"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak" (Ar-Rahman: 37)





















Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi Muhammad ibn Abd Allah Salla Allahu ’alayhi wa alihi wa sallam
(2) Abu Bakr as-Siddiq radiya-l-Lahu ’anh
(3) Salman al-Farsi radiya-l-Lahu ’anh
(4) Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr qaddasa-l-Lahu sirrah
(5) Ja’far as-Sadiq alayhi-s-salam
(6) Tayfur Abu Yazid al-Bistami radiya-l-Lahu ’anh
(7) Abul Hassan ’Ali al-Kharqani qaddasa-l-Lahu sirrah
(8) Abu ’Ali al-Farmadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(9) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani qaddasa-l-Lahu sirrah
(10) Abul Abbas al-Khidr alayhi-s-salam
(11) Abdul Khaliq al-Ghujdawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(12) ’Arif ar-Riwakri qaddasa-l-Lahu sirrah
(13) Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(14) ’Ali ar-Ramitani qaddasa-l-Lahu sirrah
(15) Muhammad Baba as-Samasi qaddasa-l-Lahu sirrah
(16) as-Sayyid Amir Kulal qaddasa-l-Lahu sirrah
(17) Muhammad Bahaa’uddin Shah Naqshband qaddasa-l-Lahu sirrah
(18) ‘Ala’uddin al-Bukhari al-Attar qaddasa-l-Lahu sirrah
(19) Ya’quub al-Charkhi qaddasa-l-Lahu sirrah
(20) Ubaydullah al-Ahrar qaddasa-l-Lahu sirrah
(21) Muhammad az-Zahid qaddasa-l-Lahu sirrah
(22) Darwish Muhammad qaddasa-l-Lahu sirrah
(23) Muhammad Khwaja al-Amkanaki qaddasa-l-Lahu sirrah
(24) Muhammad al-Baqi bi-l-Lah qaddasa-l-Lahu sirrah
(25) Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qaddasa-l-Lahu sirrah
(26) Muhammad al-Ma’sum qaddasa-l-Lahu sirrah
(27) Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi qaddasa-l-Lahu sirrah
(28) as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani qaddasa-l-Lahu sirrah
(29) Shamsuddin Habib Allah qaddasa-l-Lahu sirrah
(30) ‘Abdullah ad-Dahlawi qaddasa-l-Lahu sirrah
(31) Syekh Khalid al-Baghdadi qaddasa-l-Lahu sirrah
(32) Syekh Ismaa’il Muhammad ash-Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(33) Khas Muhammad Shirwani qaddasa-l-Lahu sirrah
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraghi qaddasa-l-Lahu sirrah
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni qaddasa-l-Lahu sirrah
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri qaddasa-l-Lahu sirrah
(37) Abuu Muhammad al-Madanii qaddasa-l-Lahu sirrah
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani qaddasa-l-Lahu sirrah
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani qaddasa-l-Lahu sirrah

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman Sayyidanaa Mahdi Alaihis Salaam 
wa yaa Shahibal `Unshur Sayyidanaa Khidr Alaihis Salaam

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, ahsa nahdha bi-fadhlillah .
Al-Faatihah













































Mawlana Shaykh Qabbani

www.nurmuhammad.com |

 As-Sayed Nurjan MirAhmadi

 

 

 
NEW info Kunjungan Syekh Hisyam Kabbani ke Indonesia

More Mawlana's Visitting











Durood / Salawat Shareef Collection

More...
Attach...
Audio...
Info...
Academy...
أفضل الصلوات على سيد السادات للنبهاني.doc.rar (Download Afdhal Al Shalawat ala Sayyid Al Saadah)
كنوز الاسرار فى الصلاة على النبي المختار وعلى آله الأبرار.rar (Download Kunuz Al Asror)
كيفية الوصول لرؤية سيدنا الرسول محمد صلى الله عليه وسلم (Download Kaifiyyah Al Wushul li ru'yah Al Rasul)
Download Dalail Khayrat in pdf





















C E R M I N * R A H S A * E L I N G * W A S P A D A

Sabtu, 08 Maret 2008

Jangan Sakiti Siapapun

Suhbat Tanggal 17 Februari 2008

Jangan Sakiti Siapapun
Mawlana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani (qs)
Zawiyah Oakland


Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad hatta yarda Sayyidina Muhammad.
Kami terpukau dengan apa yang Grandsyaikh atau Mawlana Syaikh pernah katakan bahwa satu kata atau satu halaman yang mereka katakan dapat kau tuliskan sebanyak ribuan dan ribuan halaman dari apa yang mereka katakan pada satu halaman.

Allah tidak menciptakan suatu makhluk untuk menyakiti manusia. Menyakiti makhluk lain tidaklah Allah sukai.

Apa yang dibukakan kepada awliyaullah adalah samudera dari satu kata atau satu kalimat Burdah : kau bukakan cahaya-cahaya. Itu memukau pikiran.

Spiritualititas adalah dengan mencicipi. Kecintaan kepada sang Nabi (saw) lewat mencicipi. Seperti aliran listrik pada lampu-lampu dan kau dapat melihatnya, namun saat menyentuhnya kau dapat merasakan seberapa besar energi yang ada sehingga akan mengagetkanmu. Loncatan energi itu akan membuatmu koma selama beberapa saat atau mungkin membunuhmu.

Awliyaullah melalui kesungguhan dan keshalehan mereka, kita bicara banyak mengenai kesungguhan dan keshalehan, tetapi apakah kita bersungguh-sungguh atau shaleh? Tidak.
Kesungguhan dan keshalehan Syaikh Yasser bukan dengan lidah, kesungguhan atau keshalehan adalah dengan emosi yang dengannya seluruh tubuhmu akan berguncang meminta cinta kepada seorang yang dicintai. Seperti seseorang yang mencintai orang lain, dia selalu memikirkan tentang kekasihnya.


Jadi, sang Nabi (saw) selalu berada dalam Mi'raj, kenaikan, kepada sang Kekasih.
Kepada Allah swt. Cinta beliau tidak pernah berhenti. Kini, sebagai contoh: ketika manusia mencintai seseorang dan mereka tidak bisa menggapai orang tersebut maka mereka mempunyai emosi itu, cinta, dan selalu, selalu, selalu memikirkannya namun saat mereka berteme maka emosi itu berkurang.

Namun dalam spiritualitas emosi itu meningkat. Ketika bersama, ketika mereka mendekat seperti semakin mendekatnya awliyaullah ke hadirat sang Nabi (saw), cinta mereka meningkat. Saat sang Nabi (saw) melakukan Mi'raj semakin beliau mendekat dengan sang Kekasih, maka cinta beliau semakin naik tidak pernah berkurang. Banyak orang bicara tentang cinta dengan gampangnya, cinta dalam makna spiritualitas begitu mudahnya. [Seperti jika] mengunyah permen/gula-gula, sesuatu yang sederhana.
Namun dalam kenyataan spiritual tidaklah semudah itu. Kau harus terus memakan gula-gula [spiritual], jangan berhenti.

Ketika kau makan sesendok madu, apa yang terjadi? Kau menyukainya. Kau ambil lagi, dan rasanya enak, lalu lagi dan lagi. Lalu apa yang terjadi? Akhirnya kau kenyang. Spiritualitas bukanlah seperti itu. Spiritualitas adalah kau tetap makan madu. Namun dalam spiritualitas, mereka mengangkatmu ke tingkat yang lebih tinggi dimana disana ada permen jenis lain yang tidak serupa dengan permen pertama dan lalu permen jenis lain dan lain dan kau pun naik makin tinggi dan tinggi.

Jadi cinta kepada sang Nabi (saw) adalah jenis spiritualitas yang selalu naik (Mi'raj), ini seperti listrik - kau dapat merasakannya. Ini bukan yang kau cari, kau mencari cahaya bukan hanya mencicipi manisnya namun kau akan merasakan cinta itu dan energi itu datang dari Sayyidina Muhammad (saw). Saat naik dalam tingkat-tingkat "mencicipi dan manis", kau akan merasakan semakin meningkatnya cinta yang kau rasakan, cinta kepada sang Nabi (saw). Awliyaullah ada dalam kenaikan itu. Itu yang mereka rasakan. Mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka. Itulah mengapa mereka tidak duduk bersama orang-orang karena mereka tidak bisa. Mereka tidak bisa duduk bersama orang-orang karena hati mereka bersama Allah, hati mereka bersama sang Nabi (saw); karena orang-orang akan mengalihkan keberadaannya. Lalu mereka akan kehilangan dimana mereka berada, pada posisi itu.

Hanya mukamaliin atau mukamaluun, al-Kummal, hanya bagi mereka yang sudah mencapai kesempurnaan; mereka mewarisinya dari sang Nabi (saw) [dalam hadits itu] lii sa`atun ma al-khaliq was lii sa`atun ma al-khalq - Aku memiliki satu wajah, satu sisi [atau satu jam] bersama Tuhan-ku dan satu sisi [atau satu jam] bersama manusia.
Jadi beliau ada pada 2 sisi ini, satu di Hadirat Ilahiah, satunya bicara dengan manusia, dari sinilah mereka mewarisinya.

Oleh karenanya manusia, … sebelum jenis ajaran ini, bagaimanakah mereka saat ini mengajari anak-anak menghafal Qur'an sejak masa kanak-kanak? Masihkah? Dan kini di Amerika, mereka berkata kepadamu "Bawalah anak-anak dan kami akan mengajari mereka menghafal Qur'an." Sebelumnya [dimasa lalu], sebelum menghafal Qur'an, mereka biasa menghafal segala jenis puisi tentang kecintaan kepada sang Nabi (saw). Kemudian saat mereka berusia 12 tahun, mulailah diajarkan tentang spiritualitas, tasawwuf. Kini hal itu tidak terlihat lagi.
Oleh karenanya kini mereka lebih bijaksana dalam masalah dunya; mereka lebih sekuler dalam pemahaman, jadi saat kau melihat apa yang diajarkan kepada anak-anak oleh orang tua mereka, saat kau melihat apa yang diajarkan oleh para guru, mereka pergi ke sekolah dan ke masjid yang mana didalamnya tidak ada hal lain yang dipikirkan kecuali politik. Aspek ini tidaklah ada. Itulah kenapa mereka keluar di Wilayah Teluk dan berkata, "Tidak ada lagi

awliya. Mereka sudah musnah."

Awliya ada disana namun kau begitu butanya sehingga tidak bisa melihat.
وَمَن كَانَ فِي هَـذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِي
Wa man kaana fii haadzihii dunya a'maa fa huwa fil-aakhirati a'maa wa adhallu sabiilaa.

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). [Al Israa' (17):72]

Awliyaullah dimasa lalu dan awliya masa kini mempunyai gaya berbeda.
Awliyaullah tahu bahwa Allah tidak menciptakan apapun untuk menyakiti para hamba-Nya. Dengan menghindari dari menyakiti hamba Allah akan menaikkanmu

Dan Grandsyaikh berkata bahwa Allah berfirman, "Aku mengumumkan perang kepada siapapun yang memusuhi para hamba-Ku." Inn Allah la yarda li `ibadihi adh-dhulm - Allah tidak menerima penganiayaan kepada para hamba-Nya.



Saat kini kita menganiaya diri kita sendiri. Ketika Allah berfirman jangan menganiaya, bagaimana cara kita menganiiaya diri kita sendiri? Dengan tidak shalat. Dengan tidak menggunakan apa yang telah Allah berikan kepada kira. Orang-orang sangat sulit melakukan shalat. Mereka lupa membaca Qur'an. Setidaknya bacalah satu halaman Qur'an atau satu juz. Mereka lupa membaca surat ini atau surat itu. Apakah ini? Kehidupanmu seperti seekor binatang. Kini orang-orang hanya memikirkan kehidupan materi, kehidupan binatang. Adakah yang lainnya? Tidak ada. Mereka tidak lagi tertarik kepada kehidupan beragama.

Perhatikan apa yang beliau jelaskan dalam puisinya, Muhammad al-Busayri dalam puisinya, meletakkan... al-Burda.
Beliau menuliskan نبينا الامر الناهي فلا احد ابر في قول "ل" ولا"نعم - nabiyuna al-aamiru an-naahi - Nabi kita adalah seorang pemimpin, aamir, yang memberikan perintah, dan nahi, apa yang dilarang."
Fala ahadun abbara fee qawlin "lam" wa la "na`m" - tidak ada yang lebih baik dari beliau yang berkata 'tidak' atau yang berkata 'ya'.
Hanya beliaulah ketika mengatakan 'tidak' adalah berarti 'tidak' dan ketika berkata 'ya' berarti 'ya'.

Itu artinya ketika beliau berjanji bahwa hal ini 'ya', dan saat beliau mengucap 'tidak' tetaplah bermakna 'tidak'.
Beliau menuliskan نبينا الامر الناهي"" - "Nabiyuna al-aamirun-naahi - Nabi (saw) kita adalah yang memberi perintah dan larangan." Itu artinya kita berada dibawah batas-batas perintah dan larangan. Apa yang mereka perintahkan harus kita turuti dan apa yang mereka larang harus dihentikan.

Sangat sederhana, Grandsyaikh pernah berkata bahwa Allah, "Allah mengumumkan perang kepada siapapun yang memusuhi para hamba-Ku." Dan beliau menjelaskan "Allah tidak suka siapapun menyakiti para hamba-Nya. Saat kau menyakiti para hamba-Nya, Dia mengumumkan perang kepadamu."



Berapa banyak dari kita yang menyakiti istri dan berapa banyak istri yang menyakiti suaminya? Kedua belah pihak. Dalam satu kata, hal tersebut bisa terjadi. Kau mungkin berkata satu kata yang tidak enak.

Mengapa mereka mempunyai diplomat ditiap negara, duta-duta besar? Mereka diajarkan berdiplomasi dengan menggunakan kata-kata yang sangat diplomasi agar tidak membuat semua orang naik darah.

Tasawwuf mengajari kita hal tersebut. Jangan menggunakan kata-kata yang kasar. Dalam tasawwuf, mereka biasa mengajarkan anak berusia 12 tahun semua kata-kata halus, 200-300 buah kata, agar tidak membuat orang lain marah. Apakah hal itu diajarkan lagi sekarang ini? Tidak, ajaran itu sudah hilang.

Jadi apa yang beliau katakan? "Nabi kita adalah seseorang yang memberi perintah dan larangan." Apakah kita mengikuti perintah-perintah beliau? Jika iya alhamdulillah. Apakah kita patuh untuk berhenti membangkang atau melakukan hal-hal yang tidak beliau sukai? Jika tidak maka kita harus berusaha menyempurnakan diri kita sendiri semampunya.

Dan beliau berkata, نبينا الامر الناهي فلا احد ابر في قول "ل" ولا"نعم"
fa la ahadaun abarrah fee qawl 'lam' wa la 'na`m'.


Berapa kalikah sang Nabi (saw) berkata 'tidak' dalam hidupnya dan berapa kalikah beliau mengucap 'ya'? Sang Nabi (saw) berkata 'tidak' di satu tempat dan berkata 'ya' dibanyak tempat. Dimana beliau berkata 'tidak'? dan dia berkata. "Ma qaala la qattan -beliau tidak pernah berkata 'tidak' selama hidupnya kecuali dalam syahadah - Illa fii syahadatihi."
Hanya sewaktu mengucap itulah beliau berkata 'tidak'. ma qaala la, qattun illa fii tasyahudihi.
Kecuali ketika beliau mengucap syahadah - Asyhadu an La ilaha ill-Allah - satu kali. Berapa banyakkah ketika seseorang minta sesuatu kepada kita dan kita berkata 'tidak'?

Baru saja mereka berargumentasi, sebelum kau datang. "La, la, tidak, tidak," mereka berargumentasi, sebagai sebuah contoh.
Wa la n`am qattun illa wa ja'ahu ni`am – "Tidak pernah beliau berkata 'ya' kecuali datanglah rahmat dan pahala."

Beliau tidak pernah menyangkal apapun. Hanya satu hal dalam hidup beliau yang disangkal yaitu tidak menyekutukan apapun dengan Allah. [Untuk sisa semuanya] beliau berkata 'ya',
dan dengannya Allah melimpahkan pada manusia semua jenis rahmat. Jadi bagaimana memperoleh pemahaman ayat itu, baris puisi itu? Didalamnya adalah harta karun para murid.

Ketika Muhammad al-Busayri berkata, نبينا الامر الناهي nabiyuna al-aamirun-naahiyu. Itu artinya beliaulah yang dapat berkata tidak boleh melakukan sesuatu kepada seorang.
Bashiirun wa nadhiirun. Beliaulah satu-satunya, beliau memberikan kabar gembira dan peringatan. Hanya beliau satu-satunya yang memberikan perintah. Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita harus mendengarkan perintah-perintah beliau. Apakah perintah beliau?


Pada masa Grandsyaikh, semoga Allah merahmati jiwanya, kita kembali ke masa Grandsyaikh, kami masih muda. Dan beliau biasa mengucapkan banyak hal. Beliau berkata, "Aku hanya mempunyai 2 orang murid." Dua orang murid? Grandsyaikh mempunyai murid ratusan dan ribuan orang. Dari semua yang beliau katakan "Aku mempunyai 2 orang: Mawlana Syaikh Nazim dan Mawlana Syaikh Husayn."
Apakah maksud beliau? Inilah yang penting. Apakah makna penting dari ayat: nabiyuna al-aamirun-naahiyu.

[Beliau berkata:] "Mengapa aku mempunyai 2 orang murid? Karena jika dikatakan sesuatu kepada mereka, mereka akan menerimanya tanpa keraguan dan keseganan, bidun taraddud. Aku minta apapun kepada mereka, mereka akan melakukannya tanpa keseganan."
Itu artinya dia mewarisi rahasia, dia mewarisinya rahasia al-aamiru wan-nahiyu dari sang Nabi (saw).

Ketika Grandsyaikh bicara, ketika mulutnya terbuka untuk bicara, setiap wali harus mendengarkan. Allah… Mereka mempunyai headset spiritual, headset surgawi, yang telah Allah berikan kepada awliya-Nya. Beliau berkata, "Aku satu-satunya yang diijinkan oleh sang Nabi (saw) untuk bicara pada zaman ini dan awliya dimanapun wajib mendengarkan. Bukan hanya awliya namun ta'ifatul-jinn dengan rajanya harus mendengarkan. Karena aku mewarisi rahasia itu dari sang Nabi (saw)."
Setetes dari samudera itu adalah bersama sang Nabi (saw). Awliya memperoleh setetes.
Beliau berkata, "Aku hanya kran yang dapat bicara dari tingkat itu. Seluruh awliya harus mendengarkan apa yang aku katakan."

Jika kita membahas apa yang beliau katakan, aku membawa satu buku catatan, jika kita membahas tiap malam, ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami karena melampaui pikiran/nalar. Kau akan paham namun akan terkejut bahwa hal seperti itu memang ada. Beliau memperolehnya dari sang Nabi (saw), min al-amr wan-nahiyy dari apa yang telah diperintahkan dan apa yang dilarang.
Beliau berkata, "Aku mempunyai 2 orang murid." [Kemudian] Bagaimana dengan sisanya? [Murid sejati] adalah dia yang tidak mempunyai keraguan kepada Syaikhnya. Yang lain mungkin berkata, "Bisa saja benar, bisa salah." [Murid sejati adalah] seperti Abu Bakr ash-Shiddiq. Tanpa syak [keraguan]. Kapan pun sang Nabi (saw) bicara, dia akan berkata, "sadaqta ya rasulullah [kau bicara yang sesuangguhnya Nabi Allah]!" Saat sang Syaikh bicara apapun, jangan bertanya.


Aku berada di Indonesia, bersama Mawlana Syaikh tahun 2001, pertama kali Mawlana datang ke Indonesia. Dan alhamdulillah kami mempunyai banyak pengikut disana.
Ratusan ribu. Dan sebelum beliau datang, aku sudah datang sebanyak 5 atau 6 kali.
Dan mereka punya satu slot untukku pada sebuah program TV sebelum waktu Fajr, dan itu siaran langsung, dan kemudian aku bicara dan mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan.

Jadi, ketika aku datang, mereka bertanya apakah Mawlana dapat turut datang ke studio dan siaran itu merupakan siaran langsung dan kami berada disana pada waktu Fajr; kami shalat Fajr dan lalu acara dimulai. Jadi Mawlana berkata 'ya'. Dan aku bicara dengan si pewawancara. Aku berkata, "Aku disini, jadi Mawlana akan mengambil alih seluruhnya, kau bertanya, apapun. Aku tidak akan bicara didepan Mawlana."

Dia berkata, "Jangan, orang-orang menginginkan anda. Jadi, kita bagi, kami bertanya kepada anda dan beliau."
Jadi, mereka memperkenalkan Mawlana sebagai "Syaikh dari Syaikh Hisyam", se[erti yang mereka tahu siapa aku dan kemudian sebagai "Syaikh Thariqah Naqsybandi yang Termasyur." Kemudian mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Mawlana. Dan kau tahu, ini siaran langsung. Lalu dia [pewawancara] bertanya, "Syaikh Hisyam kami, kami ingin bertanya sebuah pertanyaan kepada sang Syaikh."

Mawlana menatapnya dan berkata, "Ketika aku disini, maka tidak ada Syaikh; dia tidak akan bicara didepanku."
Jadi aku memberitahukan kepada pewawancara agar hati-hati. Kini siaran langsung, dipancarkan kemana-mana di Malaysia dan Indonesia. Apakah yang dilakukan? Tetap diam, menyelamatkan situasi. Dan si pewawancara malu dan aku malu.
Kemudian seseorang menelpon [berkata,] "Aku ingin bertanya." Mawlana berkata, saat siaran TV langsung, "Ketika sang Syaikh bicara tidak seorangpun bertanya. Aku bicara dan kau dengarkan!"

Kemudian pewawancara bertanya, "Kami mempunyai pertanyaan lain." Lalu Mawlana berkata, "Pertanyaan, berikan kepada Syaikh Hisyam."

Syaikh al-Azhar-Mesir, saat kami bicara tidak seorangpun diijinkan bertanya. Kau ingat ketika kita bertemu Syaikh Buhairi dan pergi ke kediaman Dr. Zaki bersama Syaikh Ahmad Aamir? Apakah yang dikatakan oleh Syaikh Buhairi? Beliau berkata, "Saat para Syaikh dari al-Azhar berada disini, tidak seorangpun melontarkan pertanyaan!"

Adab [tata krama yang baik], adalah tidak bertanya meski satu pertanyaan pun. Sang Nabi (saw) tidak pernah melontarkan pertanyaan dalam Qur'an Suci. Beliau tidak pernah berkata 'tidak' kecuali dalam syahadah.
Banyak nabi lain yang bertanya, contohnya Sayyidina Musa (as).
Jadi, awliyaullah dari pengetahuan dan dari cinta, mereka mengambilnya dari sang Nabi (saw). Bagi mereka haqiqat-haqiqat terbuka dan tingkat-tingkat pemahaman baru akan diberikan dan mereka akan terus naik, naik, naik tidak pernah berdiam disatu tempat. Mereka selalu bergerak. Sehingga Grandsyaikh biasa berkata, "Jangan melawan Allah."
Bagaimana caranya melawan Allah? HanyaNimrod yang berperang [secara fisik], melemparkan anak-anak panah. Lalu Allah mengirimkan seekor elang, seekor burung dan dia melihat darah pada anak-anak panah [anak panah itu mengenai elang dan elangpun meluncur turun] dan dia berkata, "Oh aku telah membunuh-Nya." Itulah yang dia bunuh, apapun itu.

That is he killed whatever it was.

Jadi artinya, "Jangan menyakiti para hamba-Ku. Jangan mencemarkan nama baik mereka. Jangan berkomplot melawan siapapun. Perlihatkan tingkah laku yang baik kepada semua orang." Kau ingin Allah senang, Allah senang ketika kau membuat senang para hamba-Nya. Semoga Allah ridho dengan kita dan membuat kita ridho dengan para hamba-Nya, membuat sang Nabi (saw) ridho dengan kita dan membuat syuyukh kita ridho dengan kita.



786,

Salaam,

Awliya Electric Shock
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani | Sunday, Feb 17, 2008 | Oakland, CA US

----------------------------------------------------------
Suhbat – Harm No One
Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
02-17-2008
Oakland

Allahum salli `ala Sayyidina Muhammad hatta yarda Sayyidina Muhammad.
We are stunned at what Grandshaykh or Mawlana Shaykh said, that one
word or one page they said you can write thousands and thousands of
pages of what they said on that one page.

Allah has not created anything that has harm to human beings. Harming
others Allah does not like.

What opens to awliyaullah it is oceans from one word or one sentence
of the Burdah you open lights. It stuns the mind.

Spirituality is by taste. The love to the Prophet is through taste.
Like electricity in the lights it is going through and you can see it,
but when you touch it you can feel really how much energy there is as
it will shock you. It might throw you into coma for some time or it
might kill you.

Awliyaullah when they are through their sincerity and piety, we speak
about sincerity and piety a lot but are we sincere or pious? No.
Sincerity and piety Shaykh Yasser is not by tongue, it is by emotion
that your whole body will be shaking asking for the love to the one
that has to be loved.
Like someone loves someone, he is always thinking or she is always
thinking about his lover or her lover.

So the Prophet (s) is always in the Mi'raj, ascension, to the lover.
To Allah swt. His love never stops. Now for example human beings when
they love someone and they cannot reach that person they have that
emotion, love, and think always, always, always but when they are
together it becomes less.

But in spirituality it increases. When come together, when they
approach, as much as awliyaullah approach the presence of the Prophet
(saw) their love is increasing. When the Prophet (saw) went in Mi'raj
as he came closer and closer his love was in ascension, ever going
less. People speak of love so easily, of spirituality so easily. [As
if it was] Like eating sweets something simple.
But in reality spiritually it is not easy like that. You have to keep
eating [spiritual] sweets, not stopping.

When you eat honey you eat one spoon what happens. You love it. You
take another, and it is good, then another and then another. What
happens? At end you are full - fed up.
Spirituality is not like that. Spirituality is you keep eating honey.
But in spirituality they take you to a higher level, where there is
another kinds of sweet which does not resemble the first sweet and
then another kind and another kind ad you are going higher and higher.

So the love to the Prophet (saw) this kind of spirituality that is
always increasing in ascension, it is like electricity - you feel it.
It is not you are looking, you are seeing the light but it is not only
you are tasting their sweetness but you are going to feel that love
and that energy that is coming from Sayyidina Muhammad (saw). As you
go up in levels in the taste and sweetness you are going to feel that
increase in love that you are feeling, love of Prophet (saw). The
awliyaullah are in that ascension that they are feeling that. They
cannot control themselves. That is why they don't sit with people
because they can't take it. they cannot sit with people because their
heart is with allah, their heart is with the Prophet (saw); because
they will be diverted from where they are. Then they will be missing
what they are in, in that state.

Only mukamaleen or mukamaloon, al-Kummal, only those are reached the
perfection; they inherit from the Prophet (saw) [in that hadith] lee
sa`atun ma al-khaliq was lee sa`atun ma al-khalq - I have one image,
one side [or one hour] with my Lord and one side[or one hour] with the
people.
So he was on these two sides, one in the Divine Presence, one speaking
with people they inherit from that reality.

Therefore people, … before this kind of teaching. How do they teach
today children to memorize Qur'an since childhood? is it not? And
still today in America, they say to you "bring the children and we
teach the children to memorize Qur'an." Before [in the past], before
memorizing Quran, they used to memorize all kinds of poetry on love of
the Prophet. Then when they become 12 year of age they begin to teach
them spirituality, tasawwuf. Now we don't see that.
Today therefore people are more dunya-wise in; they are more secular
in their understanding, so when you see what was taught them by their
parents, when you see what was taught them by their teachers, they go
to school and they go to mosques where there is nothing but politics
they think that this [aspect] does not exist. That is why they came
out in the Bay Area and said, "There is no more awliya. They are gone
finished."

The awliya are there, but you are so blind you cannot see.
وَمَن كَانَ فِي هَـذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِي
Wa man kaana fee hadhihi'd-dunya `aama fa-huwa fi'l-akhirati `aama wa
adalloo sabeela.

For whoever is blind [of heart] in this [world] will be blind in the
life to come [as well], and still farther astray from the path [of
truth]. You are not studying that. [17:72]

Awliyaullah of past and awliya of today have different style.
Awliyaullah know that Allah didn't create anything that harms his
servants. By avoiding harming servant Allah will raise you.

And Grandshaykh said that Allah said, "I will declare war on anyone
who declares war on My servants." Inn Allah la yarda li `ibadihi
adh-dhulm - Allah does not accept to his servants any oppression.
Today we are oppressing our selves. When Allah says not to oppress,
how do we oppress ourselves? By not praying. By not using what Allah
has given us. People find it very difficult to pray. They miss reading
the Qur'an. Read at least one page of Qur'an or one juz. They forget
to recite this surah, or that surah. What is this? Your life is like
an animal. Today people think only of material life, animal life. Is
there anything else. Nothing else.
They are no longer interested in any religious life.

Look what he was explaining in his poetry, Muhammad al-Busayri in his
poetry, who put the... al-Burda.
He said نبينا الامر الناهي فلا احد ابر في قول "ل" ولا"نعم"" - nabiyuna
al-aamiru an-naahi - Our Prophet is the one who commands, aamir,
ordered, and nahi, who forbids."
Fala ahadun abbara fee qawlin "lam" wa la "na`m" - there is no one
better than him who said 'no' or who said 'yes'.
He is the only one that when he says 'no' it is a 'no' and when he
says 'yes' it is a 'yes'.

That means when he promises it is 'yes', and when he says 'no' it is 'no'.
He said نبينا الامر الناهي"" - "Nabiyuna al-aamirun-naahi - Our
Prophet (s) is he who orders and forbids." That means we are under
limits of orders and forbiddens. What they order us we have to follow
and what they forbid us we have to stop.
Very simple, Grandshaykh said that Allah said, "Allah is declaring war
on anyone who harms His servants." and he is explaining "Allah does
not like anyone to harm His servants. When you harm His servants He is
declaring war on you."
How many of us are harming our wives and how many wives are harming
their husbands? Both sides. In one word it might happen. You might say
one word that is not nice.
Why do they have in every country diplomats, ambassadors? They teach
them to be diplomatic to use very diplomatic words in order not to
make anyone upset.
Tasawwuf teaches us that. Not to use a rude word. In tasawwuf they
used to teach a child of 12 years all these soft words, 200-300 words,
in order not to make anyone upset. Is that teaching there anymore? No,
it is gone.
So what did he say? "Our Prophet is the one who order and forbids."
Are we following his orders? If so then alhamdulillah. Are we
following to stop disobeying or doing things that he doesn't like? If
not then we must try to perfect ourselves as much as we can.

And he said, نبينا الامر الناهي فلا احد ابر في قول "ل" ولا"نعم"
fa la ahadaun abarrah fee qawl 'lam' wa la na`m.
How many times the Prophet (s) said in his life 'no' and how many
times 'yes'? The Prophet (s) said 'no' in one place and he said 'yes'
in many places. Where he said 'no'? and he says. "Ma qaala la qattan
-he never said 'no' in his life except in his shahada - Illa fee
shahadatihi."
Only there he said 'no'. ma qaala la, qattun illa fee tashahudihi.
Except when he said shahada - Ashadu an La ilaha ill-Allah - one
place. How many times when someone asks us something we say 'no'?

Just now they were arguing, before you came. "La, la, no, no," they
were arguing, as an example.
Wa la n`am qattun illa wa ja'ahu ni`am – "Never did he said 'yes'
except that came mercy and provisions."
He never denied one thing. The only one thing in his life [was] denied
to associate anything with Allah. [For all] The rest he said "yes",
and with it Allah showered on human beings all kinds of mercy.
So how to reach to understand that verse, that line of poetry? In it
are treasures of discipline.

When he said, نبينا الامر الناهي nabiyuna al-aamirun-naahiyu. That
means he is the one who can say to someone not to do something.
Basheerun wa nadheerun. He is the only one, he gives good tidings and
warning. He is the only one who gives orders. So what do we have to do
then? We have to listen to his orders then.
What are his orders?

In Grandshaykh's time, may Allah bless his soul, we go back to
Grandshaykh's time, we were young. And he used to say many things. He
said "I have two students only." Two students? Grandshaykh has
hundreds and thousands of students. From all that [he said:] "I have
two: Mawlana Shaykh Nazim and Mawlana Shaykh Husayn."
What does he mean? That is what is important. What is important from
that verse: nabiyuna al-aamirun-naahiyu.

[He said:] "Why do I have two? Because If is say anything to them they
will accept without any doubt and without any hesitation, bidun
taraddud. I ask them anything, they will do it [accept it] without
hesitation."
It means he is inheriting the secret, he is inheriting from the
Prophet (s) the secret of al-aamiru wan-nahiyu.

Grandshaykh when he speaks when he opens his mouth to talk, every wali
has to listen. Allah… They have these headsets spiritual, heavenly
headsets , that Allah gave his awliya. He said " I am the only one
allowed by the Prophet (s) to speak in this time and wherever they are
awliya are obliged to listen. Not only awliya but ta'ifatul-jinn with
their king must listen. Because I am inhering that secret from the
Prophet (s)."
A drop of it, the ocean is with the Prophet (s). Awliya gets a drop.
He said, "I am the only tap that can speak from that level. All awliya
have to listen to what I am saying."

If we go through what he is saying, I brought one notebook from that,
if we go through every n ight there are tings we cannot understand it
it is beyond the mind. You will understand it but you will be
surprised does such thing exist. He is getting from the Prophet (s),
min al-amr wan-nahiyy from what is ordered and what is prevented.
He said, "I have two students." [Then] What about all the rest? [The
true student] He is the one who has no doubt in his shaykh. Others
might say, "it might be correct, it might not." [The true student is]
Like Abu Bakr as-Siddiq. No shak [doubt]. Whenever the Prophet (s)
says anything, he would say, "sadaqta ya rasulullah [you spoke the
truth of Prophet of Allah]!" When the shaykh says anything no
question.
I was in Indonesia, with Mawlana shaykh in 2001, first time Mawlana
went to Indonesia. And alhamdulillah we have a lot of followers there.
Hundreds of thousands. And before him I used to go five or six times.
And they have a slot for me on a TV program before Fajr time, and that
is a live show, and then I speak and they give questions.
So when I came they asked me if Mawlana can come along to the studio
and it will be live and we will be there at Fajr time; we pray Fajr
and then we begin. So Mawlana said "yes". And so I spoke with the
interviewer. I said, "I am here so Mawlana will take the whole, you
ask, whatever. I will not speak in front of Mawlana." He said, "No ,
the people want you. So we share, we ask you and ask him."
So they introduced Mawlana as "the Shaykh of Shaykh Hisham", as they
know me and then as "Master of the most distinguished Naqshbandi
Order." Then they asked Mawlana questions. And it is live you know.
Then he [the interviewer] said, "our shaykh Hisham, we would like to
ask the shaykh a question. " Mawlana looked at him and said, "When I
am here there is no shaykh here; he will not talk in front of me."
So I told that interviewer to be careful. Now it is live, going
everywhere in Malaysia and Indonesia. What to do? Keep quiet, save the
situation. And the interviewer got embarrassed and I got embarrassed.
Then someone called in [saying,] "I want to ask a question." Mawlana
said, on live TV, "When the Shaykh speak s no one asks questions. I
speak and you listen!"

Then interviewer said, "We have another question." Then Mawlana said,
"Questions, give them to Shaykh Hisham."

The Shaykh al-Azhar of Egypt, when they speak no one is allowed to ask
a question. You remember when we had Shaykh Buhairi and we went to Dr.
Zaki's along with Shaykh Ahmad Aamir? What did Shaykh Buhairi say? He
said, "When shaykhs from al-Azhar are here no one asks a question!"

Adab [good manners], is not to ask a question. The Prophet (s) never
asked a question in the Holy Qur'an. He never said "no" except in
shahada.
Many other prophets they asked, look at Sayyidina Musa (as).
So awliyaullah from knowledge and from love they take from the Prophet
(s). For them realities are opened and new understanding levels which
will be given to them and they will keep going up, up, up never
staying in one place. Always they are moving. So Grandshaykh used to
say "Don't fight Allah."
How to fight Allah? Only Nimrod was fighting [physically], shooting
arrows. Then Allah sent one eagle, a bird, and he saw blood on the
arrows [the arrows went through the eagle and it fell down] and he
said, "O I killed Him." That is he killed whatever it was.

So it means "Don't harm My servants. Don't backbite them. Don't make
conspiracy against anyone. Show nice behavior to everyone." You want
Allah to be happy, Allah is happy when you make His servants happy.
May Allah be happy with us and make us happy with His servants, make
the Prophet (s) happy with us and make our shuyukh happy with us.

sumber : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com

Al Fatiha

 Print Halaman Ini

0 Komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda