"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak" (Ar-Rahman: 37)





















Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi Muhammad ibn Abd Allah Salla Allahu ’alayhi wa alihi wa sallam
(2) Abu Bakr as-Siddiq radiya-l-Lahu ’anh
(3) Salman al-Farsi radiya-l-Lahu ’anh
(4) Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr qaddasa-l-Lahu sirrah
(5) Ja’far as-Sadiq alayhi-s-salam
(6) Tayfur Abu Yazid al-Bistami radiya-l-Lahu ’anh
(7) Abul Hassan ’Ali al-Kharqani qaddasa-l-Lahu sirrah
(8) Abu ’Ali al-Farmadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(9) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani qaddasa-l-Lahu sirrah
(10) Abul Abbas al-Khidr alayhi-s-salam
(11) Abdul Khaliq al-Ghujdawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(12) ’Arif ar-Riwakri qaddasa-l-Lahu sirrah
(13) Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(14) ’Ali ar-Ramitani qaddasa-l-Lahu sirrah
(15) Muhammad Baba as-Samasi qaddasa-l-Lahu sirrah
(16) as-Sayyid Amir Kulal qaddasa-l-Lahu sirrah
(17) Muhammad Bahaa’uddin Shah Naqshband qaddasa-l-Lahu sirrah
(18) ‘Ala’uddin al-Bukhari al-Attar qaddasa-l-Lahu sirrah
(19) Ya’quub al-Charkhi qaddasa-l-Lahu sirrah
(20) Ubaydullah al-Ahrar qaddasa-l-Lahu sirrah
(21) Muhammad az-Zahid qaddasa-l-Lahu sirrah
(22) Darwish Muhammad qaddasa-l-Lahu sirrah
(23) Muhammad Khwaja al-Amkanaki qaddasa-l-Lahu sirrah
(24) Muhammad al-Baqi bi-l-Lah qaddasa-l-Lahu sirrah
(25) Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qaddasa-l-Lahu sirrah
(26) Muhammad al-Ma’sum qaddasa-l-Lahu sirrah
(27) Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi qaddasa-l-Lahu sirrah
(28) as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(29) Shamsuddin Habib Allah qaddasa-l-Lahu sirrah
(30) ‘Abdullah ad-Dahlawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(31) Syekh Khalid al-Baghdadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(32) Syekh Ismaa’il Muhammad ash-Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(33) Khas Muhammad Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraghi qaddasa-l-Lahu sirrah
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni qaddasa-l-Lahu sirrah
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri qaddasa-l-Lahu sirrah
(37) Abuu Muhammad al-Madanii qaddasa-l-Lahu sirrah
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani qaddasa-l-Lahu sirrah

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman Sayyidanaa Mahdi Alaihis Salaam 
wa yaa Shahibal `Unshur Sayyidanaa Khidr Alaihis Salaam

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, ahsa nahdha bi-fadhlillah .
Al-Faatihah













































Mawlana Shaykh Qabbani

www.nurmuhammad.com |

 As-Sayed Nurjan MirAhmadi

 

 

 
NEW info Kunjungan Syekh Hisyam Kabbani ke Indonesia

More Mawlana's Visitting











Durood / Salawat Shareef Collection

More...
Attach...
Audio...
Info...
Academy...
أفضل الصلوات على سيد السادات للنبهاني.doc.rar (Download Afdhal Al Shalawat ala Sayyid Al Saadah)
كنوز الاسرار فى الصلاة على النبي المختار وعلى آله الأبرار.rar (Download Kunuz Al Asror)
كيفية الوصول لرؤية سيدنا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم (Download Kaifiyyah Al Wushul li ru'yah Al Rasul)
Download Dalail Khayrat in pdf





















C E R M I N * R A H S A * E L I N G * W A S P A D A

Kamis, 16 Juli 2009

Tembang Pameling

Sumber :http://www.kapanlagi.com/

permenkaretmolor
Petuah bijak dari pak Dalang

Ojo turu sore kaki
Ono dewo nganlang jagad
Nyangking bokor kencanan ne
Isi ne dungo tetulak, sandang kalawan pangan
Yoiku bagian ne nipun
Wong melek, sabar, narimo


Ono tulising Hyang Widi
Yen wong sabar kan narimo
Kinodrat dowo umur e
Sugih kadang pawong mitro, kinacek ing sasomo
Yen kujur o wong iku
Gampang ngone antuk tombo

Terjemahan bebas :

Jangan tidur sore teman
Ada dewa mengitari bumi
Membawa “tas” emas nya
(yang) Berisi doa penolak (bahaya), (doa mudah mendapat) pakaian dan (doa mudah mendapat) makanan
Ya itu adalah bagian (jatah) dari
Orang yang suka memanfaatkan waktu, bersabar, dan pemaaf

Ada tulisan (petunjuk) dari sang pencipta
Kalau orang sabar dan pemaaf (nerimo)
Di kodratkan berumur panjang
Banyak teman, mempunyai kelebihan di bandingkan yang lain nya
(Jikalau) Diwaktu orang tersebut mendapatkan musibah
(maka) akan gampang mendapatkan jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Pembahasan

Pertama kali waktu saya mendengar kidung tersebut dikidungkan sama kakek saya waktu beliau bermain catur bersama teman nya… (saya pas itu suka sekali ikut njagong teman teman kakek, sebab mesti ada cemilan maklum anak usia 5-6 tahunnan masih suka suka nya makan)…. Kemudian kidung tersebut sering terdengar juga pas waktu saya diajak bapak saya untuk nonton wayang… ya pas usia sd – smp an gitu (awalnya saya suka nonton wayang gara2 kakek saya kalo ngajak nonton wayang mesti membelikan makanan soalnya :D jadi saya ikut terus kalo diajak dengan berharap nanti dibelikan makanan …. hehehehehehe) sampai awal masa perkuliahan saya benernya masih ga mudeng tentang kebijaksanaan dari kidung tersebut….. kemudian baru pada akhir2 ini saya baru mengerti (mungkin) dari maksud kidung tersebut…. Begini pengertian kidung tersebut (menurut versi saya sih, mungkin versi ngawur :D tapi gpp yang penting kalo saya salah di ingetin ya)


Ojo turu sore kaki

Maksud kata kata ini adalah jangan suka tidur dikala waktu luang, luangkan lah waktu mu untuk hal hal yang bermanfaat ….. secara history masyarakat nusantara adalah kebanyakan petani maka waktu sore hari adalah waktu luangnya kaum petani maka saya mendapatkan kesimpulan seperti diatas, dan juga sebab kebanyakan penggemar wayang adalah petani (mungkin) sebab perkembangan wayang (kulit) melalui masa kerajaan Mataram (islam) yang kalo kita melihat peta pemetaan wilayah kerajaan nya ada buanyak areal persawahan nya dari pada lautan nya.


Ono dewo nganglang jagad, Nyangking bokor kencanane

Kalo disimpulakan kedua kalimat kata diatas maka membentuk arti banyak berkah atau keuntungan apabila kita memanfaat kan waktu luang yang disebabkan kita banyak berintraksi dengan banyak orang, tentu pemilihan orang untuk berintraksi disini sangat menentukan…. Ditandaskan dengan kata “bokor kencana”…. (mungkin) maksudnya orang orang yang berilmu atau mempunyai wawasan luas sabab kata bokor kencana bisa di analogikan sebuah pemikiran yang bersinar (luas) jadi kesimpulan nya….. berkawan dan berdiskusi dengan orang2 yang berpikiran luas….


Isine dungo tetulak, sandang kalawan pangan

(mungkin) artinya adalah dengan kita mendapatkan hikmah(pencerahan atau bertambah wawasan) dari berdiskusi kita gampang dalam menyelesaikan permasalahan dalam hidup.

Sandang dalam hal ini dimaksutkan bukan hanya baju akan tetapi esensi dari baju, apa esensi dari baju? Baju atau sandang esensi nya adalah kita tidak merasa malu atau rendah diri berarti dapat disimpulkan bahwa denag bertambah wawasan nya kita bisa menyebabkan kita bisa aktif dalam berdiskusi sehingga kita bisa slalu mengasah wawasan kita saling isi dan melengkapi, jadi makna sandang disini adalah esensi dari sandang tersebut jadi bukan sandang yang berarti pakaian :D

Pangan atau makanan (dlm bhs indonesia) kemungkinan memiliki arti “pangupo bogo” atau dalam bahasa keren nya pekerjaan… jadi dengan memiliki wawasan luas dan pemahaman tentang banyak “ilmu” dan informasi yang luas kita tidak sampai bingung dalam cari makan, sebab pada dasarnya manusia membutuhkan sumber energi yang diperolehnya dari (bahan) makanan kaya bakso, soto, mie goreng, dan lain sebagainya.. termasuk juga minuman nya hlo kaya es degan, teh, kopi dan lain lain :D

Jadi kesimpulan nya, bila kita berwawasan luas maka kita bisa mengerti dan menyelasaikan permasalan kehidupan (berkaitan dengan masalah masyarakat), kemudian kita tidak merasa redah diri serta kita slalu bisa hidup atau mencari pekerjaan yang baik dan terpuji untuk mecukupi kebutuhan kita.



Yo iku bagian ne nipun, wong melek, sabar narimo

Artinya semua itu adalah bagian atau lebih jelas nya hak dari orang yang suka memanfaatkan waktu dengan baik, sabar dalam belajar dan berdikusi serta senang mengakui kesalahan cara berpikirnya apa bila terjadi kesalahan dalam cara pandang alam pikirnya, memperbaiki kesalahan apabila terjadi kesalahan yang terjadi dalam alur berpikirnya (artinya tidak sombong dan egois)

Kesimpulan diatas berdasarkan kata sabar dan nerimo, kata sabar dan nerimo bila diartikan secara harafiah memang berarti pemaaf dan menerima, tapi bila kita lebih mendalami arti sabar dapat diartikan kita bisa menerima segala macam hal secara tulus dikarenakan kita sadar sesadar sadarnya dan mengerti apa yang benar secara fakta yang nyata dan bisa dibuktikan secara data yang bisa dipertanggung jawabkan, arti kata nrimo secara harafiah memang menerima akan tetapi arti menerima disini (mungkin) lebih dalam dari arti cuman “menerima” saja, artinya menerima pendapat atau hasil diskusi karena keyakinan akan kebenaran tentang hal tersebut dan kemudian dilakukan dan diyakini dengan sepenuh hati.



Jadi kesimpulan arti terhadap kelompok kata kata tembang petama adalah :

Ojo turu sore kaki
Ono dewo nganlang jagad
Nyangking bokor kencanan ne
Isi ne dungo tetulak, sandang kalawan pangan
Yoiku bagian ne nipun
Wong melek, sabar, narimo

“luangkan lah waktu luangmu untuk hal hal yang bermanfaat, dengan jalan berdiskusi dan beriterekasi dengan orang orang yang memiliki kebijaksana-an (kecerdasan) dan kelebihan dalam hal wawasan, sehingga dapat menyelesaikan segala permasalahan kehidupan, serta menjadikan (mu) tidak merasa menjadi rendah diri, dan bisa mencari sumber penghasilan yang terpuji (baik) guna pemenuhan kebutuhan kehidupan. Dan itu semua adalah hak dari orang yang bersabar serta giat dalam mencari (memperdalam) pengetahuan, dan menjalankan semua hal yang diketahuinya secara baik dan penuh dengan kesadaran.”

Kemudian kita branjak mencari makna kata kata dalam kelompok kata yang kedua

Ono tulising Hyang Widi, Yen wong sabar kan narimo, Kinodrat dowo umur e

Hmmmm kalo yang ini aga berbau spiritual kaya nya ya… ya walau saya ga seberapa ngerti tentang spiritual, tetep aja ngotot untuk menguraikan, ga papa ya hihihihihihihihihihi…… dalam kitab yang terjanjikan atau kadang biasa secara jamaknya “firman” atau dalam arti kata yang lain adalah “hukum alam” atau dalam bahasa jawa “jamak lumrah- nya” kalau orang tekun mencari keilmuan dengan jalan slalu bersabar (tidak mengikut sertakan egonya) akan mendaptkan umur yang panjang

Nah mungkin yang jadi pertanyaan adalah umur yang panjang? Koq bisa? Penjelasan nya gimana? Kalo ga salah gini (aduh udah jadi kebiasan kaya nya aku nulis mesti diawalin dengan gini dan gitu… tauk ah ) umur atau tingkat stress seseorang memicu tibulnya sakit pada tubuh kaya steees dan lain lain nya… apabila kita sadar dalam bersabar maka kita bisa mengurangi tingkatan streees kita… sehingga kita bisa meminimalkan…. Sekali lagi meminimalkan gangguan tubuh kita (penyakit) yang kita peroleh akibat dari gangguan saraf berpikir kita… nah jelas kan kenapa koq jadi panjang umurnya, mungkin analogi seperti itu yang digunakan.

Sugih kadang pawong mitro, kinacek ing sasomo

Nah yang ini keliatannya ga terlalu rumit, sugih kadang pawong mitro artinya banyak memiliki teman dan sahabat dikerenakan slalu terus mencoba berinteraksi dengan lingkungan.

Kemudian kinacek ing sasomo, artinya menjadi berbeda (melebihi) sesamanya….. jadi kaya alien kah? Huahahahahahahahahahaha iya kaya nya hehehehehehehe ga ding, gini hlo (aduh napa nih koq pake kata gini terus ) yang dibilang berbeda dengan sesamanya adalah menjadi tokoh atau ditokohkan atau dipercaya oleh lingkungan nya sebab dikarenakan wawasan dan kebijaksanaan-nya… jadi bukan kemudian berbentuk kaya alien huahahahahahahahahaha………

Yen kujur o wong iku, Gampang ngone antuk tombo

Artinya bila terkena sebuah masalah orang tersebut mudah memperoleh obat…

Nah maksutnya apabila orang itu mendapat (diberikan) sebuah masalah maka dengan cara pandangnya yang luas dan cara berpikir cerdas dan bijaksana dia bisa mendapatkan jalan keluar yang relative mudah bagi dia (dia ga tau bagi orang lain) dan cepat… sehingga dia bisa secara cepat mengambil kesimpulan dengan jalan sebuah pemetaan yang berdasar dari keadaan nyata sehingga dia bisa mengetahui celah mana dan hambatan dimana saja yang ada… kurang lebih nya kaya itu jadi……

Arti kelompok bait yang kedua berarti adalah :

Ono tulising Hyang Widi
Yen wong sabar kan narimo
Kinodrat dowo umur e
Sugih kadang pawong mitro, kinacek ing sasomo
Yen kujur o wong iku
Gampang ngone antuk tombo

“telah digariskan dalam kenyataan yang terjadi bahwa orang yang bersabar (tekun dalam memperdalam ilmu) dan menjalan kan ilmu (pengetahuan) tersebut mendapatkan umur yang panjang disababkan dia tidak merasa sombong dan egois (tetep santai santai aja), karena kelakuan nya itu dia gampang berinteraksi dengan semua orang sehingga mempunyai banyak kawan dan sahabat dimana saja dan di semua kalangan, kalo ternyata orang tersebut mendapatkan masalah maka dia dengan wawasan dan pengetahuannya bisa dapat mudah mendapatkan jalan keluar”

weda raga anggitanipun R. Ng. Ronggowarsito

Bunyi utuhnya demikian, dinyanyikan atau di lagukan dengan irama gambuh

I
Mangkene patrapipun
Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.

II
Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.

III
Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.

IV
Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.

V
Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.




Pembahasan

Wuiiiiih maknyus gitu pas aku membanca sastra diatas dengan bermodalkan kamus bahasa jawa yang dijual di toko buku dekat rumah, aku mulai untuk mengartikan satu persatu dengan….. ya ala kadarnya gitu maklum aku ga seberapa mudeng tentang sastra…. Abis dulu waktu sekolah sering mbolos :D

I
Mangkene patrapipun
Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.


dalam terjemahan bebas, maksud bebas disini adalah terjemahan dengan kebebasan saya hla soal nya saya ga seberapa mudeng :D, tp gpp cuak bebek aja….. hihihihihihihihihi…… “(harusnya)seperti ini perbuatannya, sedari muda slalu melakukan sebuah pencarian (dalam hal wawasan dan pengetahuan), dengan jalan mengurangi makan dan tidur, menahan hawa napsu dan selalu engutamakan perbuatan yang slalu bersabar dalam menghadapi segala macam situasi”
kemudian pada awal kata yaitu “mangkane patrapipun” hal ini sangat berkaitan dengan judul atau yang menjadi tajuk utama dalam bahasan… maka hal itu menerangkan sesuatu hal yang menjadi alur sebuah hal yang di jadikan petuah maka didapatkan arti kalo inggin menjadikan diri mejadi berharga atau menghargai diri sendiri perbuatan ini yang harus dilakukan”
emmmmmmm….. kadang kata makan dan tidur sering disimpulakan sebagai kata2 untuk mengurangi rasa malas yang biasanya diwakili oleh kata tidur dan kemudian makan biasanya dapat juga diartikan napsu yang sombong atau ras tinggi hati….

Jadi kalo digabungkan dengan menambah kan arti sisipan tersebut artinya menjadi :

“kalo berkeinginan menghargai diri anda sendiri lakukan lah perbuatan ini.
Sedari usia muda harus senang untuk belajar, mengurangi rasa malas dan sombong (merasa paling hebat), menahan hawa napsu dan slalu berlaku menghormati orang lain”




Kemudian kelompok bait ke 2

II
Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.


“Akanthi awas emut” artinya dalam salin bahasa nya adalah membawa/mengandeng hati hati dan ingat….. hal maksyuuud nya? maksyud nya adalah “selalu mawas diri dan selalu ingat hal hal yang bermanfaat bagi orang lain”
Kemudian pada bait kedua “aja tinggal wiweka ingkalbu” maksut nya jangan meninggal kan kesadaran hati nurani kita… nah ini yang kadang aga susah kita sering bingung pada apa-an sih hati nurani itu? Hmmmmmmmmm opo yo? Mungkin…. Ini baru mungkin hlo yang dimaksyuuuud kan adalah kesadaran pribadi kita kepada nilai nilai universal …. Itu sih pendapat ku aza…. Bner salahnya gat au :D
Kemudian kata “mituhua wewaruh kang mikolehi” artinya tunduk atau turutlah sebuah ajaran yang mengadung nilai nilai kebenaran…. Kaya nya gitu deh artinya :)
Kemudian “den taberi anggeguru, ojo isin tetakon” artinya (mungkin) kalau sedang menuntut ilmu atau berguru jangan segan segan bertanya sampai bener bener ngarti……

Jadi kalau digabungkan menjadi arti yang demikian……..

“ slalu mawas diri (sadar) dan ingat kepada segala sesuatu hal yang membawa manfaat bagi orang lain, jangan sekali kali meninggalkan kesadaran hati nurani kita.
Menurutlah pada ajaran ajaran yang mengadung nilai nilai kebenaran, kemudian kalau sedang menimba ilmu jangan segan segan untuk bertanya sampai kita benar benar mengerti (sebodo amat dengan cap orang lain, kalo kita terlalu banyak bertanya di cap “bodoh” ga pelu dipikirin deh :D )”

Kemudian pada kelompok bait 3

III
Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.


“wong amarsudi kaweruh” bisa diartikan kalo manusia sedang mencari sebuah keilmuan
“tetirona ing reh kang rahayu” artinya menirulah kepada hal hal yang membawa kebaikan dan manfaat kepada orang lain….. kaya gitu deh artinya sebab kata rahayu kadang bisa berarti rada acak atau berbeda, sebab dia mengikuti arti kata yang ada didepannya…. Kaya gitu mungkin….. mungkin hlo…. :D
“aja kesed sungkanan sabarang kardi” artinya jangan malas dan merasa “sungkan” emmmmmmmmm sungkan dalam bahasa Indonesia apaan ya (garuk garuk kepala)….. mungkin pemalu…. Jadi, jangan malas dan malu dalam menjalankan kebaikan atau manfaat tersebut.
“Sakadare anggenipun” artinya jangan melakukan perbuatan perbuatan yang cuman sekedarnya saja atau pantes pantesan aja … biar dialiat cuman pantes aja :D
“nimpeni kagunganing wong” artinya menyerap keilmuan atau mempelajari keilmuan nya orang lain

Jadi kalau dikumpulin didapatkan arti yang demikian.

“Kalau anda sedang menuntut ilmu (belajar), belajarlah dengan meniru hal hal kebaikan yang membawa manfaat kepada orang lain, jangan malas dan merasa malu dalam menjalankan nya, jangan cuman dibuat pantes pantesan atau ala kadarnya saja, dalam menimba ilmu kepada orang lain harus bersungguh sungguh”




Kumpulan bait yang ke 4 sekarang

IV
Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.



“tinimbang lan agenganggur” artinya…. Emmmmmmm ini kayanya bahasa kiasan deh….. tinimbangan adalah selalu menimbang kalo agenganggur artinya anggur yang besar … emmmm bener ga sih artinya anggur yang besar? Kalo bener anggur yang besar artinya adalah tidak membesar besar kan sebuah hal…. Jadi artinya adalah…. Selalu menimbang dan tidak membesarkan semua permasalahan
“boya becik ipil – ipil kaweruh” artinya sangat baik untuk slalu menambah ilmu pengetahuan walau pun itu sedikit sedikit
“angger datan ewan panasaten sayekti” mungkin…. Sekali lagi mungkin hlo….. artinya adalah akan tetapi harus di inggat apa yang sebenarnya lebih diutamakan …. Maksutnya waktu itu kita sedang mempelajari sebuah ilmu yang dipentingkan itu apa dulu gitu….. mungkin :D
“kawigyane wuwuh wuwuh” artinya kemampuan atau kepandaiannya berlipat lipat dalam segala bidang
“wekasane kasub kinaot” hlaaaaaaa yang ini sih aku benernya super ga ngerti… tapi udah terlanjur ngarti-in atu2…. Maka ta artikan juga walau ngawur :D gpp yaaaaaa……. Artinya akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk dipercayai oleh banyak kawan….

Jadi kalo disimpulkan jadi satu pada kelompok kalimat ke 3 kita mendapatkan arti seperti demikian :

“ selalu menimbang dan tidak membesar besarkan permasalahan, dan sangatlah baik untuk selalu menambah pengetahuan walau itu cuman sedikit sedikit selama tidak melupakan kewajiban keilmuan utama yang kita pelajari…. Nah hal itu menyebabkan kemampuan kita semakin luaaaaas dan mendalam sehingga kita mendapatkan kepercayaan untuk dipercayai oleh banyak kawan”




Hueeeh akhirnya nyampe juga ke kelompok kalimat yang ke 5 :D

V
Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.


“lamun wus sarwa putus” maksyuuuud nya adalah jikalau sudah selesai menimba ilmu, atau cukup memiliki pengetahuan
“kapinteran sinimpen ing pungkur” artinya adalah kita tidak bersombong dan bertinggi hati atau pamer dengan segala kelebihan keilmuan yang kita miliki
“bodhoniro katakokno ing ngarsa yekti” artinya… be’ e…. :D selalu bertanya maksud perkataan lawan bicara kita sehingga kita tidak salah persepsi pada ucapan yang di ucapkan oleh lawan bicara kita….. hueah koq panjang? Hihihhihihi abis kalo ga salah emang gitu artinya :)
“gampang traping tidak tanduk” artinyuaaaa…. Mudah untuk bersikap di mata orang lain .. atau bisa kita mudah mendapatkan teman bergaul yang buaaaaaaaanyak
“amawas pambekaning wong” bisa diartikan demikian selalu bisa melihat kemauan lawan bicara kita sehingga kita bisa menjalin komunikasi yang lancar dan enak atau santai gitu…….

Jadi kelompok kata yang ke 5 kalo diartikan secara besambung didapat arti sebagai demikian :

“jikalau anda sudah menguasai ilmu pengetahuan tersebut, janganlah berlaku sombong dan tinggi hati atau meramehkan orang lain, slalu bertanyalah kepada maksud dari perkataan lawan bicara anda supaya tidak terjadi permasalahan persepsi pemahaman ketika anda berkomunikasi, sehingga kita mudah untuk bergaul dengan orang lain dan dapat segera melihat situasi dalam pergaulan”





Kalo digabungkan dari keseluruhan arti tejemahan didapat arti yang demikian :

I
“kalo berkeinginan menghargai diri anda sendiri lakukan lah perbuatan ini.
Sedari usia muda harus senang untuk belajar, mengurangi rasa malas dan sombong (merasa paling hebat), menahan hawa napsu dan slalu berlaku menghormati orang lain”

II
“ slalu mawas diri (sadar) dan ingat kepada segala sesuatu hal yang membawa manfaat bagi orang lain, jangan sekali kali meninggalkan kesadaran hati nurani kita.
Menurutlah pada ajaran ajaran yang mengadung nilai nilai kebenaran, kemudian kalau sedang menimba ilmu jangan segan segan untuk bertanya sampai kita benar benar mengerti (sebodo amat dengan cap orang lain, kalo kita terlalu banyak bertanya di cap “bodoh” ga pelu dipikirin deh :D )”

III
“Kalau anda sedang menuntut ilmu (belajar), belajarlah dengan meniru hal hal kebaikan yang membawa manfaat kepada orang lain, jangan malas dan merasa malu dalam menjalankan nya, jangan cuman dibuat pantes pantesan atau ala kadarnya saja, dalam menimba ilmu kepada orang lain harus bersungguh sungguh”

IV
“ selalu menimbang dan tidak membesar besarkan permasalahan, dan sangatlah baik untuk selalu menambah pengetahuan walau itu cuman sedikit sedikit, selama tidak melupakan kewajiban keilmuan utama yang kita pelajari…. Nah hal itu menyebabkan kemampuan kita semakin luaaaaas dan mendalam sehingga kita mendapatkan kepercayaan untuk dipercayai oleh banyak kawan”

V
“jikalau anda sudah menguasai ilmu pengetahuan tersebut, janganlah berlaku sombong dan tinggi hati atau meramehkan orang lain, slalu bertanyalah kepada maksud dari perkataan lawan bicara anda, supaya tidak terjadi permasalahan persepsi pemahaman ketika anda berkomunikasi, sehingga kita mudah untuk bergaul dengan orang lain dan dapat segera melihat situasi dalam pergaulan”

serat Wédhatama karya KGPA Mangkunegara IV

Pupuh Pucung

1.
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekese dur angkara

…………. diartikan secara bebas

Ilmu itu didapatnya berdasarkan mencari dan berusaha,
Karena sebuah proses itu yang menciptakan kekuatan dari ilmu….
Sebab sebuah proses itu dapat menghilangkan keangkara murkaan terhadap penguasaan ilmu tersebut


2.
Angkara gung
Neng angga-anggung gumulung
Gogolonganira
Tri loka lekere kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda

…………. diartikan secara bebas

Sebuah keserakahan itu sifatnya merasa selalu kurang, sekali terlibat akan terus membesar sampai sampai menutup semua hal… pikiran, perasaan dan harapan tertutupi dengan keserakahan, apabila diterus teruskan akan menyebabkan sebuah permasalahan yang sangat besar


3.
Beda lamun
Wus sengsem rehing asamun
Semune ngaksama
Sesamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martotama

…………. diartikan secara bebas

Berbeda dengan yang telah berpengalaman dalam hal proses…
Selalu memahami dan menimbang nimbang segala hal dengan baik, selalu memperhatikan dengan seksama tentang segala hal, selalu sabar dan menjaga agar tidak lepas dari sebuah jalan keutamaan


4.
Taman limut
Durgameng tyas kang weh limput
Kerem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing suksma ngrebda saardi gengira

…………. diartikan secara bebas

Bila terkena sebuah perasaan senang yang berlebihan, kadang mengalami perasaan lupa, sebab sebuah ilmu itu pada dasarnya menyenangkan (dapat mempermudah segala hal)
Akan tetapi karena memperhatikan dengan seksama, cermat disertai rasa cinta pada sesama mahluk, maka perasaan senang yang berlebihan itu dapat dikendalikan


5.
Yeku patut
Timulad-tulad timurut
Sapituduhira
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi dhiri rapal makna

…………. diartikan secara bebas

Yaitu yang harus dijadikan contoh dan ditiru semua orang yang mempelajari ilmu seperti anda, jangan seperti jaman sekarang… banyak pemuda pemudi yang hanya membaca segala hal kemudian tanpa diselami dan dipahami tetapi sudah dipercaya (bahasa keren nya “textbooks thinking” gituu hlo…)


6.
Nora weruh
Rosing rasa kang rinuruh
Lumeketing angga
Anggere padha marsudi
Kana-kene kahanane nora beda

…………. diartikan secara bebas

Tidak pernah tau sebuah perasaan rasa yang tenang (suci atau damai) yang selalu ada dalam tubuh manusia……
Padahal, apabila mau berusaha untuk mencari, dimana saja tetap sama tidak peduli dimana pun tempatnya…


7.
Uger lugu
Denta mrih pralebdeng kalbu
Yen Kabul kabuki
Ing drajad kajating urip
Kaya kang wus winahya sekar Sri Nata
Ada-Ada

…………. diartikan secara bebas

Asal dengan kejujuran dan ketulusan, dan niat serta semangat yang menggelora dalam “hati” (perasaan atau jiwa)
Jika terlaksana harapan nya, ia bakalan ditinggikan drajat hidupnya, bagai seorang raja besar yang mempunyai nama harum keseluruh penjuru dunia


8.
Basa ngelmu
Mupakate lan panemu
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna-kuna kang ginilut triprakara

…………. diartikan secara bebas
Arti kata “ngelmu” adalah keselarasan dan akal pikiran (yang tajam)
Diperoleh dengan jalan berusaha dengan tekun dan selalu berusaha…
Kalau manusia utama di tanah jawa di jaman kuno kuno dahulu yang dipelajari secara terus menerus adalah tiga hal (tekad, perasaan dan pikiran)


9.
Lila lamun
Kelangan nora gegetun
Trima yen kataman
Sak serik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara

…………. diartikan secara bebas

Selalu iklas dikala kehilangan… kalau pun kehilangan selalu merasa pasrah tanpa perasaan menyesal, dan tidak pernah menyesal kepada apa yang telah terjadi…
Tidak pernah merasa benci kepada semua hal, apa pun itu….
Harus benar benar rela dan dikembalikan kepada kuasa Sang Semesta


10.
Bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang Wisesa
Sana Pesenetan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara

…………. diartikan secara bebas

Sang Semesta yang maha segalanya, memberikan berkahnya di dalam jantung (perasaan/hati nurani) yang benama “Hyang Wisesa” yang bercirikan selalu suci dan selalu memberikan pertimbangan baiknya kepada manusia.
Tidak seperti yang selalu membesar besarkan segala macam masalah


11.
Nora uwus
Karema anguwus-uwus
Uwose tan ana
Mung janjine muring-muring
Kaya buta buteng betah nganiaya

…………. diartikan secara bebas

Tidak seperti yang selalu yang berbicara tidak benar dan tidak terbukti, selalu mengumbar janji kosong dan selalu marah marah seperti raksasa (ke-angkara murkaan) ngawur yang selalu menyiksa…


12.
Sakeh luput
Ing angga tansah linimput
Linimpet ing sabda
Narka tan ana udani
Lumuh ala hardane ginawe gada

…………. diartikan secara bebas

Semua kesalahan dalam seluruh tubuh dijadikan satu, di utarakan lewat kata kata dengan harapan tidak akan bisa dibantah, semua kesalahan lawan bicara di jadikan senjata balik memukul lawan


13.
Durung punjul
Kasusu kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
Tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa

…………. diartikan secara bebas

Belum cukup kemampuan, ingin cepat cepat terlihat pandai, terdorong hawa napsu menjadikan sempit pemikiran, hanya karena terdorong keinginan disanjung (pamrih).. yang seperti itu tidak akan mungkin dekat dengan Sang Semesta

Petuah lama tentang “keberanian”


Begini petuah itu berbunyi :

“Yen wani ojo wedi wedi, yen wedi ojo wani wani, tangeh lamun wani ojo ngisin ngisin ni”


Dalam terjemahan bebasnya berbunyi seperti ini :

“jikalau berani jangan sampai takut, kalau takut jangan sekali kali berani, tetapi kalo sekali berani jangan sampai memalukan”


Kalo diartikan secara puaaanjang lebar, dan sedikit ruwet :hehe3: maka arti yang terkandung didalam kata kata petuah tersebut bagi saya sangat dalem, dan hal itu pula yang menginspirasikan saya dalam banyak hal, dalam pikiran saya, saya menangkap arti sebagai berikut,

Yen wani ojo wedi wedi – jikalau berani jangan sampai takut

Kata – kata tersebut memberikan arti jika terbit sebuah ketetapan hati atau kebulatan tekat jangan sekali kali mundur atau menyesal dengan segala hal yang telah kita lakukan, kalau pun hal itu keliru atau salah kita harus berani menanggung segala resikonya, mengakui kesalahan dengan jujur dan terbuka adalah salah satu dari keberanian dalam mengambil sebuah keputusan, jadi keberanian disini adalah keberanian yang universal dan terbuka dalam segala hal bukan berani yang cuman terdorong dari rasa ego kita sendiri yang menginginkan sebuah keberhasilan tanpa cela dan kebenaran buta saja.

Yen wedi ojo wani wani – kalau takut jangan sekali kali berani

Hmmmm, artinya pertimbangkanlah segala sesuatu hal dengan sebaik baiknya dengan segala resikonya baik secara segi negativenya atau pun segi positifnya, janganlah berbuat didasari dari ego atau nafsu diri kita yang tidak terkendali akibat kebutaan sesaat akibat dorongan ambisi kita tanpa melihat kepentingan orang banyak, disaat kita mempertimbangkan segala hal dan dalam benak kita, dan ternyata masih diselimuti tentang keragu raguan sebaiknya jangan dilakukan, sebab segala tindakan yang diambil ketika ternyata hal itu salah, kita merasa membenci kita sendiri dengan lari dari permasalahan.

Tangeh lamun wani ojo ngisin ngisin ni – jikalau berani jangan sampai memalukan

Kandungan artinya ialah, ketika anda memutuskan mengabil sebuah pilihan perisiapkanlah data/keilmuan dan teruslah menggali data tersebut dengan terus menerus dan sifatnya semakin lama semakin mendetail dan tajam sehingga keberanian yang ada bukan sebuah keberanian yang membabi buta, dan menganggap dirinya lah yang paling benar tanpa mempedulikan orang lain.

Apabila dirangkum semua artinya menjadi seperti ini :

“Keberanian adalah sebuah hal yang terbit dari pertimbangan yang luas serta mendasar dan kebulatan tekat yang digunakan untuk pengambilan sebuah keputusan tersebut, jikalau keputusan yang diambil salah, kita harus berani mengakuinya sebab keberanian itu sifatnya tulus dan iklas, artinya harus berani mengakui dan menanggung segala kesalahan yang kita perbuat akibat dari semua keputusan yang telah kita ambil.”

Cublak cublak suweng (tembang dolanan masa lalu)


“Cublak cublak suweng,………
Suwenge tinggelenter….
mambu ketundung gudhel…………….
Pak empong lera lere…………
Sopo ngunyu ndelek ake……………….
sir, sirpong dele kopong…………..
sir, sirpong dele kopong………
sopo nguyu ndelek ake………………..”


kemarin pas waktu mendengarkan lagu ini dari sebuah mp3 wayang…. Jadi kepikiran untuk nerjemahin lagu anak anak ini… sebab tembang tersebut sarat dengan makna….. dan saya rasa ini adalah lagu yang di populerkan sejak loaaamua dan digunakan untuk mengingat ingat sebuah hal… saking penting nya hal itu sampai digunakan untuk lagu mainan anak anak :) … mungkin dengan harapan tidak akan melupa dengan hal tersebut…… apa-an sih arti lagu tersebut ?…..

mungkin arti lagu tersebut adalah seperti ini :

cublak cublak suweng……
kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang) suweng adalah hiasan telinga yang di cantelkan di daun telinga…. Mungkin artinya kata dari idium tersebuat adalah sebuah informasi yang penting. Jadi ditemukan kata artinya seperti ini : “ (ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting”

Suwenge tinggelenter………..
Seperti diatas suweng artinya adalah sebuah informasi yang penting, tinggelenter artinya adalah banyak tersebar berserakan… jadi kalo digabungkan kedua kata tersebut ditemukan arti : “informasi penting (ini) (sebenarnya) tersebar disegala tempat.”

mambu ketundung gudhel……….
Mambu artinya adala tercium atau terdeteksi, ketundung artinya adalah diusir/dihilangkan, gudhel artinya adalah anak sapi, cuman saya merasa kata “gudhel” adalah sebuah kata kata idium yang mengartikan orang bodhoh atau orang yang sok tau akan tetapi tidak tau…. Kenapa koq artinya begitu….. gudhel adalah anak sapi, sapi adalah hewan yang sangat bermanpaat khusus nya masyarakat pertanian, disamping manfaat susunya daging dan tenaga nya biasanya juga dimanfaat kan. akan tetapi “gudhel” memang benar adalah anak sapi (hewan yang sangat bermanfaat) akan tetapi ketika masih “gudhel” (ketika sapi masih kecil) sapi kecil tersebut taunya cuman makan dan bermain (masih belum bisa dimanfaatkan… belum keluar susunya, tenaganya masih kecil, dagingnya masih sedikit). Jadi arti kata “mambu ketundung gudhel” artinya adalah “kalo ketahuan bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)”

Pak empong lera lere………
Pak empong adalah idium kata dari dewasa/kedewasaan… sebab artinya empong adalah ompong untuk penyebutan prang yang sudah berumur,…….. sedang disebut pak adalah artinya tua yang memiliki arti juga sudah menjadi dewasa …. Jadi kata “pak empong” adalah merujuk pada kata “orang yang dewasa dikrenakan mempunyai banyak pengalaman” kemudian lera lere artiya adalah menoleh kanan kiri atau memilih milih. Jadi kata “pak empong lera lere” adalah "orang dewasa yang sudah banyak pengalaman (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)".

sopo ngunyu ndelek ake…..
artinya… “siapa yang tertawa (pasti) menyembunyikan”, memiliki persamaan arti sama seperti “siapa yang tertawa/menertawakan pasti mengetahui (kebohongan) yang ada” atau kalo lebih dipermudah kalo dibaca akan ketemu kata seperti ini “siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

sir, sirpong dele kopong…
kalo kata “sir pong dele kopong” kurang lebih artinya emmm … pong adalah sesuatu hal seperti bola yang kosong didalam nya, sedang dele (kedelai) kopong adalah kedelai yang mengambang diatas air…..kalau ga salah sih artinya menjadi seperti ini…. “(sesuatu) yang dianggap besar tersebut sebenarnya tidak ada isinya” atau memiliki persamaan arti dengan ini (biar nyambung sama kalimat kalimat terdahulunya, sebab ini adalah rangkaian sebuah tembang) “informasi yang dianggap benar sekarang ini, sebenarnya adalah kebohongan”


jadi kalo digabungkan semua katanya dan disusun sesuai susunan “tembang Cublak Cublak suweng” membentuk kalimat seperti ini :

“(ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting.”
“(sebenarnya) informasi penting (ini) (sudah) tersebar disegala tempat.”
“(tetapi ketahuilah) kalo ketahuan (informasi penting ini) bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)”
“orang dewasa yang sudah banyak pengalaman/”ilmu” (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)”.
“siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”
“informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
“informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
“siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

Wédhatama

Karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV.


Pupuh Pangkur

1.
Mingkar mingkur ing angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung
Kang tumrap nèng tanah Jawa
Agama ageming aji

---------------------------terjemahan bebas

Bermain (sastra) didalam kata kata
Disebabkan (sebuah kata kata/sastra) mudah untuk ditata/dibentuk
Bersama indahnya sebuah tutur kata
(karena) Merasa (sangat) tertarik (sebuah hal yang luhur)
Untuk memelihara kebesaran/keluhuran (dari) sebuah “jalan yang mulia”
Yang berada di tanah Jawa
Agama/kepercayaan adalah sebuah jalan yang menuju kebaikan/kemuliaan


2.
Jinejer nèng Wédhatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yèn tan mikani rasa
Yekti sepi asepa lir sepah samun
Samangsané pakumpulan
Gonyak-ganyuk nglilingsemi

--------------------------terjemahan bebas

Sudah ada (tertulis) di dalam catatan catatan/petuah petuah utama
Untuk membuat berkembangnya sebuah akal yang dikarenakan karena giat berusaha mengembangkannya
Makanya walau sudah tua dan pikun
Jikalau tidak berkembang cara berpikirnya
(hal tersebut) Sebenarnya adalah sebuah (wadah/tempat) yang kosong tanpa ada sama isinya sama sekali
(Bahkan saking bodohnya karena tidak ada isinya sama sekali) ketika didalam sebuah perkumpulan
Segala perbuataanya (sebenarnya) mempermalukan (dirinya sendiri)


3.
Gugu karsané priyangga
Nora nganggo paparah lamun angling
Lumuh ingaran balilu
Uger guru aleman
Nanging janma ingkang wus waspadèng semu
Sinamun ing samudana
Sasadon ingadu manis

--------------------------terjemahan bebas

Selalu menuruti rasa ke-egoisan diri sendiri (tidak mau mengalah pada orang lain)
(segala perbuataanya) tidak menggunakan pertimbangan dan dasar yang jelas
Jelas hal tersebut “layak” untuk disebut sebuah kebohongan
(segala prilakunya) Selalu mencari pujian dari orang lain
Akan tetapi sebenarnya manusia yang (benar benar) mengetahuinya (tentang “isi”)
Cara berperilaku orang tersebut terlihat biasa saja
Tidak mencela/menghina kepada orang lain


4.
Si Pengung nora nglegéwa
Sangsayarda dènira cacariwis
Ngandhar-andhar angendhukur
Kandhane nora kaprah
Saya élok alangka longkangipun
Si Wasis waskitha ngalah
Ngalingi marang si Pingging

--------------------------terjemahan bebas

Tidak seperti si sombong yang selalu sok menyanggah dan sok mengerti semua hal
Selalu mencela dengan cerewet dan sok tau
Mengedepankan kesombongan yang berlebih lebihan
(padahal) kata katanya (adalah) salah semua
Malah semakin menjadi jadi ketika perkataan nya tersebut tidak ketahuan sama yang lain
(Kalo) orang yang mengerti (tentang banyak hal) biasanya kalau bertemu dengan orang sombong tersebut biasanya suka untuk mengalah.
Selalu menutupi (meluruskan dengan cara yang bijak) orang yang sok sok-an tersebut.


5.
Mangkono ngèlmu kang nyata
Sanyatané mung wèh reseping ati
Bungah ingaranan cubluk
Sukèng tyas yèn dèn-ina
Nora kaya si Punggung anggung gumunggung
Ugungan sadina-dina
Aja mangkono wong urip

--------------------------terjemahan bebas

Itulah contoh dari pengetrapan ilmu yang nyata
Kenyataan nya hanya dipergunakan untuk menentramkan hati
Bersenang senang (dengan ilmunya) disebut dengan sebutan “perbuatan bodoh”
(selalu) mengembangkan pemikiran pada setiap harinya.
Tidak seperti si “sombong” yang selalu bersombong sombong ria dengan cara sok sok-an nya
(ketika dia dipuji) kesombongan nya semakn menjadi jadi seperti itulah pada setiap harinya
Jangan lah begitu orang hidup.


6.
Uripé sapisan rusak
Nora mulur nalaré ting saluwir
Kadi to guwa kang sirung
Sinerang ing maruta
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
Pindha padhané si Mudha
Prandéné paksa kumaki

--------------------------terjemahan bebas

Kalau sekali hidup anda rusak
Tidak dapat berpikir panjang dikarenakan pengertian yang cuman sepotong sepotong
(layaknya) Seperti sebuah gua yang gelap
Ketika tertiup angin
Suaranya bergemuruh terus menerus
Sama seperti pemuda
Yang belum cukup ilmunya tapi sudah berlaku seolah olah mengerti segala hal


7.
Kikisané mung sapala
Palayuné ngendelken yayah wibi
Bangkit tur bangsaning luhur
Lah iya ingkang rama
Balik sira sarawungan baé durung
Mring atining tata-krama
Gon-anggon agama suci

--------------------------terjemahan bebas

Pengethuan yang cuman sedikit
Arahnya (ketika ditanyai sebuah hal yang detail) mengadalkan pengetahuan yang semu/ge jelas
(hai, ingatlah) sejarahmu itu adalah keturunan dari orang orang luhur/suci
(iya, tapi saya tau kalau itu) adalah pendahulumu
(hla sedang) Kalau kamu, mengerti saja belum
Tentang sebuah inti sari sebuah kebaikan
Yang tertanam/tersandikan didalam agama suci


8.
Socaning jiwangganira
Jer katara lamun pocapan pasthi
Lumuh kasor kudu unggul
Sumengah sosongaran
Yen mangkono kena ingaran katungkul
Karem ing rah kaprawiran
Nora énak iku kaki

--------------------------terjemahan bebas

Sebenarnya didalam jiwamu
Selalu mengeluarkan kata kata kepastian (yang tak terbantahkan /apalan kata kata gitu hlo bahasa mudahnya)
Tidak mau kalah maunya cuman menang sendiri
Menyandang sebuah nama kosong untuk dipamer pamerkan
Suka akan hal yang bertentangan (menetang orang lain)
(sebenarnya) Tidaklah enak hal tersebut saudara…….. (banyak musuh soalnya :D )


9.
Kekerané ngèlmu karang
Kakarangan saking bangsaning gaib
Iku borèh paminipun
Tan rumasuk ing jasad
Amung anèng sajabaning daging kulup
Yin kapengkok pancabaya
Ubayane balénjani

--------------------------terjemahan bebas

Kesenangan ilmu/pengetahuan tentang kekerasan/kekuatan
Yang asalnya berasal dari yang tidak jelas asalnya
Hal tersebut sebenarnya adalah sebuah hal yang percuma
Tidak akan dapat dimengerti dengan benar
(itu) Hanya ada di tingkat menghapal hapalan, nak
Ketika bertemu sebuah hal yang benar benar berbahaya
Hal tersebut tidak dapat berfungsi (dan) malah menyebabkan bahaya (untukmu)


10.
Marma ing sabisa-bisa
Babasané muriha tyas basuki
Puruitaa kang patut
Lan trap ing angganira
Ana uga angger-ugering kaprabun
Abon-aboning panembah
Kang kambah ing siyang ratri

--------------------------terjemahan bebas

(maka) berbuatlah selalu sebisa bisanya
(untuk selalu) mengembangkan pikiran (supaya) mengerti dengan benar
Berbuatlah/berkelakuanlah yang wajar
Dan selalu pas untuk di kehidupanmu sehari hari
melakukan tatacara yang telah di syahkan
Sebuah kenikmatan dalam mendekatkan diri kepada Sang Semesta
Yang sudah dimengerti oleh banyak orang


11.
Iku kaki takokena
Marang para sarjana kang martapi
Mring tapaking tepa tulus
Kawawa nahen hawa
Wruhanira mungguh sanyataning ngèlmu
Tan pasthi nèng janma wreda
Tuwin mudha sudra kaki

--------------------------terjemahan bebas

(beginilah) Hal hal yang harus engkau pelajari
Oleh siapa saja orang yang mencari pengerti dengan benar
Melakukan segala perbuatan dengan tulus
Dapat menahan ego pribadi
Ketahuilah untukmu, dimana sejatinya sebuah pengetahuan tersebut
Tidak selalu berada di dalam orang yang sudah berumur
Dan malah kadang kala nya berada malah di orang orang yang tidak pernah dianggap


12.
Sapantuk wahyuning Allah
Gya dumilah mangulah ngèlmu bangkit
Bangkit mikat rah mangukut
Kukutaning jiwangga
Yèn mangkono kena sinebut wong sepuh
Liring sepuh sepi hawa
Awas roroning atunggil

--------------------------terjemahan bebas

Ketika mendapatkan “kecerdasan ilahi”
Segera dapat mengerti tentang segala hal pengetahuan
(oleh sebab itu) selalu bersemangat yang mengelora untuk mempelajari semua hal
(dikarenakan) tuntutan yang berasal dari jiwa
Jikalu sudah begitu layak disebut sebagai orang “tua”
Tidak mengedepankan kesombongan ego pribadi
Selalu dapat memahami kesemuanya dalam pandangan yang benar


13.
Tan samar pamoring suksma
Sinuk maya winahya ing asepi
Sinimpen telenging kalbu
Pambukané warana
Tarlin saking liyep-layaping aluyut
Pindha pesating supena
Sumusup ing rasa jati

--------------------------terjemahan bebas

Tidak terpikat pada sebuah “sesuatu yang tampak benar” padahal hal tersebut sebuah kebusukan
Membaca dengan cermat dan teliti pada setiap hal, tidak terganggu dan terpengaruhi oleh segala hal yang dapat mengecohkan cara pandang
“semangat” yang berasal dari ego pribadi tersimpan (rapat) didalam hati
“semangat” tersebut dipergunakan untuk bahan bakar mencari ilmu pengetahuan serta dipergunakan untuk terhidar dari kecerobohan dan banyak godaan yang terjadi
(dapat mengerti sebuah hal) Seperti secepat orang yang mengatuk kemudian tertidur
Mengerti dengan yang sebenar benarnya mengerti tentang hal tersebut


14.
Sajatiné kang mangkana
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi
Bali alaming asuwung
Tan karem karaméyan
Ingkang sipat wisésa winisésa wus
Mulih mula-mulanira
Mulane wong anom sami

--------------------------terjemahan bebas

Sebenarnya yang seperti itu
Sudah mendapatkan anugrah “kecerdasan” Ilahi
Kembali kedalam alam yang kosong
Tidak memiliki keinginan yang berlebih lebihan
Yang bersifat kenginan diri sendiri untuk mengusai dan dikuasai
Kembali seperti saat awal dahulu
Saat ketika kita semua memiliki “ketulusan” seorang bayi


1.
Memainkan sastra dalam keindahan kata kata, karena ketertarikanku kepada sebuah kebaikan yang luhur, untuk ikut turut serta menjaga dan memelihara keindahan serta kemuliaan sebuah ajaran luhur yang ada di tanah Jawa

2.
“Berkembangnya sebuah alam pikiran dikarenakan giatnya berusaha secara terus menerus untuk mengembangkannya”….. hal tersebut sudah banyak yang mencatat dalam banyak catatan catatan yang di agungkan, oleh sebab itu ketika di kemudian hari kita sudah menjadi berumur dan pikun…. Jikalau terlambat untuk mengembangkan pemikiran kita, kita menjadi bahan tertawaan banyak orang ibaratkan sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya

3.
Menuruti segala nafsu egoisme pribadi tanpa adanya sebuah dasar yang jelas dan selalu mencari pujian dimana mana, pastilah perkataan dari oraang tersebut adalah sebuah kebohongan dan penipuan, sangatlah berbeda dengan prilaku orang yang mengerti sebuah hal secara benar, cara berperilaku orang tersebut terlihat seperti biasa saja dan tidak suka menghina terlebih lebih mencela.

4.
Tidak seperti perilaku si sombong, yang selalu sok menyangah dan sok tau dengan cerewet, seolah olah tidak ada yang mengerti selain dirinya padahal kata katanya terlontarkan darinya tidak berdasarkan sesuatu yang jelas, lebih lebih kalo ga ketahuan tingkahnya semakin menjadi jadi kebohongan yang terucap darinya, Jikalau orang “dewasa” bertemu dengan orang yang bodoh, biasanya cuman cengar cengir aja… dan berusaha memberi sebuah pengertian dengan cara yang bijak kepada si sombong.

5.
Seperti itu adalah contoh penerapan sebuah ilmu dalam kesehari harian, kenyataannya sebuah ilmu/pengertian tersebut dipergunakan untuk memberikan sebuah solusi yang tepat guna yang dapat memberikan manfaat. Akan tetapi jikalau anda memamer mamerkan pengetahuan anda dan anda mengunakannya untuk kesenangan pribadi anda malah membodoh bodohi dan menyesatkan banyak orang serta selalu mencari pujian dimana mana maka sebenarnya andalah yang menjadi orang yang sangat bodoh, jangalah begitu berlaku menjadi seorang manusia yang menjalani kehidupannya

6.
Kalau anda tidak mengerti dan tidak dapat berpikir panjang terlebih lebih berpengetahuan cuman sepotong potong sehingga pikiran-nya ruwet kacau dan balau akan tetapi sok mengerti tentang segala hal seolah olah pengertian anda paling benar …. Hal tersebut bagaikan sebuah gua kosong dan gelap ketika tertiup angin suaranya bergemuruh terus terusan,…… ingatlah, jangan berperilaku demikian sebab hal tersebut menyebabkan rusaknya jiwa dan raga anda

7.
Orang bodoh itu adalah orang yang pengetahuannya cuman sedikit dikarenakan kemalasan mencari data dan gampangnya mempercayai sebuah informasi yang ga jelas, ya emang sih…. mungkin engkau adalah keturunan orang orang hebat akatetapi yang hebatkan orang tuamu kan?... hal sedang kamu mengerti aja belum, tentang hal hal yang menjadi intisari kebaikan yang tertanam di dalam setiap ajaran Agama suci

8.
Selalu berlaku memamer mamerkan apalan kata kata yang tetulis adalam ajaran ajaran suci, tidak mau menerima pendapat orang lain padahal tidak mengerti tentang makna yang terkadung didalamnya.. yang tidak sama dengan cara dia dianggap salah… padahal perbuatan seperti itu adalah semakin memperlihatkan kebodohannya saja, seperti layaknya tong kosong nyaring bunyinya……… janganlah berbuat seperti itu saudara, ga di gubris ma orang baru tau rasa lu, jadi manyun sendirian deh :smile:

9.
Mencari sebuah pengetahuan berdasarkan textbook kemundian mempercayai begitu saja tanpa adanya pertimbangan mencari refrensi dan melakukan penelitian yang benar, hal tersebut sebenarnya sebuah hal yang konyol gitu hlo…. Gimana ga konyol hla wong pelajarannya cuman masih ditingkat hapalan aja belum ketingkat praktek dan pengalaman…. Ya jelas ketika dipergunakan disebabkan sebuah hal yang penting, maka pengetahuan yang seperti itu malah jadinya tidak berfungsi dan membahayakan.

10.
Makanya cobalah setiap hari sebiasa bisanya untuk selalu berusaha menambah wawasan dan pengertian dengan benar, perbuatlah hal tersebut selaras dengan kehidupanmu. Ketika engkau ingin mendekatkan diri kepada Sang Semesta lakukanlah dengan cara cara yang telah disyahkan oleh peraturan Negara yang telah dimengerti banyak orang

11.
ini yang harus engkau pelajari, jikalau anda termasuk orang orang yang mencari sebuah jalan kebenaran, lakukanlah segala hal dengan tulus, tahan lah segala egoisme kepentingan pribadimu, ketahuilah kuberikan sebuah pengertian untukmu, dimana tempat sebuah ilmu pengetahuan tersebut… tidak selalu berada di orang yang sudah berumur tua, dan kadang juga malah ada yang ada di orang orang yang tidak dianggap oleh orang lain

12.
Ketika seseorang terbuka pemikirannya, maka dia tidak menutup pemikirannya oleh segalah hal dan segala kemungkinan sehingga dia dapat mengerti tentang banyak hal yang ada, semakin dia mencari maka bertambah terang dan jelaslah pengetahuan yang dimilikinya… tiada mengenal lelah dalam mencari berbagai hal, sebab dikeranakan hal itu timbul dari panggilan jiwanya yang sudah terbuka pemikirannya, orang yang sudah begitu layak disebut dewasa dalam arti yang sebenarnya, tidak mengembangkan kesombongan ego pribadi dan dapat menyelami segala ilmu pengetahuan dengan benar tanpa terkecoh asumsi asumsi yang menyimpang atau membelokkan sebuah pemahaman

13.
Dikarenakan memiliki banyak data maka orang tersebut tidak terkecoh oleh pembelokan pembelokan data yang dilakukan orang orang yang disebabkan kepentingan, meneliti dan mecermati dengan cara kreatif dan mendetail secara mendasar pada fakta yang ada….. tidak pernah menggunakan semangat diri kearah arah kesombongan (egoisme pribadi) tetapi mepergunakan semangat tersebut untuk selalu memberikan semangat yang berguna bagi pengembangan pengetahuan…….. sehingga bisa terhidar dari segala asumsi yang tidak bedasarkan fakta yang ada, bila sudah demikian maka orang tersebut dapat mengerti segala hal secepat orang ketika mengatuk yang akan mau tidur, dengan cepat, tepat dan kristis didalam berbagai permasalahan

14.
Sebenarnya lah yang seperti itu, orang tersebut sudah mendapatkan anugrah ilahi, kembali kealam kosong dimana ego pribadi yaitu keinginan mencintai (menguasai) dan dicintai (dikuasai) tidak membuat dia tertipu dan terkecoh sehingga tidak membuat dia terjerumus kedalam berbagai macam permasalahan… ibaratkan seorang bayi yang masih suci yang penuh segala ketulusan dalam setiap perbuatannya…


Serat SABDA JATI PURWA MAHUGENA
Sastra ini adalah karangan dari Paku Buwana V,



Dilagukan dengan irama Dhandhanggula


1.
Sowaningsun kabeh putu mami
Amung nyandi kersaning Pangeran
Paring susuluh jatine
Mudhune ponang Wahyu
Lenga Tala yekti anganti
Sarampunge ing karya kadangira iku
Rakanta Sidikwiruna
Ingkang nuju ngestreni putranta kaki
Kang ana Surabaia

Terjemahan bebas…………

Ketika seluruh anak cucuku berkumpul dihadapan ku
(mencoba) hanya untuk (memberikan) petunjuk Sang Semesta (yang ku terima)
Memberikan penerangan tentang sebuah hal yang sebenarnya.
Turunnya (tentang) sebuah “anugrah” (dari Sang Semesta).
(sebuah hal laksana) “madu” yang sebenarnya menanti (mu).
Sesudah (sebuah) pekerjaan (yang diemban) saudaramu itu.
Sebuah hal besar yang terperinci untuk mu
Yang diperuntukkan untuk menunjukkan dimana keturunan ku (itu sebenarnya)
Yang berada di (tempat) “keberanian dalam menghadapi (sebuah hal) yang penuh bahaya”


2.
Wruhanira kadangira mangkin
Gendrasari jejuluke uga
Sri Makutha Anom angger
Bakal nggenti keprabon
Eyangira Sri Kilisuci
Marma anggentur tapa napakke sireku
Mudhune kang Lenga Tala
Nora ana maneh kang wajib nampani
Kajaba putuningwang

Terjemahan bebas……………..

Ketahuilah saudaramu (keturunanku) berada di mana (sekarang)
Dia juga disebut (sang) “penuntut keadilan sejati”
(ketahuilah) anakku, dia juga disebut Sang Raja Muda.
Yang (nantinya) akan menggantikan kedudukanku (sebagai raja)
(Yang membawa darah keturunan) leluhur kita Sang “inti sari segala perbuatan baik”.
Yang selalu giat bertapa (sama seperti) yang aku lakukan.
(ingatlah) Turunnya “madu” (tersebut).
Tidak lah ada yang berhak mendapatkan-nya
Selain keturunanku tersebut.


3.
Pan wus dadi dham-idhaman mami
Nora ana kang kuwat nampa
Wahyu Lenga Tala kiye
Kajaba dharahingsun
Ingkang padha wenang ngakoni
Pancer Dharah ping Lima iku nyatanipun
Kudu asma Sumartono
Lamun nora darbe asma iku kaki
Tuna panganggep ira

Terjemahan bebasnya……..

Yang sudah selalu menjadi idam idamanku
Tidaklah ada yang kuat untuk mendapatkan-nya
(untuk mendapatkan) “anugrah” (yang kusebut dengan nama) madu (tersebut)
Selain darah keturunanku
Yang sudah seharusnya (untuk) mendapatkannya.
Keturunan ku itulah yang sebenar benarnya berhak untuk mendapatkannya.
Tanda (keturunanku) itu haruslah “sangat rendah hati”
Jikalau “dia” (keturunanku tersebut) tidak (sangat redah hati).
(Itu hanyalah sebuah tipuan) tidak usah engkau anggap.

4.
Tiwas ngaku nanging tanpa kardi
Awit Dharah iku tegesira
Ora mung turun, benere
kang mbudi arahipun
Arah iku dununging budi
Dadi yen ngaku Dharah nanging tanpa dunung
Sayekti tanpa guna
Nora bisa dadi tatalining urip
Wit urupe tan ana

Terjemahan bebasnya………….

(jangalah suka mengaku aku) terlajur mengaku aku tanpa bukti dan tanpa hasil.
Sebab “darah” itu artinya (adalah).
Bukan sekedar “hanya” keturunan saja sebenarnya.
(Darah artinya adalah) yang selalu giat untuk mencari jalan keluar (yang benar)
Jadi ketika mengaku aku “sebagai keturunanku” tetapi tiada bukti.
Sebenarnya tida berguna (sama sekali)
Tidak bisa menunjukkan sebuah hal sama sekali (jika mengaku saja tanpa bukti tidak bisa dijadikan pedoman/petunjuk)
Sebab tidak ada bukti yang nyata


5.
Lamun nora murub dudu urip
Sasat barang sen-isening jagad
Nadyan barleyan wujude
Sayekti nora murub
Malah bisa amemetengi
Marang lakuning gesang kang rumangsa ngaku
Benjang yen wus kundurira
Yen arahe nora padha den ngerteni
Nora bisa sampurna

Terjemahan bebasnya……….

(ketika) sebuah hal cuman mengaku aku saja tanpa bukti nyata, hal tersebut adalah semu.
Bisa diumpamakan seperti (ke-semu-an) barang isi nya dunia (yang tidak penting)
Walau pun seperti berlian bentuknya
Tidak akan terlihat menyala (mengeluarkan pancaran sinar)
Malah bisa menyebabkan sebuah kebingungan yang menyebabkan kekacauan.
(berimbas) Kepada semua kehidupan yang mengaku aku (sebagai keturunanku itu)
Jikalau orang tersebut berlarut larut (merasa sebagai keturunanku)
(dan) ketika orang tersebut tidak segera merasa sadar (diri) dan memperbaiki diri.
(ketika “saat”(meninggal)nya nanti) dia tidak akan menemukan kesempurnaan (yang sejati)


6.
Sumartana, asma iku kaki
Sejatine sangkan paranira
Sumbering kodrat yektine
Wiji papadhang iku
Kang ambuka para linuwih
Ya Eyang-Eyangira tuk sumbering dunung
Yen sira klalen padhang uripira iki
Weruh lakuning Gesang

Terjemahan bebasnya…………..

(ingatlah) “sangat rendah hati”, itu adalah tandanya
Sebenarnya itulah yang harus engkau cari.
Sumber (yang menyebabkan) timbulnya “kodrat” yang sebenarnya.
Sumber dalam mendapatkan (sebuah) petunjuk (tentang sebuah arah)
Yang akan membuka sebuah pemikiran yang terbuka
(sehingga) dapat mempelajari kemampuan/teknologi masa lalu.
Jikalau engkau kelewatan(terlewatkan) tentang arah dari hidupmu ini.
(lihatlah selalu) Berjalannya sebuah kehidupan.

7.
Mungguh asma manungsa sajati
Dunung marang sangkan paranira
Tegese padhang lakune
Yektine nyandhi dhawuh
Kabeh sabda paringing Gusti
Iku pan tegese darma wiradating laku
Yen tan dunung marang sabda
Jeneng cidra ngaku rumangsa manungsa sejati
Dharahing Paku Buwana

Terjemahan bebasnya

Itu yang disebut sebagai menempati kodratnya sebagai manusia.
Tau akan kemana dirimu akan mengarahkan tujuanmu
Artinya, kamu menempuh sebuah hal yang tidak akan membuatmu bingung sendiri.
Bahwa sebenarnya (kita) (hanya) menjalankan perintah - Nya
Kesemuanya itu terjadi atas perintah dan kehendak Sang Pencipta.
Itulah yang sebenarnya disebut perilaku sesuai dengan kodrat yang ditetapkan (Sang Pencipta) .
Jikalau (kamu) tidak mengerti tentang sebuah hal yang menjadi sebuah kepastian.
Itulah yang disebut berbohong mengaku aku dan merasa sebagai manusia utama.
(mengaku aku sebagai) keturunan yang bisa menyetabilkan kekacauan.

8.
Wus tetela manungsa puniki
Gesangira sing karsaning suksma
Nora bisa urip dhewe
Uripe nyandhi dhawuh
Wit tan ana bisa pribadi
Marma jeneng ngawula karsaning Hyang Agung
Budine tansah meminta
Yen rumangsa mengku pati urip
Iku tan weruh tata

Terjemahan bebasnya……….

Sudah pasti terlihat pada manusia ini.
Kehidupannya selalu mengedepankan hati nuraninya.
Tidak bisa hidup sendiri
Hidupnya selalu menunggu dari sebuah kepastian kodrat (yang berlaku)
Tidak ada keinginan untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Menyerakan semuanya kepada kehendak Sang Pencipta.
Perbuatannya selalu memohon
Jikalau dapat mengerti tentang rahasia hidup dan mati.
Harus selalu mematuhi kodrat kepastian yang akan terjadi.

9.
Pratandhane dunung marang Gusti
Nora teges amung bisa kandha
Kang datan ana maknane
Makna tegese awujud
Wujud mengku tekading urip
Ya prasetyaning manah ya bebudenipun
Yen tekade nunjang palang
Ora ana piyandele marang Gusti
Hilang sipating janma

Terjemahan bebasnya………

Pertandanya (kalau) menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta.
Tidak cuman terlontar lewat kata katanya saja.
(yang) Hanya cuman kata kata yang bermakna kosong/bohong saja.
(sebuah) Kata kata yang bermakna artinya adalah sebuah hal yang sudah dialaminya (sendiri)
Sebuah pengalaman diri sendiri yang terbentuk dari tekad untuk menjalani kehidupan.
Ya diwujudkan dalam tekad (janji di dalam hati) dan perilakunya sehari hari.
Jikalau tekad didalam hatinya terombang ambing.
Tidak ada kepercayaan nya lagi terhadap kuasa dari Sang Pencipta.
Hilang lah sifat sebagai manusia


10.
Kabeh bae putuningsun sami
Kaya ngapa leganing tyasingwang
Dene wus samekta kabeh
Wawakiling Hyang Agung
Sabdaningsun mung kari siji
Samengko arep apa, apa-apa sampun,
Apa maneh yen wis apa,
Apa nora bisa apa-apa uwis,
Mesthine ora papa.

Terjemahan bebasnya…………

Untuk semuanya keturunanku.
Bagaimana rasanya lega dihatiku
Sebab semuanya sudah aku utarakan semua
Sebagai perwakilan (memberikan sebuah pentunjuk) dari Sang Pencipta
Kata – kata ku cuman kurang satu.
Ketika engkau mau (berbuat) apa, (hal tersebut) sudah ku berikan petunjuknya,
Apalagi (jikalau) engkau sudah berbuat (melaksanakannya),
(ku) Pastikan (engkau) pasti bisa melaksanakan perbuatanmu itu dengan baik,
Pastilah engkau tidak akan menjadi tercela.



11.
Teges apa, ingsun pasrah yekti
Adat waton weting paugeran
Wis atul ing pakartine
Urip pananing kalbu
Temah Aji Pramana Jati
Samesthi ora papa, iku nyatanipun
Datan mikoleh pakarya
Mung sapala mring sapanira Hyang Widdhi
Jumbuh sinapa-sapa

Terjemahan bebasnya………

Artinya adalah, aku mempercayakan kepadamu.
(asal engkau mengingat) tentang segala hal yang ku pesankan padamu.
Sudah (menjadi) ujung dari segala perbuatan terpuji.
Hidup berdasarkan (petunjuk dari) hati (yang baik/nurani)
(yang) Akan selalu dihormati (orang lain) dalam arti yang benar benar dihormati (tidak kerana cuman acara pentes pantesan gitu….)
Sudah seharusnya menjadi terhormat (kedudukannya dalam masyarakat), yaitulah sebenarnya yang terjadi.
Tidak akan dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan, (jika tidak dilakukan dengan nurani)
Hanya untuk berlaku mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Berjodoh untuk (mendapatkan jalan) dekat dengan Sang Pencipta.

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

0 Komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda