"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak" (Ar-Rahman: 37)





















Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi Muhammad ibn Abd Allah Salla Allahu ’alayhi wa alihi wa sallam
(2) Abu Bakr as-Siddiq radiya-l-Lahu ’anh
(3) Salman al-Farsi radiya-l-Lahu ’anh
(4) Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr qaddasa-l-Lahu sirrah
(5) Ja’far as-Sadiq alayhi-s-salam
(6) Tayfur Abu Yazid al-Bistami radiya-l-Lahu ’anh
(7) Abul Hassan ’Ali al-Kharqani qaddasa-l-Lahu sirrah
(8) Abu ’Ali al-Farmadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(9) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani qaddasa-l-Lahu sirrah
(10) Abul Abbas al-Khidr alayhi-s-salam
(11) Abdul Khaliq al-Ghujdawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(12) ’Arif ar-Riwakri qaddasa-l-Lahu sirrah
(13) Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(14) ’Ali ar-Ramitani qaddasa-l-Lahu sirrah
(15) Muhammad Baba as-Samasi qaddasa-l-Lahu sirrah
(16) as-Sayyid Amir Kulal qaddasa-l-Lahu sirrah
(17) Muhammad Bahaa’uddin Shah Naqshband qaddasa-l-Lahu sirrah
(18) ‘Ala’uddin al-Bukhari al-Attar qaddasa-l-Lahu sirrah
(19) Ya’quub al-Charkhi qaddasa-l-Lahu sirrah
(20) Ubaydullah al-Ahrar qaddasa-l-Lahu sirrah
(21) Muhammad az-Zahid qaddasa-l-Lahu sirrah
(22) Darwish Muhammad qaddasa-l-Lahu sirrah
(23) Muhammad Khwaja al-Amkanaki qaddasa-l-Lahu sirrah
(24) Muhammad al-Baqi bi-l-Lah qaddasa-l-Lahu sirrah
(25) Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qaddasa-l-Lahu sirrah
(26) Muhammad al-Ma’sum qaddasa-l-Lahu sirrah
(27) Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi qaddasa-l-Lahu sirrah
(28) as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(29) Shamsuddin Habib Allah qaddasa-l-Lahu sirrah
(30) ‘Abdullah ad-Dahlawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(31) Syekh Khalid al-Baghdadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(32) Syekh Ismaa’il Muhammad ash-Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(33) Khas Muhammad Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraghi qaddasa-l-Lahu sirrah
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni qaddasa-l-Lahu sirrah
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri qaddasa-l-Lahu sirrah
(37) Abuu Muhammad al-Madanii qaddasa-l-Lahu sirrah
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani qaddasa-l-Lahu sirrah

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman Sayyidanaa Mahdi Alaihis Salaam 
wa yaa Shahibal `Unshur Sayyidanaa Khidr Alaihis Salaam

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, ahsa nahdha bi-fadhlillah .
Al-Faatihah













































Mawlana Shaykh Qabbani

www.nurmuhammad.com |

 As-Sayed Nurjan MirAhmadi

 

 

 
NEW info Kunjungan Syekh Hisyam Kabbani ke Indonesia

More Mawlana's Visitting











Durood / Salawat Shareef Collection

More...
Attach...
Audio...
Info...
Academy...
أفضل الصلوات على سيد السادات للنبهاني.doc.rar (Download Afdhal Al Shalawat ala Sayyid Al Saadah)
كنوز الاسرار فى الصلاة على النبي المختار وعلى آله الأبرار.rar (Download Kunuz Al Asror)
كيفية الوصول لرؤية سيدنا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم (Download Kaifiyyah Al Wushul li ru'yah Al Rasul)
Download Dalail Khayrat in pdf





















C E R M I N * R A H S A * E L I N G * W A S P A D A

Kamis, 23 Juli 2009

Menengok Sisi Sejarah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan

Sumber : http://amir-idr.blogspot.com/

Saat ini tidak banyak yang mengetahui darimana sesungguhnya Syekh Abdul Muhyi berasal. Tapi banyak yang menyatakan Beliau berasal dari daerah setempat (Pamijahan, Karangnunggal, Tasikmalaya) atau dari Jawa. Padahal menurut seorang murid Al-Idrisiyyah yang pernah didatangi ruhani Beliau, perawakan Beliau tidak seperti orang Jawa. Beliau berambut keriting dan berkulit hitam. Salah satu keturunan Beliau adalah Ajengan Khoyr Afandi (alm., pimp. Ponpes Miftahul Huda, Manonjaya Tasikmalaya), yang kulitnya mengindikasikan hal tersebut. Satu lagi bukti kuat yang saya peroleh adalah ketika saya membaca buku sejarah Banten. Di buku itu tertulis bahwa Syekh Abdul Muhyi berasal dari Saparua (Ambon).

Syekh Abdul Muhyi hidup pada masa kejayaan Sultan Ageng Tirtayasa. Dan pernah terjadi pertemuan penting saat Syekh Yusuf Makasar (Mufti Banten waktu itu) menyingkir dari Banten hingga pesisir Selatan Jawa Barat. Terakhir sebelum diberitakan bahwa istri dan keluarganya ditangkap oleh Belanda dan ia menyerahkan diri ke Cirebon, Syekh Yusuf sedang berada di daerah Pamijahan bersama Syekh Abdul Muhyi. Di sini (di sela-sela gerilya menghadapi tentara Belanda yang didukung oleh Sultan Haji) Syekh Yusuf sempat memberikan kenang-kenangan sebuah kitab tasawuf kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Ada dua alasan mengapa keduanya begitu akrab. Pertama, satu predikat sebagai Ulama Tarekat. Keduanya pernah menimba ilmu Tarekat hingga ke negeri Aceh, yang waktu itu Ulama yang termasyhur adalah Syekh Nuruddin ar-Raniry dan Syekh Abdur Rauf Sinkly. Kemudian dikenal ajarannya sebagai ajaran Martabat Tujuh. Kedua, mereka adalah orang pendatang di tanah Jawa yang berasal dari wilayah Timur Indonesia.
Saya teringat saat mengunjungi situs Wali Allah yang berpangkat Awtad ini kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat itu saya masih senang berjalan ke sana ke mari untuk mencari wawasan dan pengetahuan tentang kondisi umat Islam di berbagai daerah khususnya tempat yang menjadi tempat tinggal atau singgah seorang Wali penyebar Dienul Islam.
Dalam perjalanan menuju gua tempat khalwat beliau, saya masih ingat betul ada tempat di mana ada larangan merokok. Anehnya, larangan itu hanya sejauh sekitar 50 meter saja. Kata orang setempat, kalau ada yang melanggar akan terjadi sesuatu yang kejadian yang tidak menguntungkan baginya. Setelah bertanya-tanya akhirnya dapatlah informasi bahwa sebab musabab adanya larangan merokok di wilayah tertentu itu, karena dahulu saat Syekh Abdul Muhyi dibimbing oleh Syekh Abdul Qadir al-Jaelani Qs. secara ruhani, di tempat itu ia merokok. Tiba-tiba perjalanannya menjadi gelap, dan ia menjadi terhijab (terhalang) dari bimbingan ruhani Gurunya tersebut. Dalam istilah Tarekat dikatakan bahwa ia telah terputus ikatan Rabithah dengan Mursyidnya. Sebelumnya ke manapun ia menghadap, selalu muncul bayangan ruhaniyah Gurunya membimbing jalan hidupnya. Akhirnya setelah ia mengintrospeksi diri, ia dapatkan jawabannya. Ya itulah, karena merokok.
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa ruhani yang suci tidak suka kepada hal-hal yang buruk. Diistimewakan bagi para pengikut Tarekat yang mengambil tali silsilah kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani Qs ini. Beliau memutuskan hubungan dengan murid yang ia cintai karena masalah ini.
Perkara merokok bisa menjadi hal yang biasa (remeh), dan bisa menjadi hal yang luar biasa bagi orang tertentu yang mengehndaki bimbingan ruhaniyah yang lurus. Dan, anehnya sisi ajaran mengenai pantangan (larangan) ini seolah tak menggema di lubuk hati pengagum Syekh Abdul Qadir Jaelani. Lebih-lebih kuncen atau orang-orang yang mengaku keturunan dari Wali Awtad ini. Bahkan, pada saat itu (mungkin saat ini) banyak yang belum memahami hikmah adanya larangan merokok di situs Pamijahan yang tiap hari dikunjungi oleh ratusan hingga ribuan orang dari pelbagai daerah.
Situs Wali itu hanya dilihat dari segi barokah duniawi semata, tapi tidak menyentuh persoalan mendasar, yakni kecenderungan kepada akhirat. Orang-orang di sekitar hanya mengambil 'keuntungan' dan menganggap hal itu sebagai barokah. Tapi ajaran larangan merokok sebagai kebersihan lahir batin tidak menjadi tekanan. Orang-orang sekitar tempat ziarah tetap bebas merokok, tak menghiraukan nilai-nilai kesucian ajaran Kewalian Syekh Pamijahan.
Ada sebuah kisah lagi yang saya ingat beberapa puluh tahun yang lalu, pernah terjadi peristiwa 'kunjungan ruhani' Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qs. pada diri seorang murid. Ketika itu si murid sedang diuji dengan sakitn istrinya yang semakin parah sehingga menyebabkan ajalnya. Saat Syekh al-Akbar akan berbicara melalui lidah seorang murid untuk memberikan petuah-petuah kami sedang berkumpul bersama (berjama'ah). Tiba-tiba salah seorang teman datang, menghampiri kami. Begitu pintu diketuk, kami jawab salamnya. Setelah itu kami menunggu-nunggu wejangan dari Syekh al-Akbar, tapi tidak muncul-muncul.
Selesai pertemuan itu, saya bertanya mengapa Syekh al-Akbar tidak jadi berbicara? Jawab si murid yang akan didatangi ruhani tersebut, 'Sebenarnya Beliau sudah datang dan siap untuk memberikan pencerahan kepada kita, tapi Beliau pergi lagi karena ada orang yang masih belum bersih (masih merokok, red) datang. Akhirnya Beliau menghindar, karena ruhani suci itu tidak bisa menyatu dengan yang kotor (najis)'. Sebab telah dimaklum bahwa rokok itu berasal dari kencing iblis.
Tidak ada hubungan lahir yang bersambung antara Syekh al-Akbar dan Syekh Abdul Muhyi, karena mereka bukan sezaman. Juga tidak ada pertemuan tertentu keduanya untuk mengungkapkan bahwa merokok itu adalah hijab besar jasmaniyah dan ruhaniyah. Tapi, dalam dunia Kewalian baik Syekh al-Akbar mupun Syekh Abdul Qadir Jaelani keduanya bukanlah dua kubu yang berbeda. Tapi satu atap dalam sistem atau tatanan Birokrasi Ilahiyyah. Yang membedakan hanyalah masa. Dan yang menyamakan adalah kesatuan konsep kepemimpinan Ilahiyyah. Dan itu dibuktikan pada sisi sejarah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan mengenai adanya larangan merokok.
Wallaahul Haadi Ilaa Shirotim Mustaqiim.

Syech Haji Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya (1650-1730)
Sumber :http://www.tasikonline.com/

Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.


Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.



Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.


Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.


Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru jawa Barat.


Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.



Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.


Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.


Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.



Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.



Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah, hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).



Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah Swt.


Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)



Syaikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan

Sumber :http://aadany-khan.blogspot.com/



{1650 – 1730M /1071 - 1151H}
Tasawuf Martabat Alam Tujuh

Abstrak
Hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada Allah, berbaktilah kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu, hormati dan muliakanlah tamumu, bicaralah dengan benar, senangkanlah orang lain, sekalipun kamu tidak dapat menyenangkan orang, janganlah kamu sedikit berbuat yang dapat menyusahkan orang, kasihanilah orang yang kecil hormati orang yang besar dan hargailah sesamamu,
............ hiduplah di dunia ini seakan mau melintasi jurang yang penuh dengan duri ....

{Wasiat Syekh Abdul Muhyi kepada putra-putri dan istri-istrinya sebelum malaikat maut menjemputnya}

Genealogi Syekh Abdul Muhyi
Berbeda dengan tokoh-tokoh sufi Melayu lainnya, aspek kesejarahan Syekh Abdul Muhyi sampai sekarang masih belum tuntas diungkapkan, baik riwayat hidup maupun perannya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Hal itu salah satunya disebabkan oleh kesulitan memperoleh sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan tokoh tersebut. Kalaupun ada, sebagian besar masih berada di tangan penduduk atau tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa misalnya di Leiden, Belanda.

Bersumber dari naskah Kitab Istiqlal Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah tersebut dapat diketahui bahwa Syekh Abdul Muhyi dari pihak ibu adalah keturunan Nabi sedangkan dari pihak bapak adalah keturunan raja-raja Jawa khususnya dari kerajaan Galuh (Jawa Barat). Penarikan garis keturunan ke atas ini tampaknya dimaksudkan untuk memberikan legitimasi ketokohannya sebagai ulama. Tetapi kepentingan teks tersebut bukan terletak pada kebenaran sumber sejarah, tetapi harus dilihat sebagai trend sejarah para wali yang senantiasa menarik garis keturunan pada Rasulullah. Karena kecenderungan ini, para sosiolog kerap memandangnya sebagai keturunan spiritual; sebab sang wali berperan sebagai penerus risalah nabi.

Inti genealogi Kitab Istiqlal Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah terletak pada dua tokoh: selain Syekh Abdul Muhyi sendiri yang diberi gelar Safaril Wadin Pamijahan, dan juga Kanjeng Dalem Tumenggung Wiradadaha, Bupati Sukapara (nama lama Kabupaten Tasikmalaya) yang hidup sezaman. Perbedaannya, yang pertama memainkan peran sebagai ulama sedangkan yang kedua lebih berperan sebagai penguasa (umara).

Untuk memperkuat perannya sebagai ulama, di dalam naskah Kitab Istiqlal Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah disebutkan ada tiga guru tarekat yang diwarisi tasawuf Pamijahan yaitu: Abdul Qadir Jaelani, Abdul Jabbar dan Abdul Rauf Singkel. Apabila Abdul Qadir Jaelani disebut sebagai ‘wali awal’, maka Abdul Muhyi dianggap sebagai ‘wali penutup’. Kedudukan ini memang dibuktikan oleh kenyataan bahwa setelah wafatnya, keturunan Abdul Muhyi tidak lagi menggunakan gelar Syekh. Istilah ‘wali penutup’ memang menjadi pertanyaan, sebab dalam sejarah Islam wali akan tetap ada setiap zaman, tetapi hanya para ‘wali’ yang mengetahui keberadaan seorang ‘wali’.

Yang penting dari naskah itu dapat dicatat dua hal, pertama keturunan Nabi dan kedua keturunan raja. Di dalam naskah Kitab Istiqlal Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah disebutkan bahwa sebagai ‘keturunan’ nabi dirinya merupakan keturunan ke-26 dihitung dari Fatimah. Dengan begitu kedudukannya sebagai ulama menjadi kuat, karena ia adalah keturunan nabi dari garis Husein, putera Fatimah. Hal itu didukung pula oleh keterangan bahwa Syekh Abdul Muhyi juga adalah murid Syekh Abdul Rauf Singkel, salah seorang ulama Aceh terkemuka pada abad XVII yang dimakamkan di Kuala Aceh dan terkenal sebagai guru tarekat Satariyah. Lebih dari itu, dilihat dari genealoginya, Syekh Abdul Rauf Singkel juga keturunan Nabi yang ke-13 dari garis Hasan, putera Fatimah. Pada cabang inilah terdapat Abdul Qadir Jaelani al-Bagdadi yang terkenal sebagai penggagas tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Derajat kewalian Syekh Abdul Muhyi semakin kuat, karena antara Nabi dan dirinya terdapat urutan tokoh yang menjadi salah satu dari ‘Wali Songo’, yaitu Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Sebagai keturunan raja, Kitab Istiqlal Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah tidak banyak menyebutkan garis silsilah bapak, tetapi dijelaskan di dalam naskah lain yang disebut Sejarah Sukapura, yaitu dari Ratu Galuh. Ayah Syekh Abdul Muhyi yang bernama Lebe Warta kusumah adalah keturunan ke-6 dari Ratu Galuh. Perkawinan Lebe Warta dengan Sembah Ajeng Tanganziah melahirkan dua orang anak: pertama adalah Syekh Abdul Muhyi dan kedua adalah Nyai Kodrat (menjadi isteri Khotib Muwahid). Dari Khotib Muwahid ini Syekh Abdul Muhyi mempunyai hubungan kekerabatan tidak langsung dengan Sultan Pajang, Pangeran Adiwijaya (Jaka Tingkir), karena yang terakhir ini merupakan leluhur Sembah Khotib Muwahid.

Syiar Islam dan Tradisi Ziarah Kubur
Berbeda dengan riwayat keturunannya, aktivitas keagamaan Syekh Abdul Muhyi tidak banyak informasi diperoleh. Dalam kedudukannya sebagai penyebar Islam, kisahnya sulit dilacak. Hal ini barangkali disebabkan karena pada umumnya para ulama, apalagi jika ia telah mencapai derajat ‘wali’, hal-hal yang bersifat popularitas sangat dihindari, sehingga kehidupan keagamaannya selalu berkembang dari legenda ke legenda dan dari mitos ke mitos.

Demikian pula dengan Syekh Abdul Muhyi. Kebanyakan informasi diperoleh dari legenda-legenda atau tradisi lisan masyarakat Pamijahan atau para murid dan penganut disiplin Satariyah. Dalam tradisi setempat, Abdul Muhyi datang ke Pamijahan melalui Darma Kuningan. Pengetahuan agamanya diperoleh setelah berguru kepada Sunan Giri. Kemudian dilanjutkan dengan berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkel di Aceh, yang memungkinkannya sampai di Bagdad dan berhasil mewarisi ajaran Abdul Qadir Jaelani. Sekembalinya ke tanah air, ia diperintahkan gurunya di Aceh untuk menemukan sebuah gua yang serupa dengan gua tempat tarekatnya Abdul Qadir Jaelani. Setelah bertahun-tahun menelusuri daerah pedalalaman Jawa Barat bagian tenggara, akhirnya ia sampai di Pamijahan. Gua yang ditemukannya di desa itu diberi nama Munajat, dan mendirikan kampung dinamai Saparwadi. Tetapi di kemudian hari kampung itu lebih dikenal dengan nama Pamijahan; istilah yang diberikan untuk menandai kedatangan banyaknya peziarah seperti ikan yang bertelur di gua Saparwadi.

Secara umum, bisa dikatakan bahwa syiar Islam dilakukan dengan melalui jalan tasawuf. Mula-mula memperkenalkan tarekat Qadiriyah; sebuah aliran yang banyak dikenal di Tanah Sunda sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya manuskrip tarekat ini. Namun kemudian ajaran tersebut semakin mengkristal menjadi Tarekat Mu’tabarah Syatariyah. Ajaran ini ditandai oleh berbagai varian cara pendekatan diri kepada Sang Pencipta yang rupanya amat sesuai dengan tradisi lama masyarakat Sunda.

Sayangnya ini tidak menemukan bukti pesantren tertua di Pamijahan, namun jika penyebaran Islam dilakukan melalui jalan tasawuf, artinya telah terjalin hubungan kekerabatan spiritual antara sang guru dan muridnya. Melalui murid-murid tarekat itulah kemudian ajaran Islam berkembang. Cara seperti ini sudah tentu memberikan kemungkinan meluasnya jaringan Islam dalam metode yang homogen. Dan dari setiap murid itulah akan tercipta kutub-kutub pengajaran Islam lainnya, yang meskipun tetap terfokus pada pusat suci Pamijahan, pusat-pusat penyebaran lainnya dikesankan sebagai satelit-satelit yang mengelilingi sistem tata surya dari pusat cahayanya. Dan pusat cahaya yang pertama itu sendiri sesungguhnya menjadi satelit dari kutub suci utamanya di Mekah.

Praktek keagamaan dari tarekat ini tercermin pada perilaku ziarah di Pamijahan, seperti halnya juga dilakukan di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Menurut Viviane Sukanda-Tessier pada tahun 1991, pada prinsipnya, dalam ritual tersebut para peziarah meyakini bahwa ziarah (tawaf) di kompleks makam Sunan Gunung Jati dan Syekh Datuk Kahfi, Cirebon sama nilainya dengan pergi haji ke tanah suci Mekkah. Demikian pula, ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi dan dilanjutkan dengan penerebosan gua Saparwadi, dianggap ekivalen dengan pergi haji ke Mekkah. Anggapan ini direpresentasikan oleh tingkat keistimewaannya dalam penetrasi gua Saparwadi. Kecuali mengandung sifat-sifat keajaiban alam juga mengandung nilai mistis.

Keistimewaan itu pertama-tama terletak pada kesukaran ketika memasuki dan mencari jalan keluarnya. Setelah berada di dalam gua, orang dapat menemukan tempat keramat / pertapaan yang konon merupakan warisan Syekh Abdul Muhyi seperti jalan ghaib menunju berbagai jurusan: Mekah, Madinah, Cirebon, Banten, dan Surabaya (Gresik).

Dalam prakteknya, ziarah pada umumnya dipandu oleh kuncen (juru kunci). Para peziarah membaca al-Quran, surat al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, istighfar, shalawat, mengingat jasa guru dan zikir, yang seterusnya memanjatkan doa. Termasuk ke dalam disiplin ini, di daerah inti Pamijahan terdapat beberapa perilaku yang wajib ditaati pengunjung, seperti dilarang merokok, naik sepeda atau motor.

Keberadaan institusi pakuncenan pada kenyataanya bukan sekedar ‘juru kunci’ yang melayani prosesi ziarah, tetapi sekaligus penjaga tradisi baku yang berlaku di Pamijahan. Antisipasi masyarakat Pamijahan pun telah mendukung meningkatnya kegiatan ziarah tahunan. Popularitas Pamijahan semakin hari semakin luas tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga seluruh Jawa. Seperti juga makam para wali lainnya di pesisir utara Jawa, Pamijahan selalu menarik puluhan ribu pengunjung pada setiap kalender hari raya Islam tahunan.

Hikmah besar ini sekarang dirasakan amat positif bagi dinamika kehidupan masyarakat Pamijahan. Harus diakui, keramat Pamijahan sekarang menjadi salah satu sektor pendapatan masyarakat yang penting, dan sudah tentu mendukung peningkatan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya.

Pemikiran Tasawuf Martabat Alam Tujuh
Dalam tradisi Tasawuf yang kelak nantinya diikuti oleh pengikutnya, maka Syekh Abdul Muhyi dengan Tarekat yang ditempuhnya ialah tarekat Mu’tabarah Syatariyah ini akan memberi suatu pemikiran tentang ajaran Martabat Alam Tujuh, yang disebut Martabat Alam Tujuh ini adalah sesuatu yang mengajak manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan (Taqarub Ila Allah). Diantaranya adalah; Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah (tertuju kepada sang khaliq), Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam (tertuju terhadap Alam), dan Alam Insan (tertuju kepada manusia).

Sejalan dengan konsep wujudiyyat Ibnu ‘Arabi dan al-Jilli di atas, Muhammad bin Fadhlallah al-Burhanpuri mencetuskan konsep wujudiyyat yang dikenal dengan “Martabat alam Tujuh”. Menurutnya, wujud Allah itu untuk dapat dikenal melalui tujuh martabat (tingkatan).
Martabat pertama, adalah martabat al-lata’ayyun yang disebut ahadiyyat, yaitu esensi Tuhan yang mutlak tanpa nama dan sifat, sehingga tak nampak dan tak terkenal siapa pun.
Martabat kedua, adalah martabat al-ta’ayyun al-awwal (penampakan yang pertama) yang disebut wahdat. Penampakan esensi Tuhan pada tingkat ini berupa Hakikat Muhammad (al-haqiqat al-Muhammadiyyat) yang diartikan sebagai ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta secara global tanpa pembedaan yang satu dari yang lain.
Martabat ketiga, adalah al-ta’ayyun al-tsani (penampakan kedua) yang disebut wahidiyyat dalam rupa Hakikat Insan (al-haqiqat al-insaniyyat), yakni ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta ini secara terinci dan pembedaan yang satu dari yang lain, atas jalan perceraian.

Tiga martabat tersebut, menurut al-Burhanpuri semuanya bersifat qadim dan ‘azali, karena martabat yang tiga ini ketika itu tiada ada yang mawjud, melainkan Dzat Allah SWT dan sifat-sifat-Nya, sedangkan sekalian makhluk ketika itu adalah mawjud di dalam ilmu Allah, belum lahir dalam wujud kharij (luar).

Selanjutnya, martabat keempat, dinamakan ‘alam arwah dan disebut juga Nur Muhammad SAW, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus semata. Ruh Tunggal yang merupakan asal ruh semua makhluk.
Martabat kelima, disebut ‘alam mitsal, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus, yakni diferensiasi dari Nur Muhammad tersebut dalam rupa ruh perorangan, yang dapat ditamsilkan “laut” selaku alam ruh melahirkan dirinya dalam bentuk “ombak” sebagai ‘alam mitsal.
Martabat keenam, disebut sebagai ‘alam ajzam, yaitu alam benda-benda yang kasar, yang tersusun serta berbeda-beda antara yang satu dan yang lainnya.
Martabat ketujuh, adalah martabat insan atau alam paripurna, yang padanya terhimpun segenap martabat yang sebelumnya, sehingga martabat ini disebut tajalli (penampakan) yang kemudian sekali.

Itulah tujuh martabat wujud Allah menurut al-Burhanpuri, yang dipelajarinya oleh Syekh Abdul Muhyi sekaligus murid dari Abdul Rauf Singkle. dan yang pertama dari tujuh martabat itu adalah sumber martabat bagi penampakan Allah, yang enam martabat lainnya adalah martabat-martabat penampakan Allah yang kulli (global).
Adapun martabat yang terakhir, yakni martabat insan dinamakan insan kamil, jika naik meningkat segenap martabat yang lain tampak serta terpancar di dalamnya. Puncak insan kamil yang paling sempurna terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW, penutup segala nabi-nabi. Demikianlah konsep martabat tujuh menurut pencetus yakni Muhammad bi Fadhallah al-Burhanpuri.

Kesemua ini merupakan hasil dari kitab al-Tufat di Jawa, yang di ikuti oleh Syekh Abdul Muhyi dan mengajarkan martabat alam tujuh. Kalau ini di teliti lebih lanjut sangat panjang uraiannya karena harus mengikuti alur sejarah yang harus di jalani dan ini tidaklah cukup satu hari mempelajari tasawuf martabat alam tujuh.

Pengamalan Tarekat
Setelah gua ditemukan maka Syekh Abdul Muhyi bermukimlah beliau di dalam gua beserta keluarganya dan para pengikutnya, di sana beliau mendidik santri-santrinya dengan penuh ketekunan dan kesabaran sehingga mereka benar-benar sudah menjadi muslim yang penuh dengan ilmu pengetahuan agama disamping itu beliau selalu suluk (istilah kewalian) menempuh keridhaan Allah dengan jalan Tarekat. Tarekat yang ditempuhnya ialah tarekat Mu’tabarah Syatariyah, ada pendapat lain bahwa beliau mendapat pangkat kewaliannya itu dengan mengamalkan Tarekat Nabawiyah.

Pendapat yang masyhur ajaran beliau hingga mencapai suluk kewaliannya dengan Tarekat Mu’tabarah Syatariyah, yang silsilah keguruan atau kemursyidannya hingga Rasulullah SAW.

Setelah sekian lama beliau mendidik santrinya di dalam gua, beliau mempersilahkan mereka untuk membantu menyebarkan agama Islam, dan mulai itulah beliau turut ke alam terbuka bersama santrinya yang telah dapat dipercaya. Berangkatlah beliau menuju tempat sebelah timur dengan menyelusuri hutan-hutan yang lebat turun gunug naik gunung, pasir-pasir dilaluinya dan jurang pun diseberanginya, bila telah berjalan, panas terik menyengatnya maka berteduhlah di bawah pohon-pohon yang besar sambil berlindung dari keganasan binatang-binatang buas.

Kesimpulan
Pengumpulan data lapangan di Pamijahan, dengan segala keterbatasan data yang diperoleh, setidaknya telah mengisi kekosongan pengetahuan berkenaan dengan pengkultusan orang-orang suci Islam seperti misalnya Syekh Abdul Muhyi. Dengan penelitian ini sedikit kesulitan saya untuk memahami mentalitas dan religiusitas Islam di pedalaman Jawa Barat dapat diminimalkan. Dengan begitu, dalam mencermati gejala-gejala yang kerap dikategorikan sebagai ‘penyimpangan’ teologis, atau bahkan juga sejenis pengisolasian diri dari realitas-realitas kehidupan yang penuh dengan tantangan, dapat segera memunculkan isu akademik untuk mengkajinya secara lebih objektif.

Dengan terungkapnya semua fenomena kekeramatan Pamijahan yang telah nyata menjadi sumber magnet ziarah keagamaan, ‘ongkos’ yang bisa dikembalikan diharapkan berupa pengayaan kualitas ziarah yang telah memberi nuansa signifikan bagi pariwisata budaya spesifik dalam ranah keagamaan Islam. Konsep yang nanti bisa dikembangkan bagi segmen kegiatan itu sudah tentu mengarah pada pengisian entitas-entitas budaya Indonesia sebagai, memang semestinya, ‘payung’ bagi pengembangan pariwisata daerah.

Keberadaan makam dan tempatnya melakukan tarekat di Gua Saparwadi, di tepi sungai Pamijahan, telah menjadi bukti kongkrit dari akhir perjalanan hidupnya yang diabdikan untuk menyebarkan ajaran agama dan menjaga moral masyarakat yang pada waktu itu sedang berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Belanda setelah kekalahan Kesultanan Mataram.

Beberapa pakar telah mencoba mengungkapkan pentingnya situs Pamijahan ini sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Dari segi arkeologis, sudah tentu daerah aliran sungai Cipamijahan dan cabang-cabangnya harus tetap diwaspadai sebagai lokasi hunian purba, yang mungkin sudah berlangsung sejak zaman prasejarah. Namun hasil penelitian ini baru memperoleh data-data awal tentang okupasi situs sejak awal abad XVII Masehi, setelah masyarakat setempat memeluk Islam.

Sesungguhnya bentang alam Pamijahan tidak ada yang istimewa, karena di hampir semua tempat di pegunungan selatan banyak ditemukan gua-gua alam, baik berupa ceruk dangkal ataupun rongga besar yang mengandung air atau mungkin bekas aliran sungai bawah tanah. Tetapi justeru karena kedatangan Syekh Abdul Muhyi dan kegiatan da’wahnya di tempat itu, menyebabkan Pamijahan menjadi penting. Unsur-unsur alam yang semula hanya sebagai sumber air yang digunakan bagi keperluan irigasi persawahan, dan bukit-bukit terjal yang rimbun justeru semakin menjadi pendukung berfungsinya tempat itu sebagai salah satu pusat kekeramatan.

Dua elemen penting dengan demikian menjadi faktor menentukan bagi keberlangsungan kegiatan wisata ziarah: alam itu sendiri dan keberadaan sang ‘wali’. Beberapa informasi lisan telah memberikan data pengunjung yang luar biasa besarnya; terutama pada hari besar Islam seperti bulan Rabbi’ul Awwal (kelahiran Nabi), bulan Sya’ban (menjelang ibadah ramadhan) dan bulan Muharram (tahun baru Hijriyah), peziarah bisa mencapai 20-30 ribu orang dalam rentang dua sampai tiga hari berturut-turut. Besarnya jumlah pengunjung sudah tentu membawa dampak luas bagi kehidupan ekonomi setempat, tetapi bisa juga memberi dampak negatif: menurunnya daya dukung alam, ketersediaan air bersih misalnya dan ketergantungan umum pada ekonomi ziarah.

Wassalam,

Cilangkap, 31Okt. 07

Sumber;

ﷲ Drs. H. AA. Khaerussalam, Sejarah Perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan, cet XI, (Pamijahan, 2005)

ﷲ Wawancara langsung dengan K.H. A. Beben M.D. {Pengurus Harian Kekeramatan Pamijahan}

ﷲ Prof. Dr. Moh. Ardani, Warisan Intelektual Islam; abd-muhyi (martabat alam tujuh), artikel diluncurkan pada seminar pengaruh Islam terhadap budaya jawa, 31 November 2000





Figure 4. A page from Kitab Istiqal Tarekat Qadiriyyah-Naqshabandiyyah

Source :http://www.pdf-search-online.com

Shalawat Ummiyyah

Sumber : http://amir-idr.blogspot.com/

إِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَـتَه يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ
يَآ أَيـُّهَا الَّذيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
************
Shighat Sholawat Ummiyah
اللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلى ألِه وَصَحْبِه وَسَلِّمْ
Yaa Allah sampaikanlah shalawat atas pemimpin kami, Muhammad SAW, seorang Nabi yang Ummiy, dan atas keluarga dan para sahabatnya.

Syekh Muhammad Nafis bin Idris al Banjari mengatakan bahwa gurunya Al ‘Alim ‘Allamah al Fadhil al Kamil Mukammal al ‘Arif Billah Maulana as Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari sewaktu beliau di Masjidil Haram tahun 1201 H. berkata: “Tidak tersembunyi jalan yang sampai kepada Allah itu, mengikuti Syekh-syekh saja, seperti dugaan sebagian orang yang bertasawuf selain jalan Syekh ada juga bisa sampai tapi menurut biasanya ialah mengikuti jalan Syekh. Allah menyampaikan hambaNya barang siapa yang dikehendakiNya. Sebagian yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala itu ialah membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW. Barang siapa mengekali membaca sholawat ini:
اللهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ الأُمِّيّ وَعَلى ألِه وَصَحْبِه وَسَلِّمْ
Sebanyak sepuluh ribu kali setiap malam, selama 2 (dua) tahun maka dia akan sampai kepada Allah. Tetapi jangan sampai diniatkan untuk sampai kepada Allah, karena seseorang tidak akan sampai kepada Allah kalau di dalam hatinya ada lintasan demikian”.
Diambil dari Buku: Perkembangan ilmu Tashawuf & tokoh-tokohnya di Nusantara, Hawash Abdullah, hal.118-119, Al Ikhlas Surabaya.



Sholawat Fatihiyyah (Shalawat Pembuka)

Sumber : http://amir-idr.blogspot.com/

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ, وَالْهَادِيْ إِلىَ صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ, وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Yaa Allah sampaikanlah shalawat dan salam serta berkahilah atas pemimpin dan pelindung kami, Muhammad SAW, pembuka perkara-perkara yang tertutup, dan penutup apa-apa yang terdahulu, Penolong Haq (kebenaran) dengan Haq (Kebenaran), Penunjuk kepada jalan Engkau yang lurus. Dan atas keluarga beliau, dengan sebenar-benar nilai dan ukurannya yang penuh dengan Keagungan.

Keutamaan Sholawat Fatihiyyah (Sholawat Pembuka)
Shighat Sholawat Fatihiyyah ini dinisbahkan kepada Sayyidi Muhammad al Bakri Rahimahullah. Disebutkkan bahwasanya barangsiapa membaca sholawat ini sekali dalam hiddupnya, niscaya masuk syurga. Para pemimpin Shufi di Maghrib (Maroko) mengatakan bahwa sholawat tersebut turun atas beliau (Sy. Al Bakri) dalam bentuk tulisan (lembaran) dari Allah. Jika membacanya sekali sebanding dengan pahala 6X (kali) khatam Quran, demikianlah Nabi SAW mengabarkan kepadaku, kata Syaikh Al Bakri.
Di antara kelebihannya adalah membacanya sekali menandingi 10.000 sholawat, ada yang mengatakan 600.000 sholawat. Barang siapa malaziminya selama 10 hari, niscaya diampuni oleh Allah SWT daripada segala dosa. Barang siapa membacanya pada malam Kamis atau Jum’at atau Senin, menyertai / berkumpul ia dengan Nabi SAW. Dan membacanya setelah sholat 4 raka’at. Raka’at awal membaca Al Qadr 3X, raka’at kedua membaca Al Jalzalah 3X, raka’at keetiga membaca Al Kafirun 3X dan pada raka’at keempat membaca Al
Mu’awwidzatain 3X. Membacanya lebih utama menggunakan wangi-wangian.
(Diambil dari Afdholus Sholawat, Sy. Yusuf an Nabhani)



Al Fatiha

 Print Halaman Ini

0 Komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda