tanpa (melalui) Nabi (s.a.w.). Dia adalah khaliphatullâh fil ard. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh, Muhammadu Rasûlullâh adalah khalipha. Dia adalah wakil Allâh untuk semua ciptaan. Itulah mengapa dia (s.a.w.) mengatakan, "Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâma" – "mereka berada di bawah panji-panji (bendera) saya : mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga." Dia mengatakan, Anâ sayyida waladi âdama wa lâ fakhr. - "Saya adalah majikan bani Adam dan saya tidaklah berbangga." Apa pula ini, "Anâ sayyida waladi âdama?" Dan Allâh bersabda, Wa laqad karamnâ banî âdam. – "Kami memuliakan bani Adam" [QS 17:70].

Dan Allâh bersabda, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ard. - "Tidakkah engkau lihat bahwa Allah telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?" [QS 31:20] Itu berarti bagi bani Adam, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena dia adalah majikan bani Adam, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam), maka itu berarti bahwa tidak ada satupun dapat berada di atas Nabi (s.a.w.)Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi (s.a.w.). Ketika engkau mengambil ba’iyat dari seorang murshid, murshid haqîqî, murshid sungguh, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kamu sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika engkau memutuskan untuk mengambil ba’iyat dari murshid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi murshid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai murshid. Murshid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124,000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika engka menemui seorang murshid haqiqi, ketika engkau memutuskan untuk mengambil ba’iyat darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kamu bayangkan) itu dianugerahkan kepadamu untuk melayanimu. Bagaimana caranya melayani kamu? Apakah engkau berpikir ketika engkau menerima ba’iyat, engkau datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam Hadirat Nabi (s.a.w.) ?

Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan mu sepenuhnya seperti pada saat (kamu ditanya di alam ruh) "Alastu bi-rabbikum" dalam menerima ba’iyat dengan Shaykh dan Shaykh membawamu kehadirat Nabi (s.a.w.) dan Nabi (s.a.w.) membawamu ke dalam Hadirat Allâh swt. Jika engkau (hendak) menemui orang, engkau akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kamu berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil ba’iyat, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil ba’iyat? Tidak. Haa. Segera setelah engkau mengucapkan "saya mau di- ba’iyat" bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kamu datang kesitu, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram (semprot) kamu dengan busana dan dandanan cantik ini dan pada saat itu kamu kelihhatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama murshid itu. Murshid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana dia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi (s.a.w.), dan membawa kamu bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepadamu, sebagaimana dikatakan dalam hadits, "mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dhakarahumullâha fî man `indah." – "Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang meengingat dan menyebut Allâh, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh akan mengingat mereka diantara mereka yang berada dalam Hadirat Nya."

Ba’iyat seperti itu merubah kamu. Sehingga kamu menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikati surgawi – jadi ketika engkau berbaju kuasa malaikati ini, ketika engkau memasuki Hadirat Ilahi engkau tidak pingsan, engkau tidak menghilang. Karena engkau menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya. Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengijinkan kamu mengatakan semuanya, bila tidak engkau akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan baraka guru murshid kita Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani, kita berada dalam kategori (golongan) itu. Aminn, Fatihah

posted by mevlanasufi at 11:20 PM
Friday, March 05, 2004
Pertempuran Abadi Antara Energy Surgawi & Energy Bumi.
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
Pertempuran Abadi Antara Energy Surgawi
Dan Energy Bumi.

Bagaimana untuk Menyeimbangkan dan
Menjaga Keselamatan diri.

Symbol ini mengungkapkan sebuah aliran berkesinambungan dari "Qudra" atau Kekuatan dalam sebuah arah melingkar ketika itu menciptakan dua kekuatan yang berlawanan dari positive dan negative, kegelapan dan cahaya, surgawi dan bumi, lelaki dan perempuan. { Binary Active 1, Passive 0}

Kedua Kekuatan ini saling inter aksi untuk menyeimbangkan masing-masing kelebihannya dan untuk membawa kepada keberadaan realitas/domain fisika dan meta-fisika. Yin dan yang mewakili semua prinsip yang bertentangan yang ditemukan di alam semesta.

• Di bawah yang { Active atau 1} adalah prinsip tentang kelakian, matahari, penciptaan, panas, cahaya, Surga/Langit, dominasi, dan sebagainya, dan
• Di bawah yin { Passive atau 0} adalah prinsip tentang keperempuanan, rembulan, selesai/akhir, dingin, gelap, bentuk materi, kepasrahan, dan sebagainya.
• Masing-masing lawan ini menciptakan lainnya:

Pentanahan di dalam diri elemen Tubuhmu adalah sebuah perubah (transformer) energi. Kamu menyerap energi electrik dari alam semesta. Kamu menyerap energi magnetik dari bumi, dan tubuhmu mencampurkan dan menggunakan dua energi ini, umumnya dalam daerah sekitar Puser dan Jantung.

Bagian bawah tubuh adalah pintu masuk untuk sejumlah banyak energi magnetik. Itu adalah sesuatu yang dapat kamu sebut sebagai energi "pentanahan ke bumi ". Dan bagian atas kepala dan bagian belakang leher kamu adalah yang biasanya menjadi pintu masuk untuk energi electrik atau "pentanahan ke langit ".

Dalam dirimulah Bumi dan Langit bertemu & bercampur Itu adalah sifat alamiah kamu untuk menyatukan dua bahan bakar” ini untuk hidupmu di planet ini.
Itulah sebabnya kamu memiliki sebuah Fisik yang Memerlukan Energi Bumi. Kamu juga memiliki sebuah Ruh yang Memerlukan Energi Langit.

Energy Bumi adalah juga sesuatu yang kami yakin kamu mengetahuinya dengan baik. Itu berat dan padat. Itu lamban, megah dan meyakinkan. Jika kamu tiduran di bumi sesaat, sambil merasakan kepadatan bumi ini, dukungan dari tanah di bawah kamu, beratnya menjadi makhluq fisik, itu adalah energi magnetik.

Terlalu banyak dari energi ini dapat membuat kamu merasa bingung, malas, terhambat, atau mengantuk.
Pancaran Surgawi Menghujani kamu. Energi Bumi datang melalui kontak dengan bumi. Kekuatan ini berbenturan dengan Abdomen (daerah lambung). Nabi s.a.w. mengingatkan kita bahwa semua penyakit berawal dari perut. {Lelaki&Perempuan }

Diatas kita mengupas Perlindungan untuk Kepala, Mulut, Tangan, dan aspek pentanahan dari Tongkat dalam Penyembuhan Sufi. Kesemuanya ini kini menunjukkan bagaimana untuk menarik energi ke dalam tubuh kamu, bagaimana untuk menyimpan energi itu dan bagaimana melepaskan energi negative yang tidak kita kehendaki.

Rahasia besar berada dalam Peranakan seprang perempuan yang disebut "Rahm" – “RaHaMeem" rahmat dan rahasia ciptaan adalah karunia Allah. Tanpanya kita tidak akan terlahir dan daur kehidupan tidak akan berlangsung terus. Melindungi titik itu, Meditasi pada titik itu dan menutupinya dengan pakaian adalah sangat penting sebagai menjaga keselamatannya.

Syaithan ingin membuat terbuka titik itu dan menarik rahasia kehidupan dari perempuan. Mereka menyantap / menyedot energi itu yang tidak mereka miliki. Selalu terhubunglah dengan mereka yang lebih shalih dari diri kita. Ini adalah pondasi thariqat kita Lakukanlah Meditasi Inti Step 1 atau Sufi Meditation Muraqabah Rabita Shareef Taffakur Next Protection Against Evilness.

posted by mevlanasufi at 11:33 PM
Thursday, March 04, 2004
Kekuatan Cincin dan Penjaga Keselamatannya.
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani


Kekuatan Cincin dan Penjaga Keselamatannya.
Cincin yang barakah dipakai di tangan Kanan, pada jari manis. Maksud dari cincin adalah perlindungan terhadap kebencian, yang adalah sebuah kekuatan negative yang sangat kuat. Sayangnya makhluq manusia tidak mengerti hadiah energi atau yang kita sebut hidup yang dikaruniakan kepada kita. Atomic energi ini selalu mengalir ketika kita merasa baik, pihak lain yang berada dalam samudera energi kita juga akan merasa baik.

Bersama para Shalihin lah karena mereka adalah sahabat yang paling baik karena mereka akan mencerahkan kamu. Namun bila seseorang adalah negative mereka akan memancarkan negativitas kepada orang. Yang mengakibatkan banyak penyakit. Nabi Muhammad {s.a.w.} mengajarkan bahwa penggunaan cincin pada Tangan Kanan {Karena Tangan Kanan adalah Ashab al Yamin orang di Kanan mendapat Barakah, membuang Kebencian. Cincin yang dianjurkan adalah Amber atau Turquoise. Untuk lelaki perak atau besi tanpa emas. {Tangan Kiri digunakan untuk Membersihkan dan untuk kamar kecil dan kotor.}

• AMBER sebuah batu mulia electromagnetic. Itu membuka Lataif/Chakra solar plexus dan dapat membantu dalam memperkuat dan menyeimbangkan perasaan, mendapatkan kejernihan mental, dan keyakinan. Itu juga dapat digunakan untuk mensucikan atau membuang racun.}

• TURQUOISE – penyembuh umum, multi-guna, meringan kan banyak emosi negative, meningkatkan sambungan psychic, meramalkan, komunikasi, kreativitas, menyejukkan, memberi inspirasi, membuat damai dan tenang. }

posted by mevlanasufi at 11:33 PM
Wednesday, March 03, 2004
Tongkat dan memelihara keselamatan
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani


Tongkat dan memelihara keselamatan Energi-mu. Itu adalah Mekanisme Pentanahan kamu. Mengambil dari Langit (surga) dan mengirim Negative kepada Bumi.
Dua kaki dan Sebuah tongkat seperti colokan listrik modern. Inbi adalahcara semua Utusan Ilahi.

Pentanahan

Kini kita melihat bahwa Hadirat Ilahi mengirim utusan untuk mengajarkan kitab, hukum, morals namun lebih dari itu semua bagaimana mencapai kesempurnaan untuk kembali kepada Keadaan Malaikati di mana mereka diciptakan. Kamu tentunya terbiasa dengan energy pentanahan listrik dan sifat-sifatnya, melalui pengalamanmu dengan sinar matahari. Itu adalah jenis energi yang menghangatkan, memencar, yang dapat membuat kamu merasa terbuka, puas, dan terselimuti atau tertawan.

Di sisi lain, terlalu banyak energi listrik yang masuk dapat membuat kamu melayang-layang, hilang orientasi, terbakar hangus ("tergoreng"), atau was-was dan mudah tersinggung. Terlalu banyak (atau terlalu sedikit) energi surgawi dapat membuat kamu haus akan gula.Terlalu banyak (atau terlalu sedikit) energy bumi dapat terlihat dengan sendirinya melalui haus garam.

posted by mevlanasufi at 11:33 PM
Tuesday, March 02, 2004
Membangun Energi Mu
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
Membangun Energi Mu & Mencoba Mempertahankannya
Part 1 Core Meditation, Muraqabah/ Sufi Meditation Series Building Energy Defending Against bad Energy Start The Spiritual Healing Please Forward This Article to Your Friends Build Energy

Shaykh al-Kamel (Petunjuk Lengkap )
Contoh Kesempurnaan Lengkap

Pandanglah Dia untuk melihat contoh mu, "Apabila Allah ingin memperagakan Diri Nya, Dia memandang pada ciptaan Nya. Perhatian pertama Nya kepada manusia karena mereka menyerupai Nya. Mereka yang paling menyerupai Nya diantara manusia itu, adalah para wali; maka Nabi s.a.w. berkata tentangnya: Mereka mengingatkan kamu akan Ilahi.'

"Kami juga menyayangkan kamu karena manusia tidak mau membuka diri mereka untuk menarik kekuatan malaikati yang dengannya mereka mencapai tahap ilmu surgawi yang adalah warisan mereka. Itulah yang membuat Kami muncul dalam bentuk kamu manusia dalam berbagai bentuk dan derajat cahaya, dalam tempat berbeda dan kepada masa yang berbeda dari kehidupan manusia, untuk mengingatkan kamu bahwa kamu telah dimuliakan dengan sebuah kekuatan malaikati dan sebuah kemiripan Ilahiah.

Pertahankan kemiripan itu ! Gunakan kekuatan malaikati itu ! Itu akan mengangkat kamu kepada tingkat gemerlap yang tanpanya Allah bersabda: Sesungguhnya, mereka yang untuknya Allah tidak menganugerahkan cahaya, mereka tidak akan mewarisi cahaya!' (24:40) dan Dia bersabda : 'Cahaya bertumpuk cahaya!' (24:35) menyatakan bahwa cahaya dari visi jantung harus dihubungkan kepada cahaya dari kekuatan malaikati, untuk memastikan keberhasilan dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Cahaya itu kemudian akan nampak meliputi segenap alam manusiawi seperti sebuah matahari menyingsing dan sebuah rembulan yang menyingsing meliputi segenap ciptaan, tanpa terbenam. Cahaya dari kekuatan ini, pada saat itu, akan membuat setiap diri seperti sebuah rembulan, yaitu, sebuah raga surgawi yang akan memantulkan cahaya asli bagi seluruh ciptaan. Dengan cahaya itu, dunia ini akan dilindungi, cinta akan alam akan menguasai bumi, dan setiap orang akan hidup dalam damai dan cinta, berenang dalam samudera kecantikan dan keselarasan malaikati."

7007,7 Busana Surgawi, 7 Pintu Keagungan

MAHKOTA CIPTAAN ADALAH KEPALA SUCI
Sang Pencari hendaknya menjaga karunia dari Ilahi ini. 2-Telinga untuk Mendengar dengannya, 2-Mata untuk Melihat dengannya, 2-Lubang hidung untuk Bernapas dengannya, 1-Mulut/Lidah untuk Berkata / Merasa dengannya.

Ini adalah 7-pintu yang diberkati pada ciptaan Manusia. Banyak bacaan (ayat) adalah dalam angka 7 untuk alasan ini. 5-Indera Pendengaran, Penglihatan, Peraba, Penciuman, Perasa. Jika dijaga Titik Ini adalah pintu bagi semua energi ruhaniah kamu. Jika terluka ini akan menjadi sumber semua kesengsaraan.

Penampakan adalah Buruk untuk Memperlihatkan Jauhnya Kerusakan yang menimpa Ciptaan Mulia ini.

Titik Energi pada Mahkota (Kepala), Mata adalah jendela kepada Jiwa, Hidung adalah Napas Rahmat, Telinga adalah Pintu kepada Jiwa, Mulut adalah Lidah Kebenaran.

Mahkota dari Kepala.
(Diambil dari ajaran Shaykh Hisham Al-Kabbani)

Ubun-ubun terasa lembek ketika baru dilahirkan, ini adalah sumber pancaran agung dari Cahaya dan Energi dari Ilahi . Menjaga keselamatan Titik ini untuk melindunginya terhadap energi Negative yang mencoba untuk merebut energi (Ilahiah) itu dari mu.

Perlindungan Untuk Titik ini
• Wudhu dan penutup Kepala atau peci.
• Juga sewaktu tidur usahakanlah untuk tidur
mengguna kan sebuah penutup kepala.
• Rambut panjang mengambil energi ruhaniah lelaki .
• Untuk perempuan rambut panjang meningkatkan energi
ruhaniah nya.

Al Quran Ketinggian 7:179. Banyak Jinn dan manusia dibuat untuk Neraka : Mereka memiliki jantung yang dengannya mereka tidak mengerti, mata yang dengannya mereka tidak melihat, dan telinga yang dengannya mereka tidak mendengar. Mereka seperti binatang ternak,- tidak bahkan mereka lebih sesat : karena mereka tidak peka (terhadap peringatan).

Telinga, Pintu kepada Jiwa.
1-Telinga, Pintu kepada Jiwa, merupakan Effek yang Membahayakan :

• Dekatilah Rabb mu dari Pintu ini.
• Pendengaran adalah peringkat Pertama.
• Kami mendengar Risalah itu dan kami patuh.
• Ini adalah Pintu Masuk Ilahiah kepada Jiwa. –
Kejahatan mengetahui hal ini, jadi inilah kini
pengaruh yang paling kuat.
• Suara buruk yang dipompakan kedalam telinga dan
menghalangi Pintu kepada Jiwa. Setiap orang
memiliki sebuah walkman seperti menuangkan adukan
semen menutupi pintu.
• Mencoba Menggelapkan dan Membahayakan hakekat itu.

2-Telinga : Pintu kepada Jiwa
Perlindungan untuk Telinga

• Dekati Ilahi melalui Pintu bukan melalui Jendela.
• Perlindungan untuk Pintu ini adalah agar Mendengar
kepada suara di dalam atau kata hati adalah
langkah pertama yang sangat penting menuju kepada
hakekat dalam adalah untuk mendengar makhlu
malaikati-mu menolong kamu.
• Dengarkan hanya al Quran atau Salawat. Membaca
Kitab Suci atau Pepujian bagi Nabi s.a.w.. Nada
yang mengingatkan kamu tentang Cinta dan Kesahduan.
• Cinta & Bacaan Kitab Suci adalah (bagai) bahan
bakar roket bagi jiwa.


Mata, Jendela kepada Jiwa
3-Mata: Jendela kepada Jiwa

Effek Membahayakan
• Mata adalah Keinginan untuk Dunia atau Materi.
• Pernahkah mendengar ungkapan bahwa matamu "Lapar".
• Ilahi memperlihatkan kepada kita melalui teknologi
kami.
• Jika kamu membiarkan computer mu untuk menangkap
tanpa henti penampakan/gambaran khususnya yang
negative. Hard Drive mu akan "berantakan/crash."
• Jantung mu telah menjadi berantakan dengan gambar
negative, horror, kekerasan, pornographic atau
kasar tanpa henti.
• Semua gambar disimpan dan sukar untuk dimusnah
kan. "Melupakan gambaran adalah sangat sukar "

4-Mata: Jendela kepada Jiwa
Merupakan Perlindungan untuk :

• Untuk "mengambil Dunya" atau Materialism seseorang
harus "Sering Menutup Matanya" dan Meditasi.
• Perlindungan Bukaan Ini adalah untuk Mengurangi
pengambilan gambar yang membahayakan.
• Pandanglah hanya yang Baik, baca kitab suci itu
adalah gambar/citra yang perlu diingat.
• Tutuplah Matamu terhadap Dunia Materi dan Mintalah
kepada Ilahi untuk Membuka Mata Jantung/Hati.

Lubang Hidung: Napas Ilahiah
Nafas Rahma. 5-6- Lubang hidung : Karunia Ilahiah dari Hidup dalam Napas

”Misi paling penting bagi seorang pencari dari Thariqat ini adalah untuk menjaga keselamatan napas nya, dan dia yang tidak dapat menjaga keselamatan napas, akan dikatakan tentangnya, 'dia telah menyesatkan dirinya sendiri.'"

Shah Naqshband (q) berkata, "Thariqat ini dilandasi atas napas. Jadi adalah wajib bagi semua orang untuk menjaga keselamatan napasnya dalam waktu menghirup nya dan melepaskan dan lebih jauh, mejaga keselamat an napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan melepaskan."

Janganlah tidak peduli tentang Karunia Hidup yang adalah "24ooo napas dalam tiap harinya ". Hidup kita di dunia adalah Satu napas lagi. Semua rencana di dunia tidak akan berubah jika itu adalah napas kita terakhir. Pujilah Hidup Ilahiah yang (berada) dalam Setiap Napas. Menghirup Hu Allah dan menghembus Hu.

Sang Jahat menginginkan untuk memenuhi saluran ini dengan rokok atau narkoba untuk menentang Karunia Ilahiah Napas.

Mulut & Lidah Kebenaran

7-Mulut/Lidah: Mawlana Bistami : dia berkata, "Untuk tiga puluh tahun, ketika saya ingin mengingat Allah dan melakukan dhikr saya biasa merncuci lidahku dan mulutku untuk mengagungkan Nya."

Lidah Kebenaran, Saluran Suci bagi Makanan dan Tenaga bagi Umat Manusia.

Itulah sebabnya Ilaha mewajibkan "Puasa ",
• Itu adalah tindakan/amal Tertinggi yang dapat
dilakukan seseorang dengan ganjaran tertinggi dari
Ilaha.
• Ketika kamu memutuskan untuk benar-benar berpuasa :
• Sucikan semua Pendengaran,
• Penglihatan ,
• Napas,
• Rabaan
• Semua "5" Indera Mu Ditundukkan kepada Rabb mu,
maka "5" Levels Uantungmu juga akan tunduk kepada
Rabb.
• Dia akan membuka bagimu dari "Lidah Kebenaran ".

Al Quran Maryam 19:50. Dan Kami menganugerahkan Rahmat Ku kepada mereka, dan Kami mengabulkan bagi mereka kemuliaan yang tinggi pada lidah kebenaran.

Hadiah Allah Tertinggi adalah Karunia Kebijaksanaan. Seseorang yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan yang mati. Jiwa yang Mati, yang membutuhkan Haqiqat Surgawi.

Al Quran 2:269. Dia mengkaruniakan kebijaksanaan kepada siapapun yang Dia kehendaki; dan dia yang kepadanya kebijaksanaan dikaruniakan sungguh telah menerima keuntungan yang berlimpah; namun tidak seorangpun akan memahami Risalah itu kecuali mereka yang mengerti.

posted by mevlanasufi at 11:33 PM
Monday, March 01, 2004
Perlindungan bagi Mulut & Lidah
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani

Perlindungan bagi Mulut & Lidah,
Menjaga keselamatan Mulut :

• Ini adalah sebuah Bukaan Suci, ini adalah dimana
lidah bersaksi kepada Allah Ahad.
• Lidah Kebenaran dan tenaga percakapan.
• Makan hanya Makanan yang Ditetapkan secara Ilahiah
• Menghindar dari Makanan dan Minuman yang terlarang
• Berbicara kalimat yang baik -Kebenaran
• Mengurangi Kemarahan
• Tetap menjaga Lidah terbasahi dengan Dhikrullah
atau ingatan yang esensi.
• Rahasia SIWAK (tusuk gigi) adalah kayu pentanahan
untuk membuang energi negatif dari mulut.
• Karena dia mengatakan : Wa in min shayyin illa
yusabhih bihamidiwa laakin laa tafqahoona
tasbihahum Itu artinya Segala sesuatu hadir dalam
Pepujian kepada Nya – bahkan sebuah batu karang
juga memuji Nya – dia memiliki Energi Atom.
Dampak Berbahaya

Mulut adalah Saluran untuk Energi dan Makanan untuk pemeliharaan keberadaanmu, begitu kamu makan, 32 gigi mengunyah makanan yang penuh dengan energi.

• Kemudian energi itu dibagi di antara 16 gigi
mengambil energi baik.
• 16 gigi mengambil energi jahat.
• Energi itu kemudian disebarkan ke seluruh tubuh,
khususnya dikirim ke jantung. dan lambung.
• Makanan Sampah (minuman haram), dan kata-kata
buruk, sumpah serapah, bentakan, teriakan
kemarahan adalah Racun di dalam mulut dan kemudian
dikirimkan ke seluruh tubuh.
• Menuju/menyebabkan Penyakit Jantung dan semua
penyakit pencernakan.
• Doa Nabi s.a.w.untuk Siwak di dalam Mulut " Ya
Allah lindungilah jantungku dari sifat buruk,
kemarahan dan mempersekutukan apapun dengan
Engkau." Ini adalah doa yang dia panjatkan ketika
dia menggunakan Siwak. Menunjukkan bahwa terlalu
banyak keburukan yang masuk melewati mulut.

Proses Berserah Diri akan mengembalikan manusia kepada Citra Ilahi. Ini adalah citra Kemuliaan, Cinta, Kehormatan dan Adab (yang Baik).Bahwa Energi dialirkan kepada mahkota di kepala, Itu dijaga keselamatannya dengan sebuah "Penutup". Penutup kepala Shaykhs menekankan pentingnya menutupi Ubun-Ubun dan Taj atau Topi Segitiga di bawah Kain Turban menuding kepada Langit (Surga) memperlihatkan bahwa Islam-Iman-menggiring kepada Ihsan .

Agama plus Iman = Akhlaq Mulia. Kamu dapat membayang kan sebuah hubungan energi ke dalam jantung ruhaniah dari alam semesta dari Lataif/ Chakra mahkota kamu, sambil berniat bahwa kamu berjajar/ber-resonansi dengan maksud ruh tertinggi, sementara masih terhubung dengan baik kepada dataran fisik.

Bayangkan energi dari atas , semua terfokus kepada satu titik, pada puncak Turban dan seperti sebuah cahaya laser yang mencair memasuki Lataif/Chakra Mahkota. Kamu terbungkus di dalam diri sendiri dan tersambung dengan Bumi dan (alam) fisik dan kepada sumber ruhaniah pada waktu bersamaan dalam sebuah keseimbangan harmoni dengan alam semesta . Energi yang terfokus dari Surgawi kepada Mahkota Kepala. Kain Turban adalah cabikan kuburan dari pencari untuk mengingatkan dia bahwa hidup ini hanyalah sementara dan bahwa akhirat adalah tempat tinggal yang abadi (Eternal).

Rambut di Kepala : Untuk lelaki Rambut di kepala mengecilkan kekuatan spiritual dan memperbesar kekosongan dan kebanggan seperti halnya di hutan di mana binatang jantan menghiasi dirinya untuk menarik betina. Kemanusiaan tidaklah seperti binatang, peranan ilahiah bagi Manusia adalah mengabdi Kerajaan Ilahi . Keanggunan seorang manusia terletak pada Mahkota di Kepalanya.

Jenggot : Ini adalah Kekuatan Spiritual Manusia Surgawi. Malaikat akan mengerumuni Jenggot dan mengulasi rambut itu dengan kekuatasn malaikati.

Rahasia Mulut

Dijaga keselamatannya dengan SIWAK {tusuk gigi }
Mulut adalah seperti sebuah Bukaan Suci untuk Makanan, Napas, Perkataan. Ajaran Para Nabi bahwa mengendalikan lubang/bukaan mulut adalah menjadi perhatian tertinggi dan dapat medatangkan hadiah luar biasa atau hukuman abadi. Makanan yang kita santap penuh dengan energi, gelombang radio dan radiasi electromagnetik apapun ada di atmosphere dan memancarkan (energi) dari ciptaan yang diserap ke dalam makanan yang kita santap, udara yang kita hirup.

Energi ini berkumpul di dalam mulut dan akan dicoba diserap olhe gigii dan kemudian dikirimkan ke dalam tubuh, dimana itu akan dibawa ke jantung dan ke dalam darah dan kemudian ke daerah lambung. Jika energi ini Buruk atau dikuasai energi negative, maka Penyaklit Fisik dan Spiritual terjadi. Kebencian menghancurkan gigi, energi Buruk menggelapkan dan melemahkan jantung dan meracuni tubuh.

SIWAK adalah tongkat pentanahan yang akan menarik keluar energi negative dari mulut. Jika energi negative ada dalam mulut, perkataan seseorang adalah seperti api, apabila energi positive ada dalam mulut itu seperti pemanis yang orang dapat menyadap manfa’at darinya.

Doa Nabi s.a.w. adalah " Ya Rabbi sucikanlah jantung ku dari pikiran dan tindakan buruk dan kemarahan " apabila kita menggunakan Siwak yang dibuat dari akar pohon tertentu. Di bagian belakang kita akan mendapati bahwa hadiah tertinggi dari Allah adalah Puasa". Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Mulut ini adalah pernyataan/peragaan Ahad Nya dan Lidah yang menyanyikan Pepujian bagi Nya adalah bukaan luar biasa yang menjaga keselamatannya bagi Bukaan Tertinggi dari Jantung bersendi kepada kelestariannya

posted by mevlanasufi at 11:33 PM

Read more >>>>

Al Fatiha

 Print Halaman Ini