Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya

Kami menciptakan kamu secara main-main?”

(Al-Quran Surah Al-Mukminun [23] : 115)

Allah menciptakan segala sesuatu itu tidak main-main, atau dengan kata lain Allah mencipta mempunyai tujuan yang bukanlah mengharapkan sesuatu pun dari ciptaan-Nya, apalagi mengharapkan keuntungan. Di dalam sebuah puisi Persia yang populer di katakan,”Tiadalah Kumencipta untuk memperoleh keuntungan apa pun, namun Kuciptakan manusia, untuk menunjukkan Kemurahan-Ku”. 1]

ALLAH TIDAK MENCINTAI KECUALI DIRINYA SENDIRI

Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, karena itu Aku rindu (ahbabtu) untuk dikenal. Maka Aku ciptakanlah makhluk, sehingga melalui-Ku mereka mengenal-Ku2]

Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi mengatakan,”Allah tidak mencintai selain Diri-Nya sendiri di dalam makhluk ciptaan. Dia adalah Zat yang tampak di dalam diri setiap kekasih bagi mata setiap pecinta, dan tidak ada yang lain di dalam makhluk ciptaan kecuali pecinta. Seluruh dunia adalah pecinta sekaligus yang dicintai, dan semuanya akan kembali kepada-Nya” 3]

Cinta Ilahi terkandung di dalam Diri-Nya yang mencintai kita demi diri kita dan demi Diri-Nya sendiri. Sepanjang Dia mencintai kita demi Diri-Nya sendiri, yakni firman-Nya : “Aku cinta untuk dikenal, maka aku ciptakan dunia agar aku bisa dikenal mereka, sehingga mereka mengenal-Ku.” Jadi Dia menciptakan kita hanya untuk Diri-Nya sendiri, agar kita mengenal-Nya … Sedangkan cinta-Nya kepada kita demi diri kita, yakni karena kita bisa mengenal-Nya dari amal yang membawa kita kepada kebahagiaan sejati kita dan menjauhkan kita dari segala hal yang tidak konsisten dengan tujuan kita atau tidak selaras dengan disposisi alamiah kita. Dia menciptakan makhluk agar ia dapat mengagungkan-Nya. 4]

Dengan demikian, cinta Tuhan kepada makhluk-Nya merupakan cinta-Nya kepada esensi-Nya karena segala yang maujud bersumber dari-Nya.

Karena itulah dikatakan oleh banyak kalangan kaum ‘urafa atau sufi bahwa Allah mencipta didasarkan oleh rasa cinta-Nya. Dari pernyataan hadits tersebut muncul pertanyaan: untuk apa Tuhan rindu (ahbabtu) untuk dikenal? Tentu saja bukan berarti Tuhan berhasrat untuk menjadi terkenal (famous) Yang paling bisa dipahami dari tujuan Dia mencipta adalah karena sifat-sifat-Nya seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijak, Maha Kuasa serta sifat-sifat lainnya membutuhkan obyek untuk merealisasikan sifat-sifat Ketuhanan-Nya itu. Tanpa obyek untuk dikasihi dan disayangi, Dia tidak dapat disebut sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang (al-Rahman dan al-Rahim). Tanpa obyek untuk diberikan rezeki, Dia pun tak dapat disebut sebagai Maha Pemberi Rezeki, begitu juga Sifat al-Waduud-nya, Tanpa obyek cinta, Dia tidak bisa disebut sebagai Maha Mencinta dan Mengasihi (al-Waduud). Oleh karena itulah Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa nama-nama-Nya yang indah itu tidak lain daripada hubungan-hubungan. (Al-Futuhat al-Makkiyyah 4 : 294) Yaitu yang menghubungkan al-Haqq (Sang Pencipta) dan al-khalq (ciptaan-Nya), atau dengan kata yang lebih tepat : Yang Mencinta dan Yang Dicinta. Inilah hakikat dan tujuan dari penciptaan, yaitu bahwa Dia ingin menyatakan semua kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan yang terutama adalah Cinta-Nya. Cinta dan Kasih, keduanya membutuhkan hubungan, yakni kebutuhan kepada “sesuatu yang lain” 5]

Cinta Tuhan kepada manusia adalah agar kita mengenal-Nya, yang dengan mengenal-Nya manusia dapat pula mengenal cinta-Nya. Pengenalan terhadap cinta Tuhan inilah yang merupakan tujuan dari penciptaan manusia dan alam semesta, sehingga manusia tidak hanya bisa mengenal cinta-Nya, tetapi juga merasakan “keseluruhan” cinta-Nya, sehingga manusia mendapatkan “manfaat” dari pengalamannya mencintai Tuhan. Dengan demikian, akhir “manfaat” dari penciptaan, hakikatnya, tidak kembali kepada Tuhan, melainkan kembali kepada manusia itu sendiri.

Wahai manusia! Kamulah yang butuh (faqir) kepada Allah. Dan (sebaliknya) Allah Dia-lah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji” (Al-Quran Surah Fathir [35] : 15)

Rumi bersyair :

Tuhan tidak bertambah dengan mewujudkan alam semesta,

Dia tidak berubah karena itu,

Hanya akibat-akibat yang bertambah ketika Dia

menjadikan wujud : di antara dua tambahan terjadi perbedaan.

Bertambahnya akibat-akibat, menjadikan-Nya terjewantah,

Sehingga sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya terpahami.

(Matsnawi IV 1666-69)

Allah SwT berfirman di dalam sebuah Hadits Qudsi, ”Wahai anak Adam! Semua orang memerlukan kamu untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi Aku memerlukan kamu untuk kepentingan kamu sendiri. Namun mengapa kamu menjauhi-Ku?” 6] Teks hadits lainnya,”Wahai anak Adam! Telah Kuciptakan segala sesuatu demi kebutuhanmu. Tapi Aku ciptakan engkau untuk diri-Ku sendiri” 7]

Tuhan berfirman :

Aku adalah Perbendaharaan yang tersembunyi,

karenanya Aku ingin dikenal!

Dengan kata lain :

Aku ciptakan semesta alam,

agar Aku dapat menyatakan Diri,

kadang melelui Kelembutan(Luthf)-Ku,

di lain waktu dengan Penaklukan (Qahr)-Ku,

Tuhan bukanlah raja yang cukup dengan satu bentara,

sekali pun seluruh atom adalah bentara-Nya,

takkan jua memadai-Nya.

Seluruh ciptaan menjadikan Tuhan dikenal siang dan malam,

ada yang mengetahui, tapi banyak pula yang tiada memahami,

tapi Dia menyatakan Diri, itu pasti.

Seperti seorang pangeran yang memerintahkan

menjatuhkan hukuman bagi seeorang,

manakala telah terdengar teriakan dan jeritan orang-orang,

ketika itu perintahnya menjadi nyata!

(Rumi, Fihi Ma Fihi 176-177/184-185)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki

1. Mahnaz Heydarpoor, Perspectives on the Concept of Love in Islam, Ahlul Bayt Digital Islamic Library Project Team.

2. Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah 2 : 232, 399

3. Futuhat al-Makkiyyah 2 : 326

4. Ibid 2 : 327

5. Ibid 2 : 310)

6. Futuhat al-Makkiyyah 4 ; KH. Firdaus AN, 325 Hadits Qudsi Pilihan, hal. 8, Penerbit CV. Pedoman Ilmu Jaya, Cet. VII, 1990.

7. Murtadha Muthahhari, Tema Tema Pokok Nahj al-Balaghah, hal. 204.


sumber : http://qitori.wordpress.com/2007/05/07/karena-cinta-tuhan-mencipta/