"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak" (Ar-Rahman: 37)





















Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi Muhammad ibn Abd Allah Salla Allahu ’alayhi wa alihi wa sallam
(2) Abu Bakr as-Siddiq radiya-l-Lahu ’anh
(3) Salman al-Farsi radiya-l-Lahu ’anh
(4) Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr qaddasa-l-Lahu sirrah
(5) Ja’far as-Sadiq alayhi-s-salam
(6) Tayfur Abu Yazid al-Bistami radiya-l-Lahu ’anh
(7) Abul Hassan ’Ali al-Kharqani qaddasa-l-Lahu sirrah
(8) Abu ’Ali al-Farmadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(9) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani qaddasa-l-Lahu sirrah
(10) Abul Abbas al-Khidr alayhi-s-salam
(11) Abdul Khaliq al-Ghujdawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(12) ’Arif ar-Riwakri qaddasa-l-Lahu sirrah
(13) Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(14) ’Ali ar-Ramitani qaddasa-l-Lahu sirrah
(15) Muhammad Baba as-Samasi qaddasa-l-Lahu sirrah
(16) as-Sayyid Amir Kulal qaddasa-l-Lahu sirrah
(17) Muhammad Bahaa’uddin Shah Naqshband qaddasa-l-Lahu sirrah
(18) ‘Ala’uddin al-Bukhari al-Attar qaddasa-l-Lahu sirrah
(19) Ya’quub al-Charkhi qaddasa-l-Lahu sirrah
(20) Ubaydullah al-Ahrar qaddasa-l-Lahu sirrah
(21) Muhammad az-Zahid qaddasa-l-Lahu sirrah
(22) Darwish Muhammad qaddasa-l-Lahu sirrah
(23) Muhammad Khwaja al-Amkanaki qaddasa-l-Lahu sirrah
(24) Muhammad al-Baqi bi-l-Lah qaddasa-l-Lahu sirrah
(25) Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qaddasa-l-Lahu sirrah
(26) Muhammad al-Ma’sum qaddasa-l-Lahu sirrah
(27) Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi qaddasa-l-Lahu sirrah
(28) as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(29) Shamsuddin Habib Allah qaddasa-l-Lahu sirrah
(30) ‘Abdullah ad-Dahlawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(31) Syekh Khalid al-Baghdadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(32) Syekh Ismaa’il Muhammad ash-Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(33) Khas Muhammad Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraghi qaddasa-l-Lahu sirrah
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni qaddasa-l-Lahu sirrah
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri qaddasa-l-Lahu sirrah
(37) Abuu Muhammad al-Madanii qaddasa-l-Lahu sirrah
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani qaddasa-l-Lahu sirrah

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman Sayyidanaa Mahdi Alaihis Salaam 
wa yaa Shahibal `Unshur Sayyidanaa Khidr Alaihis Salaam

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, ahsa nahdha bi-fadhlillah .
Al-Faatihah













































Mawlana Shaykh Qabbani

www.nurmuhammad.com |

 As-Sayed Nurjan MirAhmadi

 

 

 
NEW info Kunjungan Syekh Hisyam Kabbani ke Indonesia

More Mawlana's Visitting











Durood / Salawat Shareef Collection

More...
Attach...
Audio...
Info...
Academy...
أفضل الصلوات على سيد السادات للنبهاني.doc.rar (Download Afdhal Al Shalawat ala Sayyid Al Saadah)
كنوز الاسرار فى الصلاة على النبي المختار وعلى آله الأبرار.rar (Download Kunuz Al Asror)
كيفية الوصول لرؤية سيدنا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم (Download Kaifiyyah Al Wushul li ru'yah Al Rasul)
Download Dalail Khayrat in pdf





















C E R M I N * R A H S A * E L I N G * W A S P A D A

Jumat, 04 Januari 2008

“Suluk Panggung”

Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi

Dumununging laku iman sayekti



Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran



Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim



Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran



Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti





Manunggaling sirring kamanungsan

Amarsudi luhuring sifat kautaman

Kamiling taqwa kamaling iman

Mungguh sujud dumateng Pangeran

Ungguling agama lan kabudayan

Nedya jati pamoring sangkan paran



Ingkang silih warna puputing mahkuta

Semuning ajining busana tapa

Mungguh jatining pakerti utama

Usadha laku binangun bharata



Bagaimana memimpin diri sendiri dan orang lain dengan berbekal cahaya cinta dalam ruang keimanan dan ketaqwaan kita kepada Gusti Allahu Rabbi? Dalam suatu bentang zaman yang panjang, jarak antara kita kini dengan Hadrat Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, Sanak keluarganya, Khalifahnya, Sahabatnya, serta para Mutawakilnya seperti Wali Songo yang memperjuangkan menyebarnya hikmah syahadatain di seluruh penjuru nusantara, bahkan mencapai wilayah Asia Tenggara. Terasa jauhkah jarak kita dengan Rasulullah?

Catatan sejarah hidup kita akankah dibiarkan seperti bunga teratai yang terapung di atas ruang permukaan air telaga kehidupan, yang diam tanpa suatu hikmah ataupun khazanah bukti nyata apapun, hanyakah sejarah kita nantinya cukup hanya dengan kesaksian gerak detak detik perubahan waktu semata? Sejarah kita tergantung kita..!!!

Meneruskan perjuangan suci kedua orang tua kita dalam mendidik dan membesarkan, serta membekali kita dengan ilmu yang bermanfa’at secara lahir maupun bathinpun bukanlah hal yang mudah untuk ditebus hanya dengan persembahan harta benda, kederajatan hidup, ilmu yang tinggi, istana duniawi yang megah, ataukah pasangan hidup yang berparas elok sekalipun? Belumlah tentu diterima oleh kedua orang-tua kita, bilamana kita justru melalaikan adabul kharimah?, akhlaqul hasanah?, atau wujud pengabdian anak yang shalih sebagai penerus sejarahnya, dan menyempurnakan dharma bhakti kita sebagai abdillah yang kaffah? Syahadat dan syahadatkan selalu lahir bathin..

Sudah kaffahkah Cinta bhakti kita tulus lahir bathin mengabdi dan memuliakan kehormatan orang tua kita pada setiap sujud kita ke Hadrat Illahi Robbi? Doa dan cinta yang hidup dalam setiap sujud, syukur, dan ta’lim anak pada Walidannya adalah Jannatul Dunya, ridho Allahu wa ridho wali, atau “Pangestuning walidanira neku swarga dunyaning sira” pitutur Kanjeng Sunan Gunung Jati kepada Sunan Fattah, yang akhirnya merebut Batavia dari kekuasaan Kompenial VOC Belanda dan menganti namanya sebagai Darul Fattahillah, Jayakarta.



Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi

Dumununging laku iman sayekti



Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran



Bercampurnya mitologis, pencarian jati diri, pengolahan kepribadian, siklus nasib, kisah asmara, ataupun pengalaman bathin akan menjadikan seseorang dapat berada pada kondisi di antara realitas dan surealitas psikis, atau di antara alam wujud dan alam bathiniyahnya sendiri. Hal macam itu pula yang terkadang sulit dicerna, difahami, atau dimengerti oleh pihak yang belum pernah mengalami risalah pengalaman-pengalaman bathiniyah tersebut, rahasiakan saja..



Rahasiamu adalah untuk dirimu sendiri?

Hanya Allah dan dirimu.



Adalah ketika mereka berjuang dengan sadar, jeli, tekun serta totalitas dalam merintis suatu pembaharuan keadaan sosial suatu lingkungan masyarakat, demi membangun karakteristik generasi penerus, dan mencetak suatu identitas sistim dan pola kehidupan bermasyarakat yang madani dengan catatan sejarah, serta berbagai bukti nyata didalamnya. Akankah mengulang sejarah? Ataukah hanya sekedar hikayat semata? Demi masa depan anak cucu, kita bermajelis!

Singkat kata, semua cita-cita akan kembali lagi kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita mendukung sepenuhnya perjuangan para Ulama kita? Misalnya, Kanjeng Ustadz Muhammad Ali Al Harist Bin Ahmad Harist Bin Haji Muhammad Minan Bin Abdillah yang kita kasihi di Pondok Panggung Majelis Darul Huda yang menjadi basis harapan nyata, serta titik temu ukhuwah lahir bathin, hati kita bersama?

Ada benang merah yang menyatukan seluruh untaian warna-warni benang yang merajut indahnya kalimat lafal “Allahu” dan lafal kalimat “Muhammad” itu di atas mihrab hijab Pondok Panggung Majelis Darul Huda Lenteng Agung! Permadani merah, ataukah jubah merah, sebagaimana kesungguhan niat berjuang dalam ibadah dan berbhakti kepada leluhur, trah darah kedua orang-tua kita, keluarga besar, dan segenap sahabat. Inilah paras keluhuran akhlaqul mu’min atas berpendarnya hikmah niat dan doa jama’ah dari setiap tetesan hikmah tuntunan nyata Kalam, dan bimbingan Imam majelisnya, masya Allah..



Cahaya keimananmu..

Melesat jauh dan tinggi

Menembus segala dimensi

Menerangi semesta raya



Mencari wilayah Sidhratul Malikul Arsyil Mulkillahi

Mengunjungi ruang Sidhratul Muntaha



Dan melimpahkan cahaya maghfirah

Serta syafa’at Rasulullah

Ke segala sudut alam kubur muslimin



Tiada batas jarak ruang maupun waktu

Antar zaman dan risalah direkatkan ruh cinta



Terpujilah Cahaya Ilalhi

Terpujilah Cahaya Rasulillahi



Dan, demikian pula sebaliknya?, bagaimana nasib lakon birrul walimah Kanjeng Ustadz Ali Al Harist, sang Imamnya Majelis Darul Huda pun seyogyanya juga didukung sepenuhnya oleh doa, cinta, dorongan semangat, serta karakteristik unik setiap kepribadian ahlul jama’ahnya juga. Habib Ma’mun Ar Ridwan juga jangan sampai ketinggalan gerbong doa birrul walimahnya, njih mboten? Sepanjang zaman saling berkaitan rasa, saling mendukung, serta saling mawas diri bersama, Allahumma amiin..



Di dalam ta’lim majelis Duniawi

Manusia sekedar duduk di halaqoh dzikir

Sudah tiada mencari rohani dzikir

Dan hawa bathin semakin kikir



Hanya memandang alam semesta

Bukan takut atas limpahan MurkaNya



Bilamana manusia yang berdzikir

Hanyalah nafas dan suara

Memandang huruf dan kalimat

Tiada jelas arah pandangnya

Tiada dasar ucap pemahamannya

Mencapai ketiadaanlah yang dicapainya..



Dan Nurul Huda bertahta didalam rahasiaNya

Majelis Darul Huda yang menjaga syahadatainNya

Hikmah Al Qur’an dan Hadist Rasulullah kuncinya

Persaudaraan lahir bathin abadi sepanjang masa



Telah berkesudahankah tanda keteguhan nyawa iman pada ketentuan ma’rifah? Telah berkesudahankah ketentuan ma’rifah pada akal budi pekerti pemikiran dan perasaan kita? Telah berkesudahankah ketentuan ma’rifah pada akal budi pekerti penglihatan bathin kita? Telah berkesudahankah budi pekerti perbuatan atas jasad kita? Telah berkesudahankah budi pekerti kita? Jawabnya tidak bersama Al Huda..



Marilah kita koreksi ulang diri kita sendiri

Dan mempertanyakan pada hati nurani



Apa yang telah kita sumbang-sihkan bagi Majelis?

Selain apa yang telah peroleh dari Majelis..?



Bi husnil adabul birrul Imanan minallahu wa birrul hikmah nurul qur’anil karimah alla sholihin wal muttaqin! Kesemuanya itu akankah kita relakan berlalu bersama petualangan sang waktu? Adakah hakikatnya Al Huda telah kita temukan dan rasakan keindahannya serta kenyamanannya dalam ruang bathin di sepanjang waktu kita berkumpul bersama, untuk berdzikir dan bersyukur bersama. Doa kita bersama itulah yang secara nyata teruji mampu menyatukan segala perbedaan warna yang ada, yang datang akan kembali, yang hilang akan dimunculkan kembali. Cahaya petunjukNya itulah yang menerangi majelis kita..



Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim



Adab dan akhlaq menjadi bahasa lahir maupun bathin setiap majelis di seluruh penjuru alam dan dunia, la jinni wal insi? Mengapa? Sebab, memang demikianlah bukti nyata keluhuran warisan wasilah wa risalah syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah. Semuanya sudah saling kenal dan membuktikannya. Hanya melalui adabul syahadatain, jarak kita dengan Gusti Allahu Rabbul Haqq dan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah terasa demikian teramat dekat, bahkan di setiap tetes air mata kangen..



Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran



Syaikh Maulana Ahmad Fariduddin Attar dalam Suluk Musyawarah Burung, atau Manthiq Al Thayr, menjelaskan ketika terjadi musyawarah para burung yang bermaksud mencari raja mereka yang bernama Raja Simurg. Dalam kisah suluk itu diriwayatkan bahwa para burung berkumpul dan bermusyawarah untuk mencapai batas ujung dunia, rahasia hakikat, arah dan tujuan pengembaraan kehidupan ini. Hayatul manakib..



Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti



Dan, dengan bahasa sastra yang indah, untaian syair suluk rohani itu menjadi perenungan untuk memahami arti dan beragam tafsir didalam sastranya, misalkan:



1] Thalaab



Lembah pencarian, disebut juga sebagai “Awareness of Thinking and Born to be King”. Kita saling mencari sesuatu yang tidak kita fahami dengan pemikiran-pemikiran tentang apa arti dan tujuan hidup serta kehidupan ini? Dan kita kadang tidak terfikir untuk menaklukkan segala permasalah hidup ini dan memenangkannya dan menjadi Raja atas sifat, watak, nafsu, dan diri kita sendiri. Bermula dengan pemikiran dan menguasainya.



Wahay hambaKu..



IlmuKu itu

Menceraikanmu daripadaKu



Dan KaruniaKu

Memalingkanmu daripadaKu





Maka langkahmu kepadaKu

Adalah langkahKu

Kepadamu jua..



Maka ingkarmu kepadaKu

Adalah MurkaKu

Bagimu pula..



Raja yang menguasai lahir bathinnya sendiri, berdaulat dalam wilayah lubuk hatinya sendiri, berkuasa dalam ruang sidang daya pemikirannya sendiri, membaur dan mengendalikan kesadaran jiwa dari seluruh unsur nafsu jasmani dan rohaninya. Mengenali diri sendiri, dan memahami arti arah hidupnya sendiri.



2] Isyq



Lembah cinta kepada Rabbi Illahi, atau “Awareness of silence”, jikalau engkau diam, maka Rabbmu yang berbicara langsung kepadamu. Rindumu kepada Rasulullahmu itu adalah sumber kekuatan perjalanan penyempurnaan amal lahiriyahmu di dunia dalam limpahan cahaya syafa’atnya. Dan rasa kangenmu karena rasa takutmu kepada Allahu Akbar Rabbmu akan segala MurkaNya itulah derajat status keabdillahanmu yang sebenarnya.



Hai hamba..!



Bila engkau menghendakiKu

Maka tinggalkanlah apa-apa selainKu

Sekalipun apa-apa yang selainKu itu

Pernah melihatKu

Dan tinggalkanlah pula apa yang telah dilihatnya

Walaupun denganKu ia mendatangimu



Hai hamba..!



Bila engkau merasakan ketentraman

Dengan perkenalan selainKu

Maka hendaklah engkau campakkan

Perkenalanmu kepadaKu itu

Dibalik punggungmu..



Tinggalkan dirimu..!

Dalam engkau meninggalkan dirimu

Engkau akan memperoleh kemenangan atasnya



Bila engkau sudah merasa cukup

Sudah tidak lagi membutuhkan pada dirimu

Walaupun dirimu dalam kebinasaan sekalipun

Itulah arti kemenanganmu atas dirimu

Hamba dengan rahasia cinta pada Rabbnya



Hukum kenyataan itu seluruhnya adalah ketakutan yang sesungguhnya, rasa takut kepada Allahu Rabbul Hakim! Dan bahaya pengkhianatan kebenaran selalu saja rapat mendampingi setiap hokum, karena segala yang nyata dari apa yang lahiriyah itu akan berkesudahan pada hakikat kelenyapan. Jadi, syarat suatu keridhaan itu ialah penilaian antara penolakan dan pemberian Allah atas segala maksud ataupun hajat adalah sama.



3] Ma’rifah



Lembah pemahaman atas kesadaran, atau pengenalan akan risalah ketuhanan, atau “Awareness of success & the power of love”. Ilmu itu adalah lisan lahiriyahmu, dan ma’rifah itulah lisan bathinmu dengan Rabbmu. Monggo, belajarlah Ilmu Tawhid tapi dengan syari’at..



Ilmu itu

Minuman Jiwamu



Ma’rifah itu

Minuman Hatimu



Hukum itu

Minuman Akalmu



Dan keputusan itu

Minuman Rohmu



4] Istighraaq



Lembah kepuasan hati, atau “Awareness of soul & the power of soul”, kekuatan dari sang jiwa. Gusti Allahu Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Dhahir dan Yang Maha Bathin, dan Allahu Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di dalam fikiran, perasaan, maupun relung hati kita. Suka maupun duka sudah tiada beda rasanya, selain takut dan kangen kepada Dzat Allahu Azza Wa Jalla dalam jalan hidup ini. Kebahagiaan hati juga rahasia..



Aku telah mendahuli bagian-bagian

Maka denganKu

Telah terbagi-bagi

Bukan pembatasan



Dan Aku telah mendahuli pembatasan

Maka denganKu

Telah berbatas

Bukan dengan batas ruang atau waktu

Aku telah mendahului segala rahasiamu



Aku telah mendahuli jarak

Maka denganKu

Yang teguh bukanlah jarak

Ataupun batas hawa atau udara

Selain Cahaya di atas cahaya

Aku telah mendahului setiap kejadianmu



5] Tawhiid



Lembah kesatuan dengan segala keindahan rahasia segala rahasia kesemestaan asal muasal dan tujuan akhir kehidupan didalamnya, “Awareness of wisdom”, air kehidupan yang suci adalah sumber kebijaksanaan hidup yang sejati. Bila dengan perantauanmu itupun hatimu masih saja murung oleh gemerlapnya kemilau sinar dunya? Ghirah boleh-boleh saja, asalkan jangan lupa diri saja, njih..

Maka berdirilah di hadapan dunya, dan sujudlah di hadapan Allahu Rabbus samawati wal ardhi. Dan yang membeberkan hajat kebutuhan dan keluh-kesah kepadaNya, telah jelas bahwa maksud tersembunyi yang terlontar dari lisannya itu sebenarnya adalah jalan pelariannya. Allahu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui niat hati..



Wahai.. hambaKu



Simpanlah hajat kebutuhanmu

Dalam hatimu

Dan janganlah engkau beberkan



Niscaya bagimu

Akulah yang menjadi tempat pelarianmu

Dan bukanlah lisanmu..



6] Hayrah



Lembah ketakjuban, “Awareness of vision”, Tuhan pun bervisi. Melalui pembuktian-pembuktian tentang suatu kebenaran, akhirnya kebenarannya yang membuktikan kuasa kemuliaan Al Haqq-Nya. Akal budi kemanusiaanku setiap pergeseran detak detik waktu telah menjelaskan kepadaku, bahwa kediamanku didalam hikmah kebajikan dan kebijaksanaan. Sementara rumah kebijaksanaanku tiada berpintu, tiada berjendela, dan juga tiada berpagar, sehingga siapapun akan mudah memasuki celah pintunya. Kebenaran dan kebathilan akhirnya dapat tampak tiada berbeda, sebab yang indah ataupun yang terburuk sekalipun dengan mudah dapat menerobos masuk ke ruang sanubari.

Seluruh rumah dipenuhi dengan pintu-pintu, dan itulah rumah tanpa atap tanpa naungan, tiada juga tanah untuk segala sesuatu boleh berkata sesuka hati, pengaduan apapun kuterima, dengan suka rela aku dimusuhi, dan aku berada di setiap kesadaran, juga kepentingan orang lain yang mendatangiku. Setiap tamu adalah rizqiku dari Allahku!



Mengapa ketika bermajelis setiap waktu

Di setiap sampai satu pertanyaan kepadaku



Akhirnya yang menjawab bukan akal budi

Melainkan kesadaran dalam kesadaran



Atas rahasia hikmah dan Haqq pertemuan

Jawabannya pertanyaan itu sendiri..



7] Fanaa’



Lembah kefakiran, “Awareness of surrender & The power of zero”, kekuatan yang muncul dari keikhlasan hati. Perjalanan ibadah, sebagaimana suatu pengembaraan bathiniyah, atau pengelanaan rohaniyah dalam rangka proses mendidik kesadaran diri untuk lebih merasa takut [khauf] kepada Allah. Dan merasa selalu kangen dan jatuh cinta kepada Kanjeng Sayidina Nabi Muhammad Rasulullah.

Hanya pada dasar rasa takut dan rasa cinta, itu saja. Dan jalan rohani pada zaman ini sangatlah penting menjadi alas kaki perjalanan para Pemimpin Agama dimanapun berada, sebab jalan rohani merupakan jalan untuk mensucikan lahir dan bathin dari segala amal perbuatan yang munkar dan bathil kepada Gusti Allahu Rabbil Haqq.

Bercermin diri dengan menatap luasnya wajah angkasa. Dan sebelum mensucikan diri dimulai dengan meneguhkan kehendak, sehingga cermin penglihatan rohaninya, kepekaan bathinnya, kesadaran hatinya akan semakin terang dan jelas dalam melihat kenyataan hidup, bagaimanapun alur jalan ceritanya, akan diterima dengan kedalaman iman dan ketaqwaan, bukan lagi dengan nafsu emosional belaka. Bagaimana dengan semua yang bermula dari lidah?



Ya Allah

Tuhan Sesembahanku



Denganku daku hina

DenganMu daku mulia



Denganku daku papa

DenganMu daku kaya



Denganku daku lemah

DenganMu daku tangguh



Maka pujilah siapapun mereka untuk segala sesuatu yang telah mereka capai dengan perjuangan ibadah yang tulus, dan bukannya memperlihatkan bagaimana buruknya orang lain karena perbuatannya, tapi yang terfikir adalah bagaimana kita dapat berperan semampu kita dalam membantu orang lain dapat menerangi kehidupannya masing-masing dengan bahasa rasa takut kepada Allah, serta rasa kangen kapada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, dan rasa cunta kepada kedua orang-tua di dunia secara lahir maupun bathin. Lahir bathin untukMu Ya Allah Pemegang Sakaratul Mautku..



Pujilah siapapun mereka

Tentang beberapa hal sepele di hari ini



Dan siapapun mereka

Akan lebih tulus lebih berbuat baik esok hari..



Diri kita seutuhnya, waktu, fikiran, jiwa, perasaan, watak, kekuatan, dan kelemahan kita, menjadi bahan renungan rutin sebelum mata terpejam untuk melupakan seluruh kejadian hidup di sepanjang hari yang telah dilalui. Katakanlah:



Inilah hambaMu yang hina dina

Ya Allahu Rabb

Lahir bathin ini semua MilikMu

Lakukanlah denganku

Apa yang menjadi KehendakMU

Ya Allahu Rabb



Dan janganlah diri kita biarkan terjebak dalam perangkap permainan duniawi? Ketika mata kita hanya terpusat pada rasa, kesenangan, tuntutan, kepentingan dan kebutuhan duniawi semata. Biarlah kita menyadari betapa sesungguhnya hak milik [qodhar] dan prestise [qodho’] itu hanyalah bersifat sementara saja.



BagiNya

Wajah tanpa rupa



Bagi Nya

Mata tanpa kedip



BagiNya

Ucap tanpa huruf



BagiNya

Ilmu tanpa halaman



Baginya

Dekat tanpa batas



Baginya

Jauh tanpa hingga



Di sinilah harapan nyata. Di Saung Panggung Darul Huda Lenteng Agung ada harapan untuk masa depan. Maka, janganlah kita pudarkan sendiri pijar cahaya ketaqwaan yang telah bersinar dalam setiap hati seluruh Jama’ah Majelis Darul Huda Lenteng Agung, dan berkumpul terang benderang menerangi wilayah-wilayah pemikiran yang tiada terduga sebelumnya, bahwa Janji Allah itu benar!, dan kita membuktikannya bersama-sama..

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses mengkaji jati diri, seseorang tidak dapat melakukannya bilamana dalam proses pencariannya hanya melalui pemikiran logika, atau hal-hal yang terkait dengan masalah intrelektualitas semata. Sebab mendekati Rabb secara intelektual tidaklah akan sampai pada makna hakiki.

Dan, makna hakiki juga tidaklah pula dapat dicapai hanya dengan modal perasaan kerinduan. Sebab, pengalaman rohaniyah ini harus melibatkan seluruh proses rasionalitas dan spiritualitas, yang mengungkap segala rahasia tentang manakib fitrah, atau hakikat qodrat setiap insani di muka bumi ini.



Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi dadhos pusoko sejati

Dumununging laku iman sayekti



Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran



Uswatun hasanah dalam pembawaan diri, salam taklim seluruh sanubari suci, tuntunan hidupnya sholat yang nyata, Allahu Robbi menjadi pusaka sejati, tempatnya perjalanan iman yang nyata. Kedamaian kehidupan masyarakat beriman dan bertaqwa yang sejati yang diwujudkan, perjalanan Darul Huda yang luhur dan meluhurkan, Illahi Robbi menjadi pusat kekuatan adab pergaulan masyarakat.



Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim



Ihdinas shirathim mustaqim, menyembah Gusti Illahi dengan ta’lim, pengamalan syari’at agamanya muslim, senantiasa berjuang melestarikan akhlaqul karim.



Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran



Adab tata kepribadian diri membebaskan kecerdikan, getaran rasa mendamaikan setiap perbedaan, Nurul Huda yang menjadi pusat kekuatan tali silahturahmi, Getaran bathin yang menjadi juru kunci persaudaraan.



Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti



Amalnya sanubari dan setia pada janji, ukhuwah lahir bathin yang menyatu, singgahsananya para mukmin sejati, yang cinta kepada kanjeng Nabi secara murni.



Manunggaling sirring kamanungsan

Amarsudi luhuring sifat kautaman

Kamiling taqwa kamaling iman

Mungguh sujud dumateng Pangeran

Ungguling agama lan kabudayan

Nedya jati pamoring sangkan paran



Manunggalnya perjalanan kesadaran sifat kemanusiaan, Yang memperjuangkan luhurnya sifat keutamaan, Kamilnya taqwa Kamalnya iman, Hingga mencapai sujud kepada Pangeran [yang dimaksud adalah Allah], Unggulnya agama dan kebudayaan, membawa kebenaran sebagai pamornya perjalanan hidup.



Ingkang silih warna puputing mahkuta

Semuning ajining busana tapa

Mungguh jatining pakerti utama

Usadha laku binangun bharata



Yang berganti faham sirnanya mahkota, semunya pesona tentang busana dzikir, untuk mencapai kesejatian pekerti yang utama, berupaya menjalani membangun persaudaraan.









Menutup obrolan kali ini, kepada Kanjeng Sunan Kali Jogo di Jabal Marwah Al jawi, Kanjeng Syaikh Maulana Hasan As Syadzily berpesan, “Ketahuilah, Ngger Sahid Abdurrahman, bahwa para Ulama adalah Al Mutawakilnya Kanjeng Rasulullah. Maka, mohonlah fatwa kepada para Ulama tentang suatu perkara di setiap Majelis, agar hati nurani tiada mudah dibengkokkan oleh perangkap Duniawi, dan bathin tiada gampang dibelokkan oleh fitnah lahir maupun bathin, serta agar fikiran tiada rapuh terjebak oleh bisikan nafsu syaithan yang sesat..!”



Salam kangen bathin..

Mohon ma’af lahir dan bathin

Jazakallahu khairan wa barakallahu

Mudzakarah~15 Tambun Bekasi, 28/8/2006

sumber : http://halaqoh14.multiply.com/journal

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

0 Komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda